Abdul Muthalib, Penggali Sumur Zamzam yang Tak Gentar

Abdul Muthalib, kakeknya Baginda Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, adalah sosok yang mulia, dermawan dan lemah lembut. Dialah orang yang sering memberi makan burung-burung di kawasan Mekkah.

Kejadian terpenting dalam kehidupan dan kepemimpinan Abdul Muthalib di Mekkah adalah peristiwa penyerangan Mekkah oleh Abrahah dan penggalian kembali sumur Zamzam.

Seperti diriwayatkan oleh Baihaqiy dalam Dalail al–Nubuwwah, dari Ali bin Abi Thalib. Bahwa Abdul Muthalib berkali-kali bermimpi ditemui oleh sosok yang memerintahkannya menggali sumur. Setelah beberapa saat dan nampaklah seakan mimpi itu benar dengan petunjuk jelas akan letaknya, maka Abdul Muthalib segera menggali di tempat yang ditentukan. Abdul Muthalib menggali bersama anak satu-satunya ketika itu, Al Harits. Ketika menjumpai sumber air, Abdul Muthalib bertakbir. Segeralah kaum Quraisy tahu bahwa Abdul Muthalib yang sebelumnya mereka acuhkan, telah mendapat sumber air.

Kaum Quraisy yang berkerumun kemudian ngotot agar mereka bisa ikut memiliki kepemilikan sumur tua tersebut. Perdebatan terjadi sengit, sementara kaum Quraisy bersikukuh hendak ikut memiliki. Sedangkan Abdul Muthalib berniat, agar sumur bisa digunakan untuk kepentingan umum, seperti penyediaan air minum bagi para haji.

Ketika musyawarah buntu, mereka pun bersepakat untuk membawa sengketa itu ke seorang dukun bijak dari Bani Sa’d, Hudzaim. Tempatnya yang berada di timur Syam. Abdul Muthalib ditemani 20 orang dari Bani Abdi Manaf, sedangkan kaum Quraisy juga membawa 20 orang dari perwakilan beberapa kabilah.

Ketika mendekati Syam, dalam gurun yang tandus. Perbekalan air rombongan Abdul Muthalib telah tandas. Mereka kehabisan perbekalan air. Maka, mereka pun meminta bantuan dari rombongan kaum Quraisy. Namun Abdul Muthalib malah mendapat jawaban penolakan kaum Quraiys, “Sesungguhnya kami beruntung, dan kami takkan memberi kalian air, karena kami akan kehabisan air jika kami berikan air kami.”

Abdul Muthalib kembali kepada kaumnya dengan tangan kosong, dan bertanya, “Apa pendapat kalian, apa yang harus kita perbuat?”

Kaumnya menjawab, “Kami mengikuti apapun perintahmu, maka perintahkanlah kami apa yang anda kehendaki,” jawab kaumnya pasrah. Ada usulan, agar selama mereka mempunyai kekuatan, maka mereka harus menggali lubang untuk kuburnya. Sehingga jika seseorang telah meninggal, maka saudara lain yang masih hidup agar meletakkan jasad saudaranya yang telah meninggal ke lubang yang telah digalinya. Begitu seterusnya, hingga tersisa seorang saja dari mereka. Ini lebih baik, menurut mereka, daripada jasad mereka harus tergeletak tak terurus semua. Mereka pun duduk sambil menunggu maut.

Keputusan kaumnya yang pasrah dan hendak menunggu maut begitu saja, tak bisa diterima oleh Abdul Muthalib. Ia justru bangkit dan berseru penuh keyakinan, “Wallah, demi Allah! Sesungguhnya kita takkan menyerah pada maut. Kita harus terus berjuang dan berusaha, kita pasti mampu. Semoga Allah memberi kita air di tempat lain. Ayolah kita bergerak.”

Maka Abdul Muthalib bergerak menuju tunggangannya dan menaikinya. Ketika kaki tunggangannya bangkit dari tanah, tetiba air menyembur dari sisi bawahnya. Bertakbirlah Abdul Muthalib, disusul oleh segenap rombongannya.

Mereka pun minum beramai-ramai. Abdul Muthalib pun mengundang kabilah Quraisy yang telah acuh kepada mereka, kiranya rombongan itu mengisi air mereka agar tidak kehabisan perbekalan air minum. “Kami telah diberi minum oleh Allah,” ujar Abdul Muthalib.

Kaum Qurays yang awalnya ingin bersaing itu pun akhirnya mengakui keutamaan Abdul Muthalib, “Wahai Abdul Muthalib, Tuhan yang telah memberi engkau air di tengah padang pasir inilah yang telah memberimu Zam-zam.” Mereka pun kembali ke Mekkah dengan tenang, dan memutuskan untuk menyerahkan urusan Zam-zam kepada Abdul Muthalib. Kedermawanan dan kebijaksanaan kakek teladan kita, Baginda Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, menjadikan air zam-zam dapat dinikmati oleh jamaah haji dan umrah dari seantereo negeri hingga kini. 

Inilah keutamaan kakek buyut Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Bukankah kita belajar, bahwa hanya dari bibit yang unggullah, akan tumbuh tumbuhan yang unggul.

(Disarikan dari berbagai sumber)

By : Kabilah Tour Mudah, Aman & Berkah

389total visits,2visits today

kabilah

KABILAH TOUR adalah Perusahaan yang telah memiliki legalitas PT (Perseroan Terbatas ) yang bergerak di bidang jasa Biro Perjalanan Wisata.Melayani promo paket umroh yang Mudah, Aman Dan Berkah hub: 022-5233562 / 081290007941, Jalan Leuwipanjang No.32B Kota Bandung 40234 kunjungi:http://www.kabilahtour.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published.