Antara Kain Ihram dan Kain Kafan

Barangkali muncul pertanyaan, mengapa untuk menunaikan ibadah haji dan umrah harus menggunakan kain ihram? Mengapa harus putih? Mengapa tidak boleh berjahit?

Jika kita perhatikan, maka ada kesamaan antara kain ihram dengan kain kafan yang dikenakan mayit. Sama-sama tidak berjahit dan berwarna putih. Kita juga sering mendengar bahwa melaksanakan ibadah haji sama seperti meninggal. Karena sama-sama dipanggil Allah. Orang yang meninggal mengenakan pakaian di luar kebiasaan dia saat hidup, yaitu kain kafan. Begitu pula saat berhaji atau umrah, jama’ah memakai pakaian di luar kebiasaannya yaitu kain ihram. Apa artinya? Imam Al-Ghazali dalam Kitab Asrar Al-Hajj memaparkan,

“Ketika seseorang membeli dua kain ihram yang akan dikenakannya ketika melaksanakan haji, ia harus ingat bahwa ia juga akan mengenakan kain kafan ketika ajal menjemput. Bisa jadi sebelum manasik dilaksanakan, ajal lebih dahulu menjemputnya, sehingga ia bertemu Allah swt, bukan dalam keadaan mengenakan kain ihram, namun mengenakan kain kafan.”

Jika setiap orang yang berihram menyadari bahwa kondisinya tak ubahnya seorang mayit berkain kafan, maka tidak akan ada rasa jumawa dalam hati karena dapat melaksanakan ibadah haji. Justru kain ihram menyadarkannya bahwa ia sebenarnya dipanggil Ilahi. Bahwa ia layaknya seonggok badan yang terbungkus kain kafan. Lantas sudah siapkah dengan bekal amalan? Bagaimana dengan dosa-dosa, apakah sudah tertaubati semua?

Mengenakan kain ihram juga akan mengingatkan seseorang akan fananya dunia. Harta sebanyak apapun, pada akhirnya akan tetap menggunakan kain yang sama dengan kain yang dipakai si papa. Dua lembar kain berwarna putih polos. Saking sederhananya kain ihram ini sampai-sampai tak berjahit.

Dari sanalah lahir sikap tawadhu; merendahkan diri dan hati terhadap ke-Mahabesaran Allah subhanahu wa ta’ala, sekaligus melahirkan kesatuan kemanusiaan di antara jama’ah sebagaisesama makhluk ciptaan Allah subhanahu wa ta’ala. Semua sama di hadapan Allah. Yang membedakan ialah ketaqwaan dalam hati dan hanya Allah yang mengetahui.

Kain ihram tak lagi sederhana jika setiap jama’ah memaknainya dengan pemaknaan yang istimewa.Iya, istimewa. Maknailah ketika mengenakan kain ihram seolah sedang mengenakan kain kafan, bedanya ia masih diberi waktu hidup. Maka sejak berihram, sejak itulah bertekad melaksanakan rangkaian ibadah haji atau umrah dengan sungguh-sungguh, penuh harap agar diterima, juga merasa takut bila amalannya tertolak.

Bayangkan jika sikap bersungguh-sungguh dalam beribadah ini tetap berlangsung walau tak lagi memakai kain ihram, melainkan terus dijaga hingga jasad dipakaikan kain kafan.

 

 

By : Kabilah Tour Mudah, Aman & Berkah

346total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published.