Di Balik Kalimat Labbaikallahumma Labbaik

Talbiyah merupakan kalimah thayyibah khas yang dilafadzkan ketika memnunaikan ibadah haji dan umrah di tanah haram. Sebagaimana thawaf, talbiyah tidak akan kita jumpai di tanah air. Tiada yang dapat menggantikannya.

Kalimat agung itu berbunyi:

Labbaik, Allahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik. Innal-hamda wan-ni`mata laka wal-mulk, la syarika lak.

“Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu.

Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah,

tiada sekutu bagi-Mu,

aku penuhi panggilan-Mu.

Sesungguhnya segala puji, nikmat dan kerajaan hanyalah kepunyaan-Mu,

tiada sekutu bagi-Mu”

 Ketika mengenakan baju ihram lalu ber-talbiyah dari miqat, harus disadari saat itu ia sedang menjawab panggilan Allah subhanahu wa ta’ala. Menjawab panggilan berarti siap mengikuti segala aturan dari Sang Penyeru dengan sungguh-sungguh, siap menanggalkan urusan selain-Nya, siap meniadakan selain Allah ta’ala. Terkandung pula makna berserah diri sepenuhnya hanya kepada Allah. Karena tiada daya dan kekuatan kecuali hanya dengan pertolongan Allah ta’ala.

Betapa dalam makna falsafah ihram dan makna talbiyah. Mengenai hal ini Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Asrar Al-Hajj menuturkan, “Ihram dan talbiyah dari miqat, maknanya adalah memenuhi panggilan Allah. Karena itu, berharaplah agar ibadah diterima. Meskipun demikian, kau harus tetap merasa khawatir jika talbiyah-mu dijawab, ‘Tidak ada sambutan untukmu dan tidak ada kebahagiaan bagimu.’

Jadilah engkau senantiasa di antara berharap (raja’) dan merasa takut (khauf), sambil menyerahkan segalanya kepada Allah, atas karunia dan anugerah-Nya. Sesungguhnya waktu talbiyah merupakan awal dari ibadah ini yang sangat penting untuk diperhatikan.”

Maka tidak heran apabila kita melihat para shalihin terdahulu saat mengucapkan talbiyah dibarengi dengan rasa syahdu, bahkan tak sedikit yang tak sadarkan diri saking merasa berat mengucapkan kalimat talbiyah.

Sufyan bin Uyainah mengisahkan, “Suatu ketika Ali bin Al-Husain menunaikan haji. Ketika ia berihram dan menaiki untanya, tetiba menjadi menguning tubuhnya. Ia pun menggigil, gemetar, dan tidak mampu bertalbiyah. Lalu ia ditanya, ‘Mengapa engkau tidak bertalbiyah?’ Ia menjawab, ‘Aku takut akan dikatakan kepadaku: Engkau tidak memenuhi panggilan dan engkau tidak memperoleh kebahagiaan.’ Ketika bertalbiyah, ia pingsan dan jatuh dari untanya. Hal itu terus menimpanya sampai ia menyelesaikan hajinya.”

Ahmad bin Abi Al-Hawari berkata, “Aku bersama dengan Abu Sulaiman Ad-Darani ketika ia hendak berihram. Ia tidak bertalbiyah sampai kami berjalan sejauh satu mil. Kemudian ia pingsan, lalu tersadar. Setelah itu ia berkata, ‘Wahai Ahmad, telah sampai keterangan kapadaku bahwa barangsiapa berhaji dengan harta yang tidak halal kemudian ia bertalbiyah, Allah akan berkata kepadanya: Tidak ada talbiyah bagimu, tidak ada kebahagiaan bagimu sampai engkau mengembalikan apa yang berada di tanganmu.’ Maka jangan sampai dikatakan demikian kepada kita.”

Ketika mengangkat suaranya dengan membaca talbiyah di miqat, hendaknya seseorang ingat bahwa ia sedang memenuhi seruan Allah, karena Allah mengatakan, yang artinya, “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji.” (QS Al-Haj: 27).

Memenuhi seruan haji dengan perasaan antara berharap dan takut ini sama percis dengan kenyataan yang akan terjadi kelak. Yaitu tatkala Allah akan menyeru ummat manusia dengan ditiupkannya sangkakala, dibangkitkannya manusia di kubur-kubur mereka, dan berdesak-desakannya mereka di hari Kiamat memenuhi seruan Allah. Mereka terbagi menjadi kelompok yang diterima dan kelompok yang tertolak.

Mereka pada awalnya harap-harap cemas, antara takut dan berharap, seperti harap-harap cemasnya orang yang sedang berhaji di miqat, yang mana ia tidak tahu apakah mudah bagi mereka untuk menyempurnakan haji ataukah tidak, apakah hajinya diterima atau tidak.

Tak ada yang dapat menjamin ibadah diterima atau tidak, maka ucapan talbiyah; Labbaikallahumma labbaik;Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah; tak diucapkan dengan dada membusung sebab merasa sudah mampu menjawab undangan Allah, sebaliknya, ucapkanlah dengan penuh harap dan takut. Hanya Allah sebaik-baik Penolong.

 

 

By : Kabilah Tour Mudah, Aman & Berkah

743total visits,3visits today

One thought on “Di Balik Kalimat Labbaikallahumma Labbaik

  1. Hello! My name is John and there’s something I’d like to tell you.
    I recently did a research on Instagram user statistics and likes/Follower patterns across users, and found out that many users such as yourself suffer from a state of placidity. This means that despite regularly uploaded good content you’re unable to grow further. The reason is that most of the regular Instagram users only watch and follow content that seems popular, while overlooking or ignoring content that has a low number of likes compared to the other popular content they follow. Have you noticed that you hit a wall with your account and that regardless of what you do you only stay where you are? If not, it will become apparent to you soon.

    This is the reason why http://www.himzilikes.com was created. By using one of our packages you can get above the threshold other users consider as unpopular and let your account grow to it’s deserved follower size. Just select which package best suits you and your account and after less than 24 hours the package will be active.

    If you have any questions feel free to ask.

    Kind regards
    John Derring
    HimziLikes Foreman

Leave a Reply

Your email address will not be published.