“Kita Tidak Sedang Menyembah Ka’bah”

Apa yang dibayangkan ketika mendengar kata Ka’bah? Seorang wanita asal Hongkong pernah terheran-heran ketika tahu bahwa seluruh muslim di dunia ini beribadah shalat pada satu arah yang sama. Keheranannya bertambah pula ketika diperlihatkan bangunan ka’bah amat sederhana. Baginya yang seorang desainer yang mengagungkan keindahan, dia membayangkan Ka’bah berupa istana megah, sebuah karya arsitektur yang indah, penuh dengan ornamen yang mahal. Tapi ternyata tidak! Yang dia saksikan dari ka’bah hanyalah bangunan kubus yang sama sekali tidak memiliki keindahan arsitektural, seni atau kualitas yang biasa dia saksikan pada bangunan-bangunan yang diklaim sebagai keajaiban dunia, tidak ada warna-warni sama sekali. Bangunan ini hanya terbuat dari batu-batu hitam keras yang tersusun dengan cara yang sederhana, dengan kapur putih sebagai penutup celah-celahnya.

Wanita ini kemudian bertanya lagi, apakah yang membuat ka’bah ini disembah karena di dalamnya terdapat harta benda, atau tempat mencurahkan perhatian manusia? Sekali lagi semuanya itu terbantahkan, wanita ini lagi-lagi kaget ketika mengetahui di dalam ka’bah tidak ada apa-apa, sama sekali kosong! Tidak ada sesuatupun juga.

Keheranan terserbut bukan hanya dialami olehnya. Jauh empat belas abad yang lalu, Raja Abrahah pun heran dengan ka’bah ini. Ia berusaha menyaingi, dengan membangun tempat peribadatan yang lebih megah terbuat dari ornament yang sangat mahal, bahkan bagi peziarah ia janjikan hadiah yang banyak. Namun tetap saja ka’bah ramai dengan kerumunan orang. Kedengkiannya semakin besar, ia bermaksud meruntuhkan ka’bah, dengan ribuan pasukan yang menunggang gajah ia menuju Makkah, kota tempat ka’bah berdiri tegak. Ia dan pasukannya menyangka akan mendapatkan perlawanan hebat dari penduduk Makkah yang tidak ingin rumah ibadahnya dihancurkan. Setibanya disana, ia malah mendapatkan tontonan yang membingungkan. Tidak satupun penduduk Makkah yang menjaga atau berusaha melindungi ka’bah. Semuanya menyelamatkan diri ke bukit-bukit. Bahkan Abdul Muthalib, pembesar kaum Qurays menghadap ke Abrahah hanya untuk mengambil unta-unta yang dirampas pasukan Abrahah. Tentang ini Abdul Muthalib, Kakek Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam hanya menjawab singkat, “Unta-unta ini milik kami, karenanya kami harus mengambilnya kembali. Sedangkan ka’bah adalah rumah Allah. Dia sendirilah yang memberinya penjagaan.” Selanjutnya kita tahu bersama apa yang terjadi kemudian, Allah mengirimkan pasukan burung ababil menghancurkan pasukan gajah-gajah itu. Ka’bah sampai sekarang berdiri tegak.

Lalu, apakah yang membuat bangunan kubus sederhana ini menjadi arah kaum muslimin menghadapkan wajahnya di dalam shalat ? Apakah kaum muslimin saat shalat menghadapnya berarti sedang menyembah ka’bah?

Menjawab pertanyaan-pertanyaan kritis ini, Ustadz Hilman Miftahurojak, salah satu pembimbing Umroh Kabilah Tour menjawab, “Kita tidak sedang menyembah ka’bah. Kita shalat menghadap ka’bah karena Allah Swt menetapkannya sebagai arah.”

Yaitu satu arah shalat yang sama bagi seluruh muslim di manapun berada. Simbol kesatuan atau tauhid.

“Ini juga bukan berarti kita mengagungkan ka’bah sebagai arah atau sebagai simbol. Sebab dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 177 ditegaskan, ’Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah..,” maka yang utama itu bukan menghadap pada suatu arah, melainkan yang utama itu iman dan ketaatan kita kepada Allah. Nah, bukti kita beriman kepada Allah yaitu dengan mengikuti perintah-Nya untuk shalat menghadap ka’bah.”

Ustadz Hilman juga menegaskan pentingnya memaknai ka’bah dengan pemaknaan yang benar. “Jika tidak memiliki pengetahuan mengenai sejarah ka’bah, dan bagaimana posisinya di keimanan kita, maka tidak heran jika seseorang saat melihat ka’bah hanya melihat bangunan sederhana tanpa ada keimanan yang bertambah. Karena itulah sebaiknya kita mempelajari sejarah bagaimana dan kenapa awal mula ka’bah dibangun.”

Ka’bah bukanlah tujuan dari kedatangan kita. Kesederhanaan ka’bah yang kita saksikan memberikan pembelajaran bahwa dia bukan tujuan atau sembahan. Ka’bah menjadi mulia sebab Allah ‘azza wa jalla yang menjadikannya arah. Kita menghadapnya dalam rangka memenuhi perintah-Nya. Maka yang agung dan Maha Besar tetaplah Allah yang Maha Esa. Saat menghadap kepadanya, kita sedang menghadapkan hati pada keesaan dan kuasa Allah ta’ala.

 

 

By : Kabilah Tour Mudah, Aman & Berkah

126total visits,2visits today

kabilah

KABILAH TOUR adalah Perusahaan yang telah memiliki legalitas PT (Perseroan Terbatas ) yang bergerak di bidang jasa Biro Perjalanan Wisata.Melayani promo paket umroh yang Mudah, Aman Dan Berkah hub: 022-5233562 / 081290007941, Jalan Leuwipanjang No.32B Kota Bandung 40234 kunjungi:http://www.kabilahtour.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published.