Miqot Tan’im; Kemuliaan Bunda Aisyah yang Berkahnya Terasa Sampai Hari Ini

Aisyah binti Abu Bakr radhiyallahu ‘anhumaa adalah istri Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang penuh keutamaan. Selain menjadi seorang pendamping setia yang selalu siap memberi dorongan dan motivasi kepada suami tercinta, Bunda Aisyah juga tampil menjadi seorang penuntut ilmu yang senantiasa belajar dalam madrasah nubuwwah di mana beliau menimba ilmu langsung dari sumbernya. Beliau tercatat termasuk orang yang banyak meriwayatkan hadits dan memiliki keunggulan dalam berbagai cabang ilmu di antaranya ilmu fikih, kesehatan, dan syair Arab. Setidaknya sebanyak 2.210 hadits yang beliau riwayatkan, di antaranya telah disepakati oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Sehingga para sahabat kibar tatkala mendapatkan permasalahan, mereka datang dan merujuk kepada Ibunda Aisyah. Beliau selalu mampu menjelaskan jawabannya dengan teliti dan tenang, sebuah gambaran dari keilmuannya yang tinggi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan dalam sabdanya:

Orang yang mulia dari kalangan laki-laki banyak, namun yang mulia dari kalangan wanita hanyalah Maryam binti Imron dan Asiyah istri Fir’aun, dan keutamaan Aisyah atas semua wanita seperti keutamaan tsarid atas segala makanan.” (HR. Bukhari (5/2067) dan Muslim (2431))

Di antara keutamaannya ialah Bunda Aisyah menjadi sebab atas sesuatu disyariatkan. Salah satunya ialah disyariatkannya tayammum karena sebab beliau, yaitu tatkala orang-orang mencarikan kalungnya yang hilang di suatu tempat hingga datang waktu shalat namun mereka tidak menjumpai air hingga disyari’atkanlah tayammum. Betapa mulia kedudukan Bunda Aisyah ini. Rukhsoh atau keringanan yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan ini dapat kita rasakan manfaat dan keuntungannya hingga sekarang. Sehingga berkata Usaid bin Khudair, “Itu adalah awal keberkahan bagi kalian wahai keluarga Abu Bakr.” (HR. Bukhari (334))

Di samping itu, Bunda Aisyah juga menjadi peran di balik ditetapkannya Tan’im sebagai salah satu tempat berniat memulai umrah (miqot). Tan’im adalah tempat miqot terdekat dari Kota Makkah.

Disampaikan oleh Jabir bin ‘Abdullah radliallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya berniat untuk haji dan tidak ada satupun dari mereka yang membawa hewan qurban kecuali Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan Tholhah serta ‘Ali yang baru datang dari Yaman juga membawa hewan qurban, dia berkata: “Aku berihram sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berihram. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengijinkan para sahabatnya untuk menjadikan ihram mereka sebagai ‘umrah, mereka thawaf di Ka’bah Baitullah, kemudian memotong (memendekkan) rambut lalu bertahallul kecuali siapa yang membawa hewan qurban. Mereka berkata: “Kemudian kami berangkat menuju Mina lalu di antara kami ada yang menyebut bahwa dia menarik diri. Hal ini kemudian sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau berkata: “Kalaulah aku bisa mengulang kembali urusanku yang telah lewat, niscaya aku tidak membawa binatang kurban. Seandainya aku tidak membawa hewan kurban, sudah pasti aku akan bertahallul.” Kemudian ‘Aisyah radliallahu ‘anha mengalami haidh sedangkan dia sudah menyelesaikan seluruh manasik kecuali thawaf di Ka’bah Baitullah. Ketika dia sudah suci, dia melaksanakan thawaf di Ka’bah Baitullah. Dia berkata: ‘Wahai Rasulullah, apakah kalian akan berangkat pulang dengan membawa haji dan ‘umrah sedangkan aku dengan niat haji saja?” Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan ‘Abdurrahman bin Abu Bakar agar berangkat bersama ‘Aisyah radliallahu ‘anha ke Tan’im. Maka ‘Aisyah radliallahu ‘anha melaksanakan ‘umrah setelah melaksanakan manasik haji pada Bulan Dzul Hijjah”. Dan Suraqah bin Malik bin Ju’syam bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau berada di Al ‘Aqabah sedang melempar jumrah, dia bertanya: “Apakah ini khusus buat kalian, wahai Rasulullah? Beliau berkata: “Tidak, tapi untuk selamanya”. (Hadits Riwayat Imam Bukhari, No. 1660)

Maka ditetapkanlah Tan’im sebagai salah satu tempat pertama berihram (miqot makani). Masjid Siti Aisyah di Tan’im dibangun untuk mengabadikan sejarahnya. Jaraknya yang dekat dari Kota Makkah, menjadikan Tan’im sebagai tempat miqot terdekat sekaligus termurah bagi jama’ah yang ingin melakukan umrah sunnah. Cukup menggunakan bis atau taxi dari Masjidil Haram, jama’ah dapat tiba di Masjid Tan’im kurang lebih 20 menit perjalanan.

Luas bangunan Masjid Siti Aisyah ini sekitar 6000 m2, luas keseluruhannya sekitar 84.000 m2 yang mampu menampung sekitar 15 ribu jama’ah, dilengkapi dengan berbagai fasilitas, seperti halaman parkir, tempat wudhu dan toilet, ruangan berpendingin, mushaf Al-Quran, dan lantai beralaskan permadani yang tebal.

Kemuliaan Bunda Aisyah ini terasa berkahnya hingga sekarang. Semoga tercurah shalawat serta salam kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.

 

 

By : Kabilah Tour Mudah, Aman & Berkah

215total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published.