Selamatan Haji / Umrah, Bagaimana Hukumnya?

Di masyarakat Indonesia berkembang adat mengantarkan orang yang hendak bepergian ibadah umrah atau haji. Biasanya sebelum mengantarkan hingga kepergiannya, diberlangsungkan pula semacam selamatan atau syukuran yang diisi dengan pengajian dan menyantap sajian makanan.

Timbul pertanyaan, bagaimana kedudukan hukumnya di syariat Islam? Dikutip dari www.piss-ktb.com berikut ini penjelasannya untuk pertanyaan di atas.

Syekh Abu Bakr al Ajurriy (Hanabilah) dalam Kitab Mathalib Ulin Nuha, Kitab Al Furu’ Libni Miflih, menuturkan bahwa : Dianjurkan untuk mengantarkan orang yang hendak pergi haji, mendoakan keselamatan, dan menitipkan doa padanya.

تقبل الله حجك وزكى عملك ورزقنا وإياك العود إلى بيته الحرام ـ وفي الغنية ” تقبل الله سعيك وأعظم أجرك وأخلف نفقتك ـ لأنه روي عن عمر

Semoga Allah menerima hajimu, mensucikan amalmu, dan semoga Allah mengaruniakan kepada kita dan kepadamu agar bias kembali ke Baitil Haram. “

Semoga Allah menerima sa’imu, dan mengagungkan ganjaranmu, dan mengganti rizki yang yang telah kamu keluarkan. “

Bahkan Imam Ahmad pun pernah mengantarkan ibunda beliau saat akan pergi haji. Adat mengantarkan orang yang hendak bepergian haji ini juga sudah berlaku di masanya Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam, di tempat yang bernama Tsaniyyatul Wada’, dimana dulu beliau pernah ditunggu oleh orang-orang selepas beliau pulang dari peperangan.

Kami tambahkan juga di bawah ini penjelasan Ustadz Hengki Ferdiansyah, Lc. MA yang dilampirkan di www.islami.co.

Di masyarakat kita selamatan sebelum pergi haji atau umrah sering disebut pula walimatussafar. Istilah ini memang jarang ditemukan dalam litaratur fikih. Tapi sebenarnya ada istilah yang hampir mirip, yaitu naqi’ah. Hanya saja, istilah naqi’ah secara spesifik digunakan untuk menyambut kedatangan musafir, terutama yang balik dari perjalanan jauh semisal haji. Masyarakat menyambutnya dengan mengadakan walimah atau acara makan-makan. Naqi’ah ini bisa diadakan oleh musafir itu sendiri atau masyarakat yang menyambutnya.

Al-Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab berpendapat:

يستحب النقيعة وهي طعام يعمل لقدوم المسافر ويطلق على ما يعمله المسافر القادم وعلى ما يعمله غيره له

Artinya, “Disunahkan melangsungkan naqi’ah, yaitu makanan yang dihidangkan karena kedatangan musafir, baik disiapkan oleh musafir itu sendiri, atau orang lain untuk menyambut kedatangan musafir.”

Pendapat ini didukung oleh hadis riwayat Jabir bahwa Nabi Muhammad SAW ketika sampai di Madinah selepas pulang dari perjalanan, Beliau menyembelih unta atau sapi (HR Al-Bukhari). Dalil ini memperkuat kesunahan mengadakan selamatan setelah pulang dari perjalanan jauh. Selamatan sebagai bentuk rasa syukur atas diselamatkannya musafir dari bahaya perjalanan.

Demikian pula dengan selamatan sebelum haji. Hukumnya dapat disamakan dengan naqi’ah. Terlebih lagi, substansi acaranya tidak melenceng sedikit pun dari syariat Islam. Di dalamnya terdapat unsur silaturahmi, sedekah, do’a, baca Al-Qur’an, dan lain-lain. Kendati istilah walimah safar jarang ditemukan dalam literatur hadits maupun fikih, bukan berarti mengadakannya dianggap haram atau bid’ah tercela.

Al-ibraru bil musamma, la bil ismi, yang diperhatikan ialah substansi yang dinamai, bukan soal nama itu sendiri. Berdasarkan prinsip ini, yang menjadi acuan dalam menghukumi sebuah perbuatan ialah isi dan substansinya. Selama isi dan substansinya tidak bertentangan dengan syariat Islam, ia diperbolehkan sekalipun istilah atau penamaannya tidak ditemukan di masa Rasulullah SAW.

Terlebih lagi, dalam Madzhab Syafi’i, istilah walimah tidak hanya dikhususkan untuk pesta pernikahan. Istilah walimah mencakup semua perayaan yang diselenggarakan lantaran mendapat rezeki yang tidak terduga atau kebahagian tertentu. Maka dari itu, menurut Madzhab Syafi’i kesunahan mengadakan walimah tidak dibatasi hanya untuk nikah, tapi juga disunahkan pada saat bangun rumah, khitan, pulang dari perjalanan, dan lain-lain. Pendapat ini sebagaimana dikutip Al-Jaziri dalam Al-Fiqhu ‘ala Madzahibil Arba’ah:

الشافعية قالوا: يسن صنع الطعام والدعوة إليه عند كل حادث سرور، سواء كان للعرس أوللختان أوللقدوم من السفر إلى غير ذلك مما ذكر

Artinya, “Madzhab Syafi’i mengatakan disunahkan menghidangkan makanan dan mengundang orang untuk memakannya pada setiap kejadian yang membahagiakan, baik saat pernikahan, nikah, kedatangan orang dari perjalanan, dan lain-lain.”

Merujuk pada pendapat di atas, tradisi walimah safar yang dilakukan masyarakat Nusantara sangat baik dilakukan. Pada saat itulah momen berbagi kepada sesama masyarakat atas kesempatan dan nikmat yang diberikan Allah SWT. Apalagi tidak semua orang yang diberikan kesempatan untuk berhaji.

Selain ajang silaturahmi dan sedekah, walimah safar merupakan bentuk rasa syukur atas peluang yang diberikan Allah SWT dan ajang meminta do’a kepada sanak-saudara supaya diselamatkan selama menjalani ibadah haji. Wallahu a’lam.

 

 

By : Kabilah Tour Mudah, Aman & Berkah

53total visits,1visits today

kabilah

KABILAH TOUR adalah Perusahaan yang telah memiliki legalitas PT (Perseroan Terbatas ) yang bergerak di bidang jasa Biro Perjalanan Wisata.Melayani promo paket umroh yang Mudah, Aman Dan Berkah hub: 022-5233562 / 081290007941, Jalan Leuwipanjang No.32B Kota Bandung 40234 kunjungi:http://www.kabilahtour.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published.