Gelar Haji

Gelar haji yang disematkan di depan nama orang yang sudah menunaikan ibadah haji merupakan kebiasaan dan tradisi masyarakat. Fenomena ini ternyata bukan hanya kita temukan di negara kita, namun ada beberapa negara lain yang punya kebiasaan yang sama.

1.Hukum

Kalau kita kaji
secara hukum, tentu kita tidak akan menemukan dasar masyru’iyah gelar haji ini
secara langsung, baik di dalam Al-Qur’an atau pun di dalam hadits.

Namun ketika hal
itu sudah menjadi semacam tradisi, yang menjadi pertanyaan adalah apakah gelar
itu boleh digunakan atau tidak.

Sepanjang ini nampaknya kita belum menemukan adanya larangan para ulama untuk menggunakan gelar haji ini.

2.Hikmah

Gelar haji bisa
saja menjadi riya’ bagi yang niatnya memang riya’. Bahkan bukan hanya gelar
haji saja, gelar apapun bisa dijadikan media untuk melakukan riya’. Seperti
gelar kesarjanaan, gelar keningratan, gelar kepahlawanan, dan gelar-gelar
lainnya.

Namun, batasannya
memang agak sulit untuk ditetapkan. Sebab riya’ merupakan aktivitas hati.
Sehingga standarisasinya bisa berbeda untuk tiap orang.

Kalau kembali
kepada hukum syari’ah, yang diharamkan adalah gelar-gelar yang mengandung ejekan,
baik orang uang diberi gelar itu suka atau tidak suka. Sebagaimana firman Allah
SWT:

“Jangan memanggila dengan gelaran yang mengandung
ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah yang buruk sesudah iman dan barangsiapa
yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”
(QS. Al Hujurat ayat 11)

Titik tekn
larangan ini ada pada gelar yang menjadi bahan ejekan. Seperti mengejek
seseorang dengan panggilan nama hewan, dimana di balik gelar nama hewan itu
tercermin ejekan. Sedangkan gelar dengan nama hewan yang mencerminkan pujian,
hukumnya boleh.

Seperti kita
memberi gelar kepada seorang ahli pidato dengan sebutan macan podium. Gelar ini
meski menggunakan nama hewan, tetapi kesan yng didapat adalah kehebatan
seseorang di dalam berpidato atau berorasi. Nilainya positif dan hukumnya
boleh.

Kaitannya dengan
gelar haji, pada hakikatnya gelar haji itu bukan gelar yang mengandung ejekan.
Sehingga tidak ada yang salah dengan gelar itu bila memang sudah menjadi
kelaziman di suatu tempat. Namun gelar haji memang bukan hal yang secara syar’I
ditetapkan, melainkan gelar yang muncul di suatu zaman tertentu dan di suatu
kelpmpok masyarakat tertentu. Gelar seperti ini secara hukum tidak terlarang.

Sedangkan dari
sisi riya’ atau tidak, semua terpu;ang kepada niat dari orang yang memakai
gelar itu. Kalau dia sengaja menggunakannya agar dipuji orang lain, atau biar
kelihatan sebagai orang yang beriman dan bertaqwa, sementara hakikatnya justru
berlawanan, maka pemakaian gelar ini bertentangan dengan akhlaq Islam.

Dan kasus seperti
ini sudah banyak yang terjadi. Sebutannya pak haji tapi kerjaannya sungguh
memalukan, entah memeras rakyat, atau melakukan banyak maksiat terang-terangan
di muka mat atau hal-hal yang kurang terpuji lainnya. Maka gelar haji itu bukan
masuk bab riya; melainkan bab penipuan kepada publik.

Hikmah Positif

Tetapi ada kalanya
gelar haji itu punya nilai positif dan bermanfaat serta tidak masuka kategori
riya’ yang dimaksud. Salah satu contoh kasusnya adalah pergi hajinya seorang
kepala suku di suku pedalaman, yang nilai-nilai keislamannya masih menjadi
banyak pertanyaan banyak pihak karena banyak bercampur dengan khurafat.

Ketika kepala suku
ini diajak pergi haji, terbukalah atasnya wawasan Islam dengan lebih luas dan
lebih baik. Fikrah yang menyimpang selama ini menjadi semakin lurus.

Maka sepulang dari
pergi haji, gelar haji pun dilekatkan pada namanya. Dan rakyatnya akan semakin
mendapat pencerahan dari kepala suku yang kini sudah bergelar haji. Bahkn akan
merangsang mereka untuk pergi haji dan mendekatkan diri dengan nilai-nilai
Islam. Tentu saja, tujuan pergi haji itu salah satunya untuk membuka wawasan
yang lebih luas tentang nilai-nilai agama Islam.

Jadi tidak
selamanya gelar haji itu mengandung makna negatif semacam riya’ dan sebagainya.
Tetapi boleh jadi juga mengandung nilai-nilai positif seperti nilai dakwah dan
pelurusan fikrah. Adalh kurang bijaksana bila kita langsung menggeneralisir
setiap masalah dengan satu sikap. Semua perlu didudukkan perkaranya secara
baik-baik.

Lagi pula sebagai
muslim, kita diwajibkan Allah SWT untuk selalu ber-husnudzdzan kepada sesama muslim. Sebab boleh jadi seseorang
bergelar haji bukan karena kehendaknya, tetapi karena kehendak masyarakat.

Seorang ustadz
muda yang banyak ilmunya namun masih kurang dikenal atau malah kurang
diperhitungkan oleh umatnya, tidak mengapa bila kita cantumkan gelar haji di
depan namanya, bila memang sudah pernah pergi haji.

Sebab di kalangan
masyarakat tertentu, ustadz yang sudah pernah pergi haji akan berbeda
penerimaanny dengan yang belum pernah pergi haji. Apa boleh buat, memang
demikian cetak biru yang terlanjur berakar di tengah masyarakat.

Tetapi terkadang gelar haji ini sama sekali tidak berguna untuk dipakai di dalam kelompok masyarakat yang lain.

Artikel ini telah mengalami penyesuaian dan disadur dari Buku Seri Fiqih Kehidupan Jilid 6 : Haji & Umrah, halaman 358-360. Disusun oleh Ustadz Ahmad Sarwat, Lc., MA

By : Kabilah Tour Mudah, Aman & Berkah

__________________________________________________________________________

kabilah

KABILAH TOUR adalah Perusahaan yang telah memiliki legalitas PT (Perseroan Terbatas ) yang bergerak di bidang jasa Biro Perjalanan Wisata.Melayani promo paket umroh yang Mudah, Aman Dan Berkah hub: 022-5233562 / 081290007941, Jalan Leuwipanjang No.32B Kota Bandung 40234 kunjungi:http://www.kabilahtour.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published.