fbpx
8 views

Gelar Haji

Gelar haji yang disematkan di depan nama orang yang sudah menunaikan ibadah haji merupakan kebiasaan dan tradisi masyarakat. Fenomena ini ternyata bukan hanya kita temukan di negara kita, namun ada beberapa negara lain yang punya kebiasaan yang sama.

1.Hukum

Kalau kita kaji secara hukum, tentu kita tidak akan menemukan dasar masyru’iyah gelar haji ini secara langsung, baik di dalam Al-Qur’an atau pun di dalam hadits.

Namun ketika hal itu sudah menjadi semacam tradisi, yang menjadi pertanyaan adalah apakah gelar itu boleh digunakan atau tidak.

Sepanjang ini nampaknya kita belum menemukan adanya larangan para ulama untuk menggunakan gelar haji ini.

2.Hikmah

Gelar haji bisa saja menjadi riya’ bagi yang niatnya memang riya’. Bahkan bukan hanya gelar haji saja, gelar apapun bisa dijadikan media untuk melakukan riya’. Seperti gelar kesarjanaan, gelar keningratan, gelar kepahlawanan, dan gelar-gelar lainnya.

Namun, batasannya memang agak sulit untuk ditetapkan. Sebab riya’ merupakan aktivitas hati. Sehingga standarisasinya bisa berbeda untuk tiap orang.

Kalau kembali kepada hukum syari’ah, yang diharamkan adalah gelar-gelar yang mengandung ejekan, baik orang uang diberi gelar itu suka atau tidak suka. Sebagaimana firman Allah SWT:

“Jangan memanggila dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al Hujurat ayat 11)

Titik tekn larangan ini ada pada gelar yang menjadi bahan ejekan. Seperti mengejek seseorang dengan panggilan nama hewan, dimana di balik gelar nama hewan itu tercermin ejekan. Sedangkan gelar dengan nama hewan yang mencerminkan pujian, hukumnya boleh.

Seperti kita memberi gelar kepada seorang ahli pidato dengan sebutan macan podium. Gelar ini meski menggunakan nama hewan, tetapi kesan yng didapat adalah kehebatan seseorang di dalam berpidato atau berorasi. Nilainya positif dan hukumnya boleh.

Kaitannya dengan gelar haji, pada hakikatnya gelar haji itu bukan gelar yang mengandung ejekan. Sehingga tidak ada yang salah dengan gelar itu bila memang sudah menjadi kelaziman di suatu tempat. Namun gelar haji memang bukan hal yang secara syar’I ditetapkan, melainkan gelar yang muncul di suatu zaman tertentu dan di suatu kelpmpok masyarakat tertentu. Gelar seperti ini secara hukum tidak terlarang.

Sedangkan dari sisi riya’ atau tidak, semua terpu;ang kepada niat dari orang yang memakai gelar itu. Kalau dia sengaja menggunakannya agar dipuji orang lain, atau biar kelihatan sebagai orang yang beriman dan bertaqwa, sementara hakikatnya justru berlawanan, maka pemakaian gelar ini bertentangan dengan akhlaq Islam.

Dan kasus seperti ini sudah banyak yang terjadi. Sebutannya pak haji tapi kerjaannya sungguh memalukan, entah memeras rakyat, atau melakukan banyak maksiat terang-terangan di muka mat atau hal-hal yang kurang terpuji lainnya. Maka gelar haji itu bukan masuk bab riya; melainkan bab penipuan kepada publik.

Hikmah Positif

Tetapi ada kalanya gelar haji itu punya nilai positif dan bermanfaat serta tidak masuka kategori riya’ yang dimaksud. Salah satu contoh kasusnya adalah pergi hajinya seorang kepala suku di suku pedalaman, yang nilai-nilai keislamannya masih menjadi banyak pertanyaan banyak pihak karena banyak bercampur dengan khurafat.

Ketika kepala suku ini diajak pergi haji, terbukalah atasnya wawasan Islam dengan lebih luas dan lebih baik. Fikrah yang menyimpang selama ini menjadi semakin lurus.

Maka sepulang dari pergi haji, gelar haji pun dilekatkan pada namanya. Dan rakyatnya akan semakin mendapat pencerahan dari kepala suku yang kini sudah bergelar haji. Bahkn akan merangsang mereka untuk pergi haji dan mendekatkan diri dengan nilai-nilai Islam. Tentu saja, tujuan pergi haji itu salah satunya untuk membuka wawasan yang lebih luas tentang nilai-nilai agama Islam.

Jadi tidak selamanya gelar haji itu mengandung makna negatif semacam riya’ dan sebagainya. Tetapi boleh jadi juga mengandung nilai-nilai positif seperti nilai dakwah dan pelurusan fikrah. Adalh kurang bijaksana bila kita langsung menggeneralisir setiap masalah dengan satu sikap. Semua perlu didudukkan perkaranya secara baik-baik.

Lagi pula sebagai muslim, kita diwajibkan Allah SWT untuk selalu ber-husnudzdzan kepada sesama muslim. Sebab boleh jadi seseorang bergelar haji bukan karena kehendaknya, tetapi karena kehendak masyarakat.

Seorang ustadz muda yang banyak ilmunya namun masih kurang dikenal atau malah kurang diperhitungkan oleh umatnya, tidak mengapa bila kita cantumkan gelar haji di depan namanya, bila memang sudah pernah pergi haji.

Sebab di kalangan masyarakat tertentu, ustadz yang sudah pernah pergi haji akan berbeda penerimaanny dengan yang belum pernah pergi haji. Apa boleh buat, memang demikian cetak biru yang terlanjur berakar di tengah masyarakat.

Tetapi terkadang gelar haji ini sama sekali tidak berguna untuk dipakai di dalam kelompok masyarakat yang lain.

Artikel ini telah mengalami penyesuaian dan disadur dari Buku Seri Fiqih Kehidupan Jilid 6 : Haji & Umrah, halaman 358-360. Disusun oleh Ustadz Ahmad Sarwat, Lc., MA

By : Kabilah Tour Mudah, Aman & Berkah

__________________________________________________________________________

kabilah

KABILAH TOUR adalah Perusahaan yang telah memiliki legalitas PT (Perseroan Terbatas ) yang bergerak di bidang jasa Biro Perjalanan Wisata.Melayani promo paket umroh yang Mudah, Aman Dan Berkah hub: 022-5233562 / 081290007941, Jalan Leuwipanjang No.32B Kota Bandung 40234 kunjungi:http://www.kabilahtour.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published.