fbpx
4 views

Esensi Haji

Konotasi mampu seringkali menjadi polemik panjang, yakni sampai sejauh mana kita boleh memaknai mampu dalam ibadah haji ini. Ada yang berpatokan kepada kemampuan finansial saja, ada yang berpatokan kepada kemampuan fisik, bahkan ada yang menyarankan kalau masih mampu berhutang dan melunasi hutangnya maka berhajilah. 

Lalu bagaimana dengan fakta di tanah air dimana orang yang terjadwal untuk berangkat haji sudah masuk usia 70 tahun ke atas? Kita yakin mungkin secara finansial mereka telah lunas bayar, tapi secara fisik mereka tahu kapasitasnya secara umum, karena sejatinya ibadah haji itu sarat dengan porsir tenaga.

Sebenarnya semua berangkat dari dalil berikut:

Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka  sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (Ali Imran, ayat 97)

Dari ayat ini para ulama memberikan sejumlah keterangan tentang maksud “istitha’ah” atau mampu dalam ibadah haji. Patokan utama adalah keterangan klasik para ulama dari hadist, dimana Rasulullah ditanya tentang apa yang mewajibkan haji, maka rasul menjawab “az zaadu war rahilah”, yakni perbekalan dan kendaraan.

Kemudian dianalogikanlah esensi dari mampu bekal dan kendaraan ini kepada mampu dalam finansial, keamanan perjalanan, hingga pada status kesehatan dan kekuatan fisik.

Dalam praktek kekinian, keterbatasan fisik dalam menjalankan ibadah haji bukan menjadi patokan ketidak bolehan seseorang berangkat haji. Faktanya di tanah air pemerintah tetap memberangkatkan mereka yang sudah berusia uzur untuk berangkat ke tanah suci. Pertimbangannya adalah sepanjang mereka telah lunas bayar, sudah masuk kuotanya, masa antrinya telah habis, dan tidak mengidap sakt yang terlalu serius, maka boleh berangkat. Urusan kemampuan melakukan ritualnya itu nomor dua, karena masih bisa didorong dengan kursi roda untuk thawaf dan sa’inya, bahkan untuk jumrohnya bisa dibadalkan oleh orang lain.

Lalu terkait kemampuan finansial. Tidak ada ketentuan harus dari uang sendiri baru sah berhaji. Bahkan dari kalangan Hanafiyah yang mewajibkan ibadah haji itu harus segera mengatakan:

Jika tidak berhaji hingga habis hartanya, maka dipersilahkan berhutang lalu berhaji, meskipun tidak mampu mengembalikannya segera mungkin.

Bahkan ada kaidah :

Setiap ibadah dimana harta dianggap sebagai penentunya, maka yang dianggap adalah kepemilikannya bukan bagaimana kemampuan memilikinya.

Jadi, kalau seseorang memiliki harta baik dari  berhutang, hadiah, numpang dll., maka ibadahnya tetap dianggap.

By : Kabilah Tour Mudah, Aman & Berkah

kabilah

KABILAH TOUR adalah Perusahaan yang telah memiliki legalitas PT (Perseroan Terbatas ) yang bergerak di bidang jasa Biro Perjalanan Wisata.Melayani promo paket umroh yang Mudah, Aman Dan Berkah hub: 022-5233562 / 081290007941, Jalan Leuwipanjang No.32B Kota Bandung 40234 kunjungi:http://www.kabilahtour.co.id