Esensi Haji

Konotasi
mampu seringkali menjadi polemik panjang, yakni sampai sejauh mana kita boleh
memaknai mampu dalam ibadah haji ini. Ada yang berpatokan kepada kemampuan
finansial saja, ada yang berpatokan kepada kemampuan fisik, bahkan ada yang
menyarankan kalau masih mampu berhutang dan melunasi hutangnya maka berhajilah. 

Lalu
bagaimana dengan fakta di tanah air dimana orang yang terjadwal untuk berangkat
haji sudah masuk usia 70 tahun ke atas? Kita yakin mungkin secara finansial
mereka telah lunas bayar, tapi secara fisik mereka tahu kapasitasnya secara
umum, karena sejatinya ibadah haji itu sarat dengan porsir tenaga.

Sebenarnya
semua berangkat dari dalil berikut:

Mengerjakan haji adalah kewajiban
manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan
ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka  sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan
sesuatu) dari semesta alam.
(Ali Imran,
ayat 97)

Dari
ayat ini para ulama memberikan sejumlah keterangan tentang maksud “istitha’ah”
atau mampu dalam ibadah haji. Patokan utama adalah keterangan klasik para ulama
dari hadist, dimana Rasulullah ditanya tentang apa yang mewajibkan haji, maka
rasul menjawab “az zaadu war rahilah”, yakni perbekalan dan kendaraan.

Kemudian
dianalogikanlah esensi dari mampu bekal dan kendaraan ini kepada mampu dalam finansial,
keamanan perjalanan, hingga pada status kesehatan dan kekuatan fisik.

Dalam
praktek kekinian, keterbatasan fisik dalam menjalankan ibadah haji bukan
menjadi patokan ketidak bolehan seseorang berangkat haji. Faktanya di tanah air
pemerintah tetap memberangkatkan mereka yang sudah berusia uzur untuk berangkat
ke tanah suci. Pertimbangannya adalah sepanjang mereka telah lunas bayar, sudah
masuk kuotanya, masa antrinya telah habis, dan tidak mengidap sakt yang terlalu
serius, maka boleh berangkat. Urusan kemampuan melakukan ritualnya itu nomor
dua, karena masih bisa didorong dengan kursi roda untuk thawaf dan sa’inya, bahkan
untuk jumrohnya bisa dibadalkan oleh orang lain.

Lalu
terkait kemampuan finansial. Tidak ada ketentuan harus dari uang sendiri baru
sah berhaji. Bahkan dari kalangan Hanafiyah yang mewajibkan ibadah haji itu
harus segera mengatakan:

Jika tidak berhaji hingga habis
hartanya, maka dipersilahkan berhutang lalu berhaji, meskipun tidak mampu
mengembalikannya segera mungkin.

Bahkan
ada kaidah :

Setiap ibadah dimana harta dianggap
sebagai
penentunya,
maka yang dianggap adalah
kepemilikannya
bukan bagaimana kemampuan
memilikinya.

Jadi, kalau seseorang memiliki harta baik dari  berhutang, hadiah, numpang dll., maka ibadahnya tetap dianggap.

By : Kabilah Tour Mudah, Aman & Berkah

kabilah

KABILAH TOUR adalah Perusahaan yang telah memiliki legalitas PT (Perseroan Terbatas ) yang bergerak di bidang jasa Biro Perjalanan Wisata.Melayani promo paket umroh yang Mudah, Aman Dan Berkah hub: 022-5233562 / 081290007941, Jalan Leuwipanjang No.32B Kota Bandung 40234 kunjungi:http://www.kabilahtour.co.id