fbpx
27 views

Hukum Talfiq Antar Mazhab

A. Pendahuluan

Ternyata para ulama memang berbeda pandangan tentang hukum melakukan talfiq antar mazhab. Ada dari mereka yang tegas menolak dalam arti mengharamkan. Namun, ada yang justru sebaliknya, membolehkan tanpa syarat apa pun.

Dan ditengah-tengahnya, ada pendapat yang berposisi melarang tetapi juga membolehkan. Maksudnya, mereka melarang talfiq bila dilakukan dengan kriteria tertentu, tetapi membolehkan talfiq bila memenuhi syarat tertentu. Pandangan yang ketiga ini adalah pandangan yang kritis tapi objektif.

[1] Haram

Umumnya para ulama mengharamkan talfiq antar mazhab secara tegas tanpa memberikan syarat apa pun. Di antara nama-nama mereka antara lain:

Abdul Ghani An-Nablusi menulis kitab Khulashatu At-Tahqiq fi Bayani Hukmi At-Taqlid wa At-Talfiq. Di dalam kitab itu beliau dengan tegas tidak membolehkan talfiq antar mazhab.1

Selain itu ada As-Saffarini yang juga tidak membolehkan talfiq antar mazhab. Nama asli beliau Muhammad bin Ahmad bin Salim Al-Hanbali. Kitab yang beliau tulis berjudul At-Tahqiq fi Buthlan At-Talfiq.2

Juga ada ulama lain yang tegas mengharamkan talfiq antar mazhab, yaitu Al-‘Alawi Asy-Syanqithi. Beliau menulis dua kitab sekaligus, Manaqi Ash-Shu’ud dan kitab yang menjadi syarah (penjelasan) Nasyril Bunud ‘ala Maraqi Ash-Shu’ud.3

Al-Muthi’I juga termasuk yang mengharamkan talfiq antar mazhab. Hal itu ditegaskan dalam kitab beliau Sullamu Al-Wushul li Syarhi Nihayati As-Suul.4

As-Syeikh Muhammad Amin Asy-Syanqithi, ulama yang banyak menulis kitab, seperti Tafsir Adhwa’ Al-Bayyan dan juga Mudzakkirah Ushul Fiqih. Dalam urusan talfiq ini beliau mengharamkannya, di antaranya di dalam tulisan beliau Syarah Maraqi Ash-Shu’ud.5

Bahkan Al-Hashkafi malah mengklaim dalam kitab Ad-Dur Al-Mukhtar Syarah Tanwir Al-Abshar bahwa haramnya talfiq antar mazhab itu sudah menjadi ijma’ di antara para ulama.6

Mereka yang mengharamkan talfiq antar mazhab punya banyak hujjah dan argumentasi, di antaranya:

a . Mencegah Kehancuran

Seandainya pintu talfiq ini dibuka lebar, maka sangat dikhawatirkan terjadi kerusakan yang besar di dalam tubuh syariat Islam dan hancurnya berbagai mazhab ulama yang telah dengan susah payah dibangun dengan ijtihad, ilmu, dan sepenuh kemampuan.

Sebab talfiq itu menurut mereka tidak lain pada hakikatnya adalah semacam kanibalisasi mazhab-mazhab yang sudah paten, sehingga kalau mazhab itu dioplos-ulang, maka dengan sendirinya semua mazhab itu akan hancur lebur.

Kalau mazhab-mazhab yang sudah muktamad sejak 13 abad itu dihancurkan, sama saja dengan meruntuhkan seluruh bangunan Syariah Islam.

b. Kaidah Kebenaran Hanya Satu

Ada sebuah kaidah yang dianut oleh mereka yang mengharamkan talfiq, yaitu bahwa kebenaran di sisi Allah itu hanya ada satu. Kebenaran tidak mungkin ada dua, tiga, empat, dan seterusnya.

Sedangkan prinsip talfiq itu justru bertentangan dengan kaidah di atas. Sebab dalam pandangan talfiq, semua mujtahid itu benar, padahal pendapat mereka jelas-jelas berbeda satu dengan yang lain.

c. Tidak Ada Dalil Yang Membolehkan

Menurut mereka yang mengharamkan talfiq, tidak ada satu pun dalil di dalam syariat Islam yang menghalalkan talfiq antar mazhab. Bahkan tidak pernah ada contoh dari para ulama salaf sebelumnya yang pernah melakukan talfiq antar mazhab.

Adapun bila kita temukan bahwa ada sebagian ulama di masa salaf yang sekilas seperti melakukan talfiq, sebenarnya itu hanya terbatas pada kesan saja. Namun, secara hakikatnya, mereka tidak melakukan talfiq.

Yang mereka lakukan adalah berijtihad dari awal, dan kebetulan hasil ijtihad mereka kalau dikomparasikan dengan pendapat-pendapat mazhab yang sudah ada sebelumnya, mirip seperti mencomot dari sana dan memungut sini.

Padahal, mereka adalah ahli ijtihad yang tentunya tidak akan melakukan pencomotan begitu saja, sebab mereka tidak melakukan taqlid.

[2] Halal

Di sisi yang lain, ada kalangan ulama yang justru berpendapat sebaliknya. Bagi mereka, talfiq antara mazhab itu hukumnya halal-halal saja. Tidak ada larangan apa pun untuk melakukan talfiq.

Di antara mereka yang menghalalkan talfiq ini antara lain para ulama maghrib dari kalangan Mazhab Al-Malikiyah seperti Ad-Dasuqi. Beliau punya karya Hasyiyatu Ad-Dasuqi ‘ala Asy-Syarhi Al-Kabir.7

Kalangan ulama yang menghalalkan praktik talfiq antar mazhab ini juga punya hujjah dan argumentasi yang mereka yakini kebenarannya. Di antaranya adalah:

a. Menghindari Haraj dan Masyaqqah

Mengharamkan talfiq antar mazhab adalah sebuah tindakan yang amat bersifat haraj (memberatkan) dan masyaqqah (menyulitkan), khususnya buat mereka yang awam dengan ilmu-ilmu agama versi mazhab tertentu.

Apalagi kalau mengingat bahwa amat jarang ulama di masa sekarang ini yang mengajarkan ilmu fiqih lewat jalur khusus satu mazhab saja. Selain itu, kenyataannya tidak semua ulama terikat pada satu mazhab tertentu.

Barangkali pada kurun waktu tertentu, dan di daerah tertentu, pengajaran ilmu agama memang disampaikan lewat para ulama yang secara khusus mendapatkan pendidikan ilmu fiqih lewat satu mazhab secara eksklusif, dan tidak sedikit pun mendapatkan pandangan dari mazhab selain apa yang telah diajarkan gurunya.

Namun seiring dengan berubahnya zaman dan bertebarannya banyak mazhab di tengah masyarakat, nyaris sulit sekali bagi orang awam untuk mengetahui dan membedakan detail-detail fatwa dan merujuknya kepada masing-masing mazhab.

Oleh karena itu menurut para pendukung talfiq ini, mau tidak mau talfiq antara pendapat dari berbagai mazhab tidak logis kalau diharamkan.

b. Berpegang Pada Satu Mazhab Tidak Ada Dalilnya

Di sisi yang lain, para ulama yang membolehkan talfiq berargumentasi bahwa tidak ada satu pun ayat Al-Qur’an atau pun hadits nabawi yang secara tegas mengharuskan seseorang untuk berguru kepada satu orang saja, atau berkomitmen kepada satu mazhab saja.

Yang terjadi di masa para sahabat justru sebaliknya, para sahabat terbiasa bertanya kepada mereka yang lebih tinggi dan lebih banyak ilmunya dari kalangan sahabat, namun tanpa ada ketentuan kalau sudah bertanya kepada Abu Bakar, lalu tidak boleh bertanya kepada Umar, Utsman, atau Ali.

Mereka justru terbiasa bertanya kepada banyak sahabat, bahkan kalau merasa agak kurang yakin dengan suatu jawaban, mereka bertanya kepada sahabat yang lain. Sehingga sering terjadi perbandingan antara beberapa pendapat di kalangan sahabat itu sendiri.

Dan para sahabat yang sering dirujuk pendapatnya itu, juga tidak pernah mewanti-wanti agar orang yang bertanya harus selalu setia seterusnya dengan pendapatnya, dan tidak pernah melarang mereka untuk bertanya kepada sahabat yang lain.

Karena itu menurut pendapat ini, keharaman talfiq itu justru tidak dibenarkan dan tidak sejalan dengan praktik para sahabat nabi sendiri.

c. Pendiri Mazhab Tidak Mengharamkan Talfiq

Ini adalah hujjah yang paling kuat di antara semua hujjah. Kalau dikatakan bahwa haram hukumnya untuk melakukan talfiq, maka menurut mereka yang menghalalkannya, justru para pendiri mazhab yang muktamad seperti Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i, dan Ahmad bin Hanbal rahimahullahu ‘alaihim ajmain justru tidak pernah mengharamkan talfiq.

Padahal para pembela haramnya talfiq itu beralibi bahwa haramnya talfiq diambil karena takut akan merusak mazhab-mazhab yang sudah ada sebelumnya.

Tetapi kenyataannya, para imam mazhab masing-masing justru tidak pernah melarang terjadinya talfiq.

[3] Ada Yang Haram Ada Yang Halal

Pendapat yang ketiga berada di posisi tengah, yaitu tidak mengharamkan talfiq secara mutlak, namun juga tidak menghalalkan secara mutlak juga.

Bagi mereka, harus diakui bahwa ada sebagian bentuk talfiq yang hukumnya haram dan tidak boleh dilakukan. Namun, juga tidak bisa dipungkiri bahwa dari sebagian bentuk talfiq itu ada yang diperbolehkan, bahkan malah dianjurkan.

Sehingga pendapat yang ketiga ini memilah dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Salah satunya adalah Syaikh Abdul Wahab Khalaf, beliau berpendapat bahwa seorang muqallid yang berpegang pada madzhab imam tertentu, boleh saja secara syar’i mengambil pendapat imam madzhab lain dalam sebagian permasalahan. Dengan catatan tujuan dari pengambilannya adalah menghilangkan kesulitan atau menolak bahaya yang menimpanya, bukan bertujuan menghimpun rukhsah-rukhsah dari Madzhab yang berbeda demi terbebas dari kekangan dan beban hukum-hukum tersebut. Argumentasi beliau antara lain:

a. Menghilangkan Kesulitan

Hal itu demi menghilangkan kesulitan yang dialami muqallid. Sedangkan menghilangkan kesulitan merupakan hal yang sesuai dengan dasar syariat Islam. Banyak ayat-ayat yang menjelaskan demikian, salah satunya adalah firman Allah dalam surat al-Hajj: 78.

Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam satu agama suatu kesempitan.

b. Sandaran Hukum

Sandaran hukum dalam masalah-masalah cabang yang bersifat aplikatif dan menjadi objek perbedaan pendapat di kalangan imam adalah dalil yang bersifat implisit (dzanni), baik nash-nash yang bersifat multi interpretasi maupun perangkat-perangkat ijtihad lainnya yang ditetapkan syariat. 

Setiap mujtahid hanya berpendapat pada apa yang menurut perkiraan besarnya adalah hukum syar’i, dan ia tidak memastikan pendapatnya itulah adalah hukum syar’i, sedangkan pendapat yang berbeda dengannya bukan hukum syar’i.

Dengan demikian, setiap hukum yang di tentukan mujtahid dalam masalah yang merupakan ranah khilafiyah adalah benar berdasarkan perkiraan besarnya, namun bisa jadi salah.

Dan ketika seorang muqallid berpegang pada madzhab imam tertentu, berarti ia sedang berpegang pada madzhab imam tertentu , berarti ia juga sedang berpegang pada pendapat yang benar menurut pendapat imam lain.

Syaikh Yusuf Qardhawi dalam fatwanya menyebutkan, “Sebagian ulama membolehkan talfiq, sebagian lain melarangnya. Sedangkan pendapatku, jika seseorang melakukan talfiq dengan cara hanya tatabbu’ rukhas (mengikut pendapat ulama paling mudah & ringan) tanpa memperhatikan dalilnya, maka yang seperti ini tidak boleh. Namun, jika melakukan talfiq dengan cara mengambil yang rajih dan kuat menurut pandangannya, maka talfiq yang semacam ini tidak mengapa.”8

Menurut Wahbah Zuhaili, kebolehan  bertalfiq  ini dibatasi  dengan  tiga  syarat, yaitu menghindari hal-hal berikut:

  1. Pertama, Mencari yang teringan saja dengan sengaja tanpa ada alasan darurat atau uzur.  Ini dilarang  untuk  menutup  pintu  kerusakan dengan lepasnya taklif. 
  2. Kedua, talfiq  yang dilakukan berakibat pada pembatalan hukum hakim, sedangkan hukum seorang hakim adalah keputusan final perkara.
  3. Ketiga, talfiq yang mengharuskan rujuk atau kembali dari apa yang telah dilakukannya secara  bertaklid  atau  dari  perkara  yang  telah disepakati  ulama yang pasti ada pada kasus yang ditaklidinya, seperti dalam kasus-kasus mu’amalah, hudud, pembagian harta rampasan dan pajak dan pernikahan. Dalam hal-hal tersebut dilarang talfiq  karena menjaga maslahah.

Alhasil, demi kemaslahatan, sebenarnya masih ada ruang untuk talfiq. Apalagi ketika berhadapan dengan kondisi dharurat, maka talfiq menjadi satu-satu pilihan yang mesti kita tempuh asal jangan sampai bertentangan dengan spirit syara’ (maqashid alsyari’ah).

B. Ruang Lingkup Talfiq

Para ulama` fiqh sepakat bahwa ruang lingkup talfiq ini terbatas hanya pada masalah-masalah furu`iyah ijtihadiyah dzanniyyah (cabang-cabang fikih ijtihadi yang sifatnya masih perkiraan).

Adapun pada masalah ushuliyyah (pokok-pokok dasar agama) yang sifatnya I’tiqadi (keyakinan) seperti masalah iman atau aqidah itu bukanlah ruang lingkup talfiq.

Dikarenakan para jumhur ulama’ telah mengatakan bertaklid saja dalam masalah ini tidak dibenarkan apalagi bertalfiq.9 Serta tidak diperbolehkan bertalfiq lagi ketika hasilnya akan menghalalkan sesuatu yang jelas-jelas keharamannya dengan adanya nash qoth’i, seperti haramnya zina, mencuri, dan minuman keras.

Sehingga meski ranah talfiq ini dibolehkan oleh sebagian ulama, namun tetap dibatasi oleh hal-hal berikut ini:

  1. Bukan Masalah Qath’i

Apa yang ditalfiq itu adalah masalah-masalah yang bersifat ijtihadiyah dalam urusan masalah fiqihiyah. Suatu masalah yang dimungkinkan para ulama memang berbeda-beda dalam hasil ijtihad mereka, karena tidak ada dalil atau nash yang qathi secara dilalah. 

Maka kita tidak mengenal istilah talfiq dalam masalah i’tiqadiyah atau wilayah yang masuk ke dalam urusan fundamental aqidah. Talfiq juga tidak dilakukan dalam masalah yang sudah qath’i baik secara tsubut atau pun secara dilalah. 

Misalnya masalah yang sudah menjadi ijma’ para ulama, seperti bahwa shalat lima waktu itu hukumnya fardhu ‘ain, tidak ada istilah talfiq di dalamnya. 

2. Bukan Pindah Mazhab

Talfiq itu mencampur aduk, menggabungkan beberapa pendapat fiqih dari beberapa mazhab. Maka seorang yang pindah mazhab atau berganti mazhab, baik untuk sementara atau untuk seterusnya, tidak dikatakan melakukan talfiq. 

Sebagai contoh sederhana, seseorang yang bermazhab Asy-Syafi’iyah ketika pergi haji ke Baitullah untuk sementara mengganti mazhabnya menjadi mazhab Al-Hanafiyah, khususnya dalam hal sentuhan kulit antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram tanpa pelapis. Di dalam mazhab Asy-Syafi’iyah, sentuhan itu membatalkan wudhu, sementara di dalam mazhab Al-Hanafiyah sentuhan itu tidak membatalkan wudhu’. 

Maka orang ini tidak dikatakan melakukan talfiq, karena dia tidak melakukan pencampuran mazhab, tetapi dia berpindah mazhab, meski hanya bersifat sementara dan hanya pada satu masalah saja.

Ketika Al-Imam Asy-Syafi’ie rahimahullah menciptakan mazhab baru, setelah sebelumnya beliau telah menciptakan mazhab yang lama, maka bila ada seorang pemeluk mazhab Asy-Syafi’yah berpindah ke mazhab Asy-Syafi’iyah yang baru, dia tidak dikatakan melakukan talfiq. Karena dia tidak mencampur mazhab lama dengan mazhab baru untuk digabungkan menjadi satu. 

3. Dalam Satu Masalah

Talfiq itu berarti mencampur dari dua sumber atau lebih, namun pencampuran itu dilakukan di dalam satu masalah ibadah atau muamalah.

Maka, orang yang shalatnya ikut mazhab Asy-syafi’iyah tapi puasanya menganut mazhab Al-Malikiyah, tidak dikatakan mencampur mazhab. Sebab pencampuran itu terjadi pada dua masalah yang berbeda dan terpisah serta tidak saling berpengaruh. 

Talfiq hanya terjadi manakala pencampuan itu dilakukan di dalam satu masalah yang sama, atau dua masalah tetapi saling terkait.

C. Contoh Masalah Talfiq

Untuk lebih menjelaskan apa yang dimaksud  dengan talfiq antara mazhab sebagaimana ruang lingkup dan batasan yang telah disebutkan di atas, di sini penulis akan memberikan beberapa contoh yang lebih implementatif dari keseharian kita dalam beribadah atau bermuamalah.

1] Masalah Wudhu

a. Pertama

Dalam mazhab Asy-Syafi’iyah, asalkan sebagian kepala atau beberapa helai rambut telah basah, maka hal itu sudah dianggap sah dalam mengusap kepala sebagai rukun wudhu. Sedangkan di dalam mazhab Al-Hanabilah, yang disebut mengusap kepala itu haruslah seluruh kepala.10

Sementara, di dalam mazhab Asy-Syafi’iyah, seorang laki-laki yang menyentuh kulit perempuan ajnabiyah (bukan mahram) tanpa alas atau pelapis, dianggap telah batal wudhu’nya. Sedangkan mazhab Al-hanabilah tidak demikian, karena batalnya wudhu hanya bila terjadi persentuhan dengan sengaja, tanpa penghalang dan diikuti oleh syahwat.11

Bentuk talfiq dalam hal ini adalah ketika seseorang  dalam wudhu mengambil sebagian mazhab Asy-Syafi’iyah dan sebagian lagi dari mazhab AlHanabilah.

Misalnya, dia mengatakan bahwa cukuplah mengusap beberapa helai rambut sebagai bentuk mengusap kepala (mazhab Asy-Syafi’iyah), namun berpendapat bahwa sentuhan kulit antara laki-laki dan perempuan ajnabiyah tidak membatalkan wudhu’ (mazhab Al-Hanabilah).

Seandainya bentuk wudhu yang baru diciptakan ini disodorkan kepada masing-masing mazhab, yaitu kepada mazhab Asy-Syafi’iyah dan mazhab Al-Hanabilah, pastilah keduanya mengatakan bahwa wudhu hasil talfiq itu tidak bisa diterima dan batal.

Mazhab Asy-Syafi’iyah mengatakan tidak diterima, karena orang itu telah batal menyentuh kulit wanita tanpa alas, sedang mazhab Al-Hanabilah mengatakan wudhu itu tidak sah, karena tidak seluruh kepala kena air.

b. Kedua

Seseorang berwudhu mengikuti madzhab Syafi’iyah dengan mengusap hanya sebagian kepala saja, lalu bertemu dengan anjing dan mengusap-usapnya mengikuti pendapat Malikiyah yang berpendapat bahwa tidak najisnya tubuh anjing.12

Maka, ketika ia sholat dengan cara wudhu seperti ini, sahnya sholat tersebut dengan cara talfiq.

2] Masalah Nikah dan Talaq

a. Pertama

Dalam mazhab Al-Hanafiyah, sebuah pernikahan tidak mensyaratkan harus ada wali, khususnya bagi wanita yang sudah pernah menikah sebelumnya.

Dalam mazhab Al-Malikiyah, sebuah pernikahan sudah dianggap sah meskipun tidak ada saksi, cukup dengan i’lan (pengumuman).

Dan dalam pandangan mazhab Asy-Syafi’iyah, seandainya seorang istri ridha tidak diberi mahar, maka pernikahan tetap sah hukumnya karena mahar bukan bagian dari rukun nikah.

Lalu seorang laki-laki menikahi perempuan dengan tanpa wali dengan alasan mengikuti pendapat hanafiyah, kemudian praktek nikahnya juga tanpa mengajukan mahar mengikuti pendapat syafi’iyah, dan tanpa menghadirkan saksi mengikuti pendapat malikiyah.

Akan tetapi pernikahan semacam ini tak seorangpun dari para ulama yang berpendapat demikian dan semua sepakat bahwa pernikahannya tidak sah.

b. Kedua

Membuat aturan pernikahan dimana akad nikahnya harus dengan wali dan saksi dengan alasan mengikuti madzhab Syafi’iyyah, akan tetapi mengenai sah jatuhnya talaq raj’i mengikuti madzhab Hanafiyyah yang berpendapat sah ruju’nya bil fi’li (langsung bersetubuh tanpa ada ucapan ruju’).

Contoh talfiq seperti ini juga tidak diperbolehkan dengan alasan seperti di atas karena masih dapat menimbulkan bahaya dan menyalahi kesepakatan para ulama.

c. Ketiga

Istri yang ditalak untuk yang ketiga kalinya tentu tidak bisa langsung dinikahi kembali, karena syaratnya harus menikah terlebih dahulu dengan orang lain. 

Lalu ada seorang wanita untuk tujuan tahlil  (menghalalkan kembali pernikahan dengan suaminya yang pertama), dia menikah dengan seorang anak laki-laki yang baru berumur 9 tahun dan terjadilah hubungan suami istri diantara keduanya, maka hubungan suami istri itu dikatakan sah menurut madzhab Asy-Syafi’iyah. 

Dan bila digabung dengan mengambil pendapat mazhab Al-Hanabilah, bila anak kecil itu mentalaknya, maka wanita itu tidak membutuhkan masa ‘iddah. 

Sehingga suaminya yang pertama sudah bisa menikahinya kembali langsung tanpa menunggu masa iddah si wanita tersebut. Penggabungan dua hal ini disebut dengan talfiq.13

D. Kesimpulan

Pengertian Talfiq adalah beramal dengan menggabungkan dua pendapat (dua madzhab) atau lebih dalam satu qadhiyah (masalah) yang memiliki rukun-rukun dan cabang-cabang, sehingga memunculkan suatu hakikat amalan gabungan yang tidak pernah dinyatakan oleh seorang pun (dari para imam mujtahid), tidak oleh imam yang dulu dia ikuti madzhabnya maupun imam “barunya”.

Para ulama` fiqh sepakat bahwa ruang lingkup talfiq ini terbatas hanya pada masalah-masalah furu`iyah ijtihadiyah dzanniyyah (cabang-cabang fikih ijtihadi yang sifatnya masih perkiraan).  Adapun pada masalah ushuliyyah (pokok dasar agama) yang sifatnya I’tiqadi seperti masalah iman atau aqidah itu bukanlah ruang lingkup talfiq.

Ulama berbeda pendapat untuk menyikapi hukum talfiq, ada yang membolehkan, ada yang melarang, ada pula yang membolehkan dengan beberapa persyaratan, sebagaimana telah dijelaskan dalam uraian di atas. Larangan talfiq tidak bersifat absolut, karena tidak ada dalil yang sharih (jelas) tentang pelarangan tersebut.

Artikel ini telah mengalami penyesuaian dan disadur dari Makalah Talfiq Antar Mazhab dan dari Buku Seri Fiqih Kehidupan Jilid 6 : Haji & Umrah. Masing-masing disusun oleh Ustadzah Vivi Kurniawati, Lc. dan Ustadz Ahmad Sarwat, Lc., MA

__________________________________________________________________________

1 Khulashatu At-Tahqiq fi Bayani Hukmi At-Taqlid wa At-Talfiq, hal. 55

2 At-Tahqiq fi Buthlan At-Talfiq, hal. 171

3 Nasyril Bunud ‘ala Maraqi Ash-Shu’ud, jilid 2 hal. 343

4 Sullamu Al-Wushul li Syarhi Nihayati As-Suul, jilid 2 hal. 629

5 Syarah Maraqi Ash-Shu’ud, jilid 2 hal. 681

6 Ad-Dur Al-Mukhtar Syarah Tanwir Al-Abshar, jilid 1 hal. 75

7 Hasyiyatu Ad-Dasuqi ‘ala Asy-Syarhi Al-Kabir, jilid 1 hal. 20

8 Yusuf Qardhawi, Fatawi Mu’ashirah, jilid 2, hlm. 121

9 Wahbah Zuhaili, Ushul al-Fikih al-Islami, (Damaskus: Dar al-Fikr, 1406 H), jilid 2, hlm. 1.122

10 Wizarah al-Awqaf wa al-Su’un al-Islamiyah, al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, (Kuwait: Wizarah al-Awqaf wa al-Su’un al-Islamiyah, 1987), cetakan 1, jilid 43, hlm. 361

11 Abdur Rahman Al-Jaziri, Kitab Al-Fiqh ‘ala Madzahib Al-Arba’ah (Beirut: Daar Al-Kutub Al-Ilmiyah, 1424 H), cetakan 2, jilid 1, hlm. 76

12 Wizarah al-Awqaf wa al-Su’un al-Islamiyah, al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, (Kuwait: Wizarah al-Awqaf wa al-Su’un al-Islamiyah, 1987), cetakan 1, jilid 13, hlm. 193

13 Muhammad Sa’id Albani, ‘Umdah al-Tahqiq fi al-Taqlid wa al-Talfiq, (Damaskus: al-Maktab al-Islami, 1981), hlm. 101

By : Kabilah Tour Mudah, Aman & Berkah

kabilah

KABILAH TOUR adalah Perusahaan yang telah memiliki legalitas PT (Perseroan Terbatas ) yang bergerak di bidang jasa Biro Perjalanan Wisata.Melayani promo paket umroh yang Mudah, Aman Dan Berkah hub: 022-5233562 / 081290007941, Jalan Leuwipanjang No.32B Kota Bandung 40234 kunjungi:http://www.kabilahtour.co.id