fbpx
4 views

Keutamaan Umrah

Ada begitu banyak keutamaan ibadah umrah yang disebutkan di dalam nash-nash syariah. Di antara keutamaan umrah adalah :

  1. Menghapus Dosa

Di antara keutamaan ibadah umrah adalah diampuninya dosa-dosa yang pernah dikerjakan. Hal itu sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah SAW :

“Dari satu umrah ke umrah yang lainnya menjadi penghapus dosa.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tentu pengertian dosa-dosa yang diampuni disini adalah bila semua syarat dan ketentuan minta ampun dipenuhi. Kalau tidak dipenuhi, maka tentu tidak akan diampuni meski melakukan umrah berkali-kali tiap hari.

Untuk itu, orang yang menjalankan ibadah umrah, kalau mau dosa-dosanya diampuni, maka dia harus terlebih dahulu memenuhi berbagai persyaratan agar diampuni dosanya, di antaranya adalah 

a.Tahu dan Mengerti Dosa-dosa Yang Dilakukan

Untuk bisa minta ampun kepada Allah, maka syaratnya seseorang harus tahu tentang dosa apa saja yang pernah dia kerjakan. Dia harus mengerti bahwa perbuatannya itu memang haram, maksiat serta mendatangkan murka Allah. Meskipun pengetahuan dan kesadarannya datang terlambat, karena tidak pernag belajar ilmu syariah.

Boleh jadi ada orang yang mengerjakan perbuatan maksiat, namun dia tidak tahu atau belum sadar bahwa apa yang dikerjakannya itu mendatangkan murka dari Allah SWT. Tentu di sisi Allah SWT tetap dihitung sebagai dosa juga. Kemudian ketika dia banyak belajar dan belajar tentang hukum-hukum agama, lalu dia akhirnya sadar bahwa apa yang dilakukannya selama ini adalah perbuatan haram. Lalu, dia memohon ampunan. Disitulah kemudian Allah SWT akan mengampuni.

Sebaliknya, orang yang tidak tahu kalau perbuatannya itu maksiat, mana bisa dia minta ampun kepada Allah? Apa yang akan dijadikan sebagai permohonan?

Pejabat yang menganggap jual-beli jabatan tu halal, mana mungkin dia akan minta ampun tentang urusan kemaksiatannya itu? Pegawai Negeri Sipil yang terbiasa main sunat uang rakyat dan menganggapnya wajar dan halal, mana bisa dia minta ampun? Wakil rakyat yang menghalalkan praktek “dagang sapi” dan obral dusta di tengah rakyatnya, mana tahu dia kalau perbuatannya itu haram dan mendatangkan murka besar dari Allah SWT? Dan tidak ada alasan baginya untuk minta ampun kepada Allah, karena dia memandang perbuatannya itu baik, sah, dan halal-halal saja.

Padahal setan itu telah menghias pandangan mereka dan menjadikan keburukan itu indah di mata mereka.

“Dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka, lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka, lalu benar-benar mereka merubahnya. Barangsiapa yang menjadikan setan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.” (QS. An-Nisa’, ayat 119)

b. Berhenti Dari Maksiat

Tanpa berhenti dari maksiat, maka permohonan ampun yang dipanjatkan akan sia-sia belaka, tidak ada gunanya, dan sama sekali tidak akan berbekas.

Sebab Rasulullah SAW sudah menegaskan dalam haditsnya bahwa orang yang masih saja makan dari yang haram, percuma saja dia meminta ampun.

“Kemudian Rasulullah SAW menyebut seseorang yang melakukan perjalanan panjang hingga rambutnya kusut dan berdebu, sambil menadahkan tangannya ke langit menyeru, “Ya Tuhan, Ya Tuhan.” Sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan diberi makan dengan yang haram. Bagaimana do’anya bisa dikabulkan?” (HR. Bukhari)

Hadits ini menceritakan tipologi orang yang suka ibadah tapi karena kebodohannya, ternyata di sisi lain justru maksiatnya jalan terus. Tipa hari minta ampun sementara tiap hari rajin durhaka kepada Allah, semata-mata karena dia orang bodoh yang tidak tahu halal dan haram.

c. Ada Rasa Sesal dan Sakit Hati

Orang yang meminta ampun itu adalah orang yang merasa menyesal dan sakit hati atas perilakunya sendiri di masa lalu. Maka rasa sesal dan sakit hati itu akan menjadi bukti bahwa dirinya telah berhenti untuk selamanya dari perbuatan maksiat.

Sedangkan orang yang mnta ampun tetapi masih saja menikmati segala kenangan kemaksiatan adalah orang yang belum sempurna keinginan bertaubatnya. Akibatnya, boleh jadi Allah SWT pun tidak atau belum lagi menerima permohonan ampunannya.

d. Membentengi Diri

Agar dosa diampuni Allah, maka seseorang wajib membangun benteng yang sangat kokoh untuk melindungi dirinya dari ajakan dan pengaruh setan yang menarik-narik dirinya agar kembali melakukan maksiat berulang-ulang.

Boleh jadi seseorang pada dasarnya orang baik, namun dia hidup di tengah lingkungan yang buruk. Maka jatuhnya dia ke lubang maksiat hanya masalah waktu, cepat atau lambat, dirinya pasti akan masuk lubang itu. Karena memang begitulah sifat manusia, dirinya akan mudah dipengaruhi oleh lingkungannya.

e. Meminta Keridhaan Orang Lain

Kesalahan yang terkait dengan kerugian di pihak orang lain tentu wajib dihapus dengan cara meminta keridhaannya. Kalau kesalahan itu terkait dengan nilai harta, seperti masalah hutang atau ganti rugi, maka wajib dipenuhi bila memang itu satu-satunya cara. Lain halnya bila pihak lain telah membebaskan hutang atau ganti rugi secara ikhlas tanpa syarat.

Dan kalau kesalahan itu bersifat luka atau sakit akibat dipukul, maka kalau untuk mendapatkan keridhaannya harus dengan balasan (qishash), maka apa boleh buat, perbuatan itu harus dilakukan.

f. Memperbaiki Kesalahan

Dan bila kesalahan itu terkait dengan membuat orang lain jatuh ke jurang dosa, maka pertanggung-jawaban yang harus dilakukan adalah bagaimana mengembalikan orang lain itu ke jalan yang benar.

Seorang mantan pemakai drugs (obat-obatan terlarang) yang punya banyak kader, maka dia tentu bertanggung-jawab bagaimana mengembalikan kader-kadernya itu kembali ke jalan yang benar. Sebab yang menyebabkan mereka tersesat adalah dirinya, maka sebagai penebus dosa, dia wajib bertanggung-jawab atas apa yang telah dilakukannya.

  1. Dikabulkan Do’a dan Diampuni

Di antara kebaikan yang Rasulullah SAW janjikan buat mereka yang mengerjakan ibadah umrah, termasuk haji, adalah bila berdo’a akan dikabulkan, dan bila meminta ampunan akan diberikan.

Dasarnya adalah karena orang yang mengerjakan ibadah umrah tidak lain mereka menjadi tetamu buat Allah SWT. Maka sebagai ‘tuan rumah’, pastilah Allah SWT akan memberikan pelayanan yang terbaik buat sang tetamu. Dan pemberian yang terbaik adalah berupa dikabulkannya do’a serta diterimanya ampunan.

Dan janji itu adalah sabda beliau SAW sendiri, yang tertera dalam kitab hadits :

“Para jama’ah haji dan umrah adalah tamu Allah. Allah menyeru mereka lalu mereka pun menyambut seruan-Nya; mereka meminta kepada-Nya lalu Dia pun memberinya.” (HR. Ibnu Majah)

  1. Umrah Ramadhan Berpahala Seperti Haji

Di antara keutamaan ibadah umrah adalah bahwa bila dilakukan pada bulan Ramadhan, maka nilai pahalanya menyamai orang yang menjalankan ibadah haji. Hal itu adalah sabda Rasulullah SAW :

“Bila datag bulan Ramadhan, maka lakukanlah umrah. Karena umrah di bulan Ramadhan itu (pahalanya) menyamai haji.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Artikel ini disadur dari Buku Seri Fiqih Kehidupan Jilid 6 : Haji & Umrah, halaman 246-250. Disusun oleh Ustadz Ahmad Sarwat, Lc., MA

 

By : Kabilah Tour Mudah,Aman dan Berkah

 

kabilah

KABILAH TOUR adalah Perusahaan yang telah memiliki legalitas PT (Perseroan Terbatas ) yang bergerak di bidang jasa Biro Perjalanan Wisata.Melayani promo paket umroh yang Mudah, Aman Dan Berkah hub: 022-5233562 / 081290007941, Jalan Leuwipanjang No.32B Kota Bandung 40234 kunjungi:http://www.kabilahtour.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published.