fbpx
2 views

Makna Ibadah Haji

Tauhid, keyakinan akan keesaan Allah SWT, merupakan penemuan manusia yang terbesar dan yang tidak dapat diabaikan oleh para ilmuwan atau sejarahwan. Ia tidak dapat dibandingkan dengan penemuan roda, api, listrik, atau rahasia-rahasia atom – betapapun besarnya pengaruh penemuan-penemuan tersebut. Penemuan roda dan lain-lainnya itu dikuasai oleh manusia, sedangkan penemuan Ibrahim (yang tauhid) menguasai jiwa dan raga manusia. Penemuan Ibrahim menyebabkan manusia yang tadinya tunduk kepada alam menjadi mampu menguasai alam serta dapat menilai baik-buruknya sesuatu. Penemuan roda dan lain-lainnya itu dapat menjadikan manusia berlaku sewenang-wenang, tetapi kesewenang-wenangan ini tidak mungkin dilakukannya selama dikaitkan dengan kedudukannya sebagai makhluk dan hubungan makhluk ini dengan Tuhan, alam raya, dan makhluk-makluk sesamanya.1

“Kepastian” yang dibutuhkan oleh ilmuwan menyangkut hukum-hukum dan tata kerja alam ini, tidak dapat diperolehnya kecuali melalui keyakinan tentang ajaran Bapak monoteisme itu. Karena, apa yang dapat menjamin kepastian tersebut jika suatu kali tuhan ini mengaturnya dan di kali lain tuhan itu? Dengan demikian, monoteisme Ibrahim as. bukan sekedar merupakan hakikat keagamaan yang benar, tetapi sekaligus merupakan penunjang akal ilmiah manusia yang lebih tepat, lebih teliti, dan lagi lebih meyakinkan.

Tuhan yang diperkenankan Ibrahim as. bukan sekedar tuhan suku, bangsa, atau golongan tertentu manusia, tetapi Tuhan seru sekalian alam. Tuhan yang imanen sekaligus transenden, yang dekat kepada manusia, menyertai mereka semua secara keseluruhan dan orang per oang, baik sendirian atau ketika dalam kelompok, pada saat diam atau bergerak, tidur atau jaga. Bahkan sebelum dan sesudah kehidupan dan kematiannya, Tuhan menyertai manusia. Dia bukanlah Tuhan yang sifat-sifat-Nya hanya monopoli pengetahuan para pemuka agama, atau yang hanya dapat dihubungi oleh mereka, tetapi Dia adalah Tuhan manusia seluruhnya secara universal.

Ajaran Ibrahim as. Atau “penemuan” beliau benar-benar merupakan suatu lembaran baru dalam sejarah kepercayaan dan kemanusiaan. Walaupun tauhid bukan sesuatu yang tidak dikenal sebelum masa beliau, demikian pula neraca keadilan Tuhan, serta pengabdian kepada yang hak dan transenden, namun itu semua sampai pada masa Ibrahim bukan merupakan ajakan kenabian dan risalah untuk seluruh umat manusia. Di Mesir, 5000 tahun yang lalu, telah dikumandangkan ajaran keesaan Tuhan, serta persamaan antara sesama manusia; tetapi, itu merupakan dekrit Ikhnatun*) dari singgasana kekuasaan yang kemudian dibatalkan oleh dekrit penguasa sesudahnya.

Ibrahim as. datang mengumandangkan neraca keadilan Ilashi, yang mempersamakan semua manusia di hadapan-Nya. Sehingga, betapapun kuatnya seseorang, ia tetap sama di hadapan Tuhan dengan orang yang selemah-lemahnya. Karena, kekuatan si kuat diperoleh dari-Nya, sedangkan kelemahan si lemah adalah atas hikmah kebijaksanaan-Nya. Dia dapat mencabut atau menganugerahkan kekuatan itu kepada siapa saja sesuai dengan sunnah-sunnah yang ditetapkan-Nya.

Ibrahim as. hadir di pentas kehidupan pada suatu masa persimpangan menyangkut pandangan tentang manusia dan kemanusiaan. Beliau hadir pada masa ketika diperselisihkan tentang boleh-tidaknya manusia dijadikan sesajen kepada Tuhan. Satu pihak membolehkan dan pihak lain tidak membolehkan, karena manusia terlalu mulia untuk tujuan tersebut. Melalui Ibrahim secara amaliah dan tegas larangan tersebut dikukuhkan. Bukan karena manusia terlalu tinggi nilainya sehingga tidak wajar untuk dikorbankan, tetapi karena Tuhan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Putranya Isma’il diperintahkan Tuhan untuk dikorbankan, sebagai pertanda bahwa apa pun – bila panggilan telah tiba – wajar untuk dikorbankan demi karena Allah. Setelah perintah tersebut dilaksanakan sepenuh hati oleh ayah dan anak, Tuhan dengan kekuasaan-Nya menghalangi penyembelihan tersebut dan menggantikannya dengan domba sebagai pertanda bahwa hanya karena kasih sayang-Nya kepada manusia, maka praktik pengorbanan semacam itu tidak diperkenankan.

Ibrahim as. menemukan dan membina keyakinannya melalui pencarian dan pengalaman-pengalaman keruhanian yang dilauinya dan hal ini – secara Qur’ani – terbukti bukan saja dalam penemuannya tentang keesaan Tuhan seru sekalian alam, sebagaimana diuraikan dalam surah Al-An’am ayat 75, tetapi juga dalam keyakinan tentang hari kebangkitan. [Menarik untuk diketahui bahwa beliaulah satu-satunya nabi yang disebut oleh Al-Qur’an yang meminta kepada Tuhan untuk diperlihatkan bagaimana cara-Nya menghidupkan yang mati, dan permintaan beliau itu dikabulkan Tuhan – QS 2:260].

Demikianlah sebagian kecil dari keistimewaan Nabi Ibrahim as., sehingga wajar jika beliau dijadikan teladan untuk seluruh manusia, seperti yang ditegaskan oleh Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 127. Keteladanan tersebut antara lain diwujudkan dalam bentuk ibadah haji dengan berkunjung ke Mekkah, karena beliaulah – bersama putranya Ismail as. – yang membangun (kembali) pondasi-pondasi Ka’bah (QS 2:127), dan beliau pulalah yang diperintahkan untuk mengumandangkan syariat haji (QS 22:27).

Keteladanan yang diwujudkan dalam bentuk ibadah tersebut dan yang praktik-praktik ritualnya berkaitan dengan peristiwa yang dialami oleh beliau dan keluarganya, pada hakikatnya merupakan penegasan kembali dari setiap jama’ah haji, tentang keterikatannya dengan prinsip-prinsip keyakinan yang dianut oleh Ibrahim as. yang intinya adalah:

  1. Pengakuan akan keesaan Tuhan serta penolakan terhadap segala macam dan bentuk kemusyrikan, baik berupa patung-patung, bintang, bulan dan matahari, bahkan juga segala sesuatu selain Allah SWT.
  2. Keyakinan tentang adanya neraca keadilan Tuhan dalam kehidupan ini dan yang puncaknya akan diperoleh setiap makhluk pada hari kebangkitan kelak.
  3. Keyakinan tentang kemanusiaan yang besifat universal, tiada perbedaan dalam kemanusiaan seseorang dengan lainnya, betapapun terdapat perbedaan antara mereka dalam hal-hal lainnya.

Ketiga inti ajaran ini tercermin dengan jelas atau dilambangkan dalam praktik-praktik ibadah haji ajaran Islam.

Tulisan ini akan menitikberatkan uraian menyangkut butir ketiga, walaupun disadari bahwa keyakinan tentang keesaan Tuhan dan ketundukan semua makhluk di bawah pengawasan, pengaturan, dan pemeliharaan-Nya, mengantar makhluk ini – khususnya manusia – untuk menyadari bahwa mereka semua sama dalam ketundukan kepada Tuhan. Manusia, dalam pandangan Al-Qur’an, sama dari segi ini dengan makhluk-makhluk lain, walaupun manusia mempunyai kemampuan untuk menguasai dan mengatur banyak masalah lain, namun kemampuan tersebut bukan bersumber dari dirinya. Kemampuan tersebut merupakan akibat dari penundukan Tuhan dan karena ia berkewajiban untuk bersikap bersahabat dengannya.

Keyakinan akan keesaan Tuhan juga mengantar manusia menyadari bahwa semua manusia berada dalam kedudukan yang sama dari segi nilai kemanusiaan. Karena, semua mereka diciptakan dan berada di bawah kekuasaan Allah SWT. Surah Al-Hujurat ayat 13 menunjukkan betapa erat kaitan antara keyakinan akan keesaan Tuhan dengan persamaan nilai kemanusiaan.

Ibadah Haji dan Persamaan Nilai Kemanusiaan

Ibadah haji dikumandangkan oleh Ibrahim as. sekitar 3,600 tahun yang lalu. Sesudah masa beliau, praktik-praktiknya sedikit atau banyak telah mengalami perubahan, namun kemudian diluruskan kembali oleh Nabi Muhammad SAW. Salah satu yang diluruskan itu adalah praktik ritual yang bertentangan dengan penghayatan nilai kemanusiaan universal tersebut. Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 199 menegur sekelompok manusia (yang dikenal dengan nama al-hummas) yang merasa memiliki keistimewaan sehingga enggan bersatu dengan orang banyak dalam melakukan wuquf. Mereka wuquf di Muzdalifah sedangkan orang banyak di Arafah. Pemisahan diri yang dilatarbelakangi oleh perasaan superioritas dicegah oleh Al-Qur’n dan turunlah ayat tersebut: “Bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak dan mohon ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS 2:199).

Tidak jelas apakah praktik bergandengan tangan saat melaksanakan tawaf pada periode awal sejarah Islam bersumber dari ajaran Ibrahim as. dalam rangka mempererat persaudaraan dan rasa persamaan. Namun, yang jelas, Nabi SAW membatalkannya bukan dengan tujuan membatalkan persaudaraan dan persamaan itu, tetapi agaknya karena alasan-alasan praktis pelaksanaan tawaf.

Salah satu bukti yang jelas tentang keterkaitan ibadah haji dengan nilai-nilai kemanusiaan adalah isi khutbah Nabi SAW pada haji Wada’ (haji perpisahan) yang intinya menekankan: a) persamaan, b) keharusan memelihara jiwa, harta, dan kehormatan orang lain, c) larangan melakukan penindasan atau pemerasan terhadap kaum lemah baik di bidang ekonomi maupun bidang lain-lain.

Haji dan Pengamalan Nilai-Nilai Kemanusiaan Universal

Tentu saja makna kemanusiaan dan pengamalan nilai-nilainya tidak hanya terbatas pada persamaan nilai kemanusiaan. Ia mencakup seperangkat nilai-nilai luhur yang seharusnya menghiasi jiwa pemiliknya. Ia bermula dari kesadaran akan fithrah (jati diri)-nya serta keharusan menyesuaikan diri dengan tujuan kehadiran di pentas bumi ini.

Kemanusiaan mengantarkan putra-putri Adam untuk menyadari arah yang dituju serta perjuangan mencapainya. Kemanusiaan menjadikan makhluk ini memiliki moral serta berkemampuan memimpin makhluk-makhluk lain dalam mencapai tujuan penciptaan. Kemanusiaan mengantarkannya untuk menyadari bahwa ia adalah makhluk dwi-dimensi yang harus melanjutkan evolusinya hingga mencapai titik akhir. Kemanusiaan mengantarkannya untuk sadar bahwa ia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendirian dan harus bertenggang rasa dalam berinteraksi.

Makna-makna di atas dipraktikkan dalam pelaksanaan ibadah haji, baik dalam acara-acara ritual atau dalam tuntunan nonritualnya, dalam bentuk kewajiban atau larangan, dan dalam bentuk nyata atau simbolik. Kesemuanya itu pada akhirnya mengantarkan jama’ah haji hidup dengan pengalaman dan pengamalan kemanusiaan universal. Berikut ini akan dikemukakan secara sepintas kilas beberapa hal yang berkaitan dengannya:

1. Ibadah haji dimulai dengan niat sambil menanggalkan pakaian biasa dan mengenakan pakaian ihram. Tidak bisa disangkal bahwa pakaian menurut kenyataannya dan juga menurut Al-Qur’an berfungsi, antara lain, sebagai pembeda antara seseorang atau sekelompok dengan lainnya. Pembedaan tersebut dapat membawa antara lain, kepada perbedaan status sosial, ekonomi, atau profesi. Pakaian juga dapat memberi pengaurh psikologis kepada pemakainya.

Di Miqat Makaniy, tempat ritual ibadah haji dimulai, perbedaan dan pembedaan tersebut harus ditanggalkan, sehingga semua harus memakai pakaian yang sama. Pengaruh-pengaruh psikologis yang negatif dari pakaian pun harus ditanggalkan sehingga semua merasa dalam satu kesatuan dan persamaan.

“Di Miqat ini, apa pun ras dan sukumu lepaskan semua pakaian yang engkau kenakan sehari-hari baik sebagai (a) serigala (yang melambangkan kekejaman dan penindasan); (b) tikus (yang melambangkan kelicikan; (c) anjing (yang melambangkan tipu daya); atau (d) domba (yang melambangkan penghambaan). Tanggalkan semua itu di Miqat dan berperanlah sebagai manusia yang sesungguhnya.”2

Di Miqat, dengan mengenakan dua helai pakaian berwarna putih sebagaimana yang akan membalut tubuh ketika mengakhiri perjalanan hidup di dunia ini, seorang yang melaksanakan ibadah haji akan atau seharusnya dipengaruhi oleh pakaian ini. Seharusnya ia merasakan kelemahan dan keterbatasannya serta pertanggungjawaban yang akan ditunaikannya kelak di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa, yang disisi-Nya tiada perbedaan antara seseorang dengan yang lain kecuali atas dasar pengabdian kepada-Nya.

2. Dengan dikenakannya pakaian ihram, maka sejumlah larangan harus diindahkan oleh pelaku ibadah haji. Jangan sakiti binatang, jangan membunuh, jangan menumpahkan darah, jangan mencabut pepohonan. Mengapa? Karena, manusia berfungsi memelihara makhluk-makhluk Tuhan serta memberinya kesempatan seluas mungkin untuk mencapai tujuan penciptaannya.

Dilarang juga menggunakan wang-wangian, bercumbu atau kawin, dan berhias supaya setiap peserta haji menyadari bahwa manusia bukan materi semata-mata, bukan pula birahi; dan bahwa hiasan yang dinilai Tuhan adalah hiasan ruhani.

Dilarang pula menggunting rambut dan kuku supaya masing-masing menyadari jati dirinya dan menghadap kepada Tuhan sebagaimana apa adanya.

3. Ka’bah yang dikunjungi mengandung pelajaran yang amat berharga dari segi kemanusiaan. Di sana, misalnya, ada Hijr Isma’il yang arti harfiahnya “pangkuan Isma’il”. Di sanalah Isma’il putra Ibrahim, pembangun Ka’bah ini, pernah berada dalam pangkuan ibunya yang bernama Hajar, seorang wanita hitam, miskin bahkan budak, yang konon kuburannya pun berada di tempat itu. Namun demikian, budak wanita ini ditempatkan Tuhan di sana (atau peninggalannya diabadikan Tuhan) untuk menjadi pelajaran bahwa Allah SWT memberi kedudukan untuk seseorang bukan karena keturunan atau status sosialnya, tetapi karena kedekatannya kepada Allah SWT dan usahanya untuk hajar (berhijrah) dari kejahatan menuju kebaikan, dari keterbelakangan menuju peradaban.

4. Setelah selesai melakukan tawaf yang menjadikan pelakunya larut dan berbaur bersama-sama manusia-manusia yang lain, serta memberi kesan kebersamaan menuju satu tujuan yang sama, yakni berada dalam lingkungan Allah SWT, dilakukanlah sa’i.

Di sini muncul lagi Hajar, budak wanita bersahaja yang diperistrikan Nabi Ibrahim as. diperagakan pengalamannya mencari air untuk putranya.

Keyakinan wanita ini akan kebesaran dan kemahakuasaan Allah sedemikian kokoh yang terbukti jauh sebelum peristiwa pencarian itu. Ketika ia bersedia ditinggal bersama anaknya di suatu lembah yang tandus. Keyakinannya yang begitu dalam tidak menjadikannya berpangku tangan dengan hanya menunggu turunnya hujan dari langit. Tetapi, ia berusaha dan berusaha mondar-mandir berkali-kali demi mencari kehidupan.

Hajar memulai usahanya dari bukit Shafa yang ari harfiahnya adalah kesucian dan ketegaran,3 sebagai lambang bahwa untuk mencapi hidup harus dengan usaha yang dimulai dengan kesucian dan ketegaran dan harus diakhiri di Marwa yang berarti “ideal manusia, sikap menghargai, bermurah hati, dan memaafkan orang lain”.4 Adakah makna yang lebih agung berkaitan dengan pengamalan kemanusiaan dalam mencari kehidupan duniawi melebihi makna-makna yang digambarkan di atas?

Kalau tawaf menggambarkan larut dan meleburnya manusia dalam hadirat Ilahi atau, dalam istilah kaum sufi, al-fana’ fi Allah, maka sa’i menggambarkan usaha manusia mencari hidup, yang dilakukan begitu selesai tawaf agar melambangkan bahwa kehidupan dunia dan akhirat merupakan suatu kesatuan dan keterpaduan.

Dengan tawaf disadarilah tujuan hidup manusia dan setelah kesadaran itu, dimulai sa’i yang menggambarkan bahwa tugas manusia adalah berupaya semaksimal mungkin. Hasil usaha pasti akan diperoleh baik melalui usahanya maupun melalui anugerah Tuhan, seperti yang dialami oleh Hajar as. bersama putranya, Isma’il, dengan ditemukannya air zamzam itu. Namun, perlu dicatat bahwa mengenal Allah itu baru datang setelah upaya maksimal manusia. 

5. Di ‘Arafah, padag yang luas lagi gersang itu, seluruh jama’ah wuquf (berhenti) samapi terbenamnya matahari.

Di sanalah mereka seharusnya menemukan ma’rifah pengetahuan sejati tentang jati dirinya, akhir perjalanan hidupnya, serta disana pula ia menyadari langkah-langkahnya selama ini. Di sana pula seharusnya ia menyadari betapa besar dan agung Tuhan yang kepada-Nya bersembah seluruh makhluk, sebagaimana diperagakan secara miniatur di padang tersebut. Kesadaran-kesadaran itulah yang mengantarkannya di padang Arafah untuk menjadi ‘arif (sadar) dan mengetahui.

Menurut Ibnu Sina, apabila kearifan telah menghiasi diri seseorang, maka anda akan menemukan orang itu “selalu gembira, banyak senyum karena hatinya telah gembira sejak ia mengenal-Nya. Dimana-mana ia melihat satu saja, melihat Yang Mahasuci itu. Semua makhluk dipandangnya sama (karena memang semua sama, sama membutuhkan-Nya). Ia tidak akan mengintip-ngintip kelemahan atau mencari-cari kesalahan orang. Ia tidak akan cepat tersinggung walau melihat yang mungkar sekalipun. Karena jiwanya selalu diliputi oleh rahmat dan kasih sayang.”5

6. Dari Arafah, para jama’ah ke Muzdalifah untuk mengumpulkan senjata dalam menghadapi musuh utama, yaitu setan. Kemudian, melanjutkan perjalanan ke Mina dan di sanalah para jama’ah haji melampiaskan kebencian dan kemarahan mereka masing-masig terhadap musuh yang selama ini menjadi penyebab segala kegetiran yang dialaminya. Batu dikumpulkan di tengah malam sebagai lambang bahwa musuh tidak boleh mengetahui siasat dan senjata kita.

Demikianlah, ibadah haji merupakan kumpulan simbol-simbol yang sangat indah. Apabila dihayati dan diamalkan secara baik dan benar, maka pasti akan mengantarkan setiap pelakunya ke dalam lingkungan Ilahi dan kemanusiaan yang benar sebagaimana dikehendaki oleh penciptanya, Allah SWT.

Artikel ini disadur dari Buku”Membumikan” Al-Qur’an : Fungsi dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat, halaman 331-337. Disusun oleh Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, MA

__________________________________________________________________________

1 Lihat ‘Abbas Mahmud Al-‘Aqqad dalam Al-‘Aqaid wa Al-Madzahib, Dar Al-Kitab Al-Arabiy, Beirut 1978, h. 12-13.

* Nama Fir’aun yang memerintah saat itu.

2 Lihat lebih jauh Ali Syari’ati dalam Haji

3 Lihat Al-Qurthubi dalam tafsirnya, Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an, Dar Al-Kitab Al-Arabiy, Kairo 1967, jilid II, h. 180.

4 Ali Syari’ati, op. cit..

5 Lihat Abdul Halim Mahmud, Al-Tafkir Al-Falsafiy fi Al-Islam, Dar Al-Kitab Al-Arabiy, Beirut, 1982, h. 430.

By : Kabilah Tour Mudah, Aman & Berkah

kabilah

KABILAH TOUR adalah Perusahaan yang telah memiliki legalitas PT (Perseroan Terbatas ) yang bergerak di bidang jasa Biro Perjalanan Wisata.Melayani promo paket umroh yang Mudah, Aman Dan Berkah hub: 022-5233562 / 081290007941, Jalan Leuwipanjang No.32B Kota Bandung 40234 kunjungi:http://www.kabilahtour.co.id