Mengapa Tidak Ada Sai Wada?

Saat akan meninggalkan Kota
Makkah, jamaah haji dan umrah harus melakukan tawaf wada’ atau tawaf
perpisahan.

Tawaf artinya mengelilingi
Ka’bah sebanyak tujuh kali dengan memosisikan Ka’bah di sebelah kiri. Tawaf
diawali dan diakhiri sejajar dan searah dengan hajar aswad. Karena
posisi Ka’bah berada di sebelah kiri, berarti orang yang tawaf berputar
mengelilingi Ka’bah pada posisi berlawanan arah jarum jam.

Tawaf perpisahan atau bisa
dikenal dengan tawaf wada’ merupakan penghormatan terakhir terhadap
Masjidil Haram. Artinya tawaf ini adalah amalan terakhir bagi seorang yang
menjalankan haji. Tawaf ini disebut dengan tawaf perpisahan karena amalan ini
dilakukan sebelum meninggalkan Mekkah.

Pertanyaannya, mengapa tidak ada
Sai wada’? Mengapa hanya ada tawaf wada?

Sebelum menjawabnya, kita tilik
terlebih dahulu definisi Sai beserta sejarahnya. Ibadah Sai adalah berlari-lari
kecil di antara Bukit Shafa dan Marwah sebanyak 7 kali. Sebagaimana diabadikannya proses pencarian
(usaha) air oleh Siti Hajar untuk dirinya dan anaknya, Ismail, menurut Ali
Syariati, ibadah Sai intinya adalah sebuah pencarian. Sebuah gerakan yang memiliki
tujuan dan digambarkan dengan gerak berlari-lari serta bergegas-gegas.

Menurut Syariati, Sai inilah
yang dikatakan sebagai haji, yaitu sebuah tekad untuk melakukan gerak abadi ke
suatu arah yang tertentu. ”Sai adalah perjuangan fisik. Sai berarti mengerahkan
tenaga di dalam pencarian (usaha) untuk menghilangkan lapar dan dahaga yang
engkau tanggungkan beserta anak-anakmu,” ujarnya.

Karena itu, sudah seharusnya
setiap jamaah haji maupun umrah untuk menghayati makna terdalam dari
pelaksanaan ibadah Sai. ”Ia adalah sebuah bentuk usaha yang harus dilaksanakan
oleh umat manusia. Bila tidak berusaha, ia sengsara dalam kehidupannya. Jangan
pernah berpikir tentang hasilnya. Pasrahkan semuanya pada Allah, karena hanya
Dia tempat manusia berpasrah,” tulis Ali Syariati dalam bukunya Hajj.

Seperti kehidupan di dunia, kata
Syariati, Sai adalah gambaran hidup manusia di dunia dalam berusaha. ”Apa yang
dilakukan Siti Hajar–seorang budak dari Ethiopia, yang kemudian diperistri
oleh Ibrahim–dalam mencari air untuk minum dirinya dan Ismail, benar-benar
bersifat materiil, kebutuhan yang dimiliki manusia,” katanya menegaskan.

Maka kita kembali pada
pertanyaan di awal, mengapa tidak ada Sai wada? Mengapa hanya ada tawaf wada?

Hanya Allah ﷻ yang Maha Tahu mengenai alasan tepatnya. Jika mengamati pemaparan Ali Syariati, kita dapat menduga, bahwa Sai atau usaha manusia tidak berakhir sampai kita mati. Karenanya tidak ada sai (usaha) terakhir. Sebab, sebagaimana ibadah Sai, hidup kita adalah pencarian menuju satu tujuan yaitu ridha Allah, yang usahanya tidak pernah berakhir hanya saat di tanah suci, namun harus terus dilanjutkan hingga pulang ke tanah air, hingga pulang kita menghadap Tuhan Semesta Alam. Senantiasa berusaha dengan usaha terbaik yang bisa kita lakukan.

By : Kabilah Tour Mudah, Aman & Berkah

kabilah

KABILAH TOUR adalah Perusahaan yang telah memiliki legalitas PT (Perseroan Terbatas ) yang bergerak di bidang jasa Biro Perjalanan Wisata.Melayani promo paket umroh yang Mudah, Aman Dan Berkah hub: 022-5233562 / 081290007941, Jalan Leuwipanjang No.32B Kota Bandung 40234 kunjungi:http://www.kabilahtour.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published.