Miqat Umroh

Sebagaimana ibadah haji yang memiliki miqat, ibadah Umroh yang terpisah dari haji pun memiliki miqat yang berbeda dengan miqat untuk haji.

A. Tidak Ada Miqat Zamani Buat Umroh

Bila dalam ibadah
haji ada miqat zamani, yaitu sejak masuknya tanggal 1 Syawal, maka untuk ibadah
Umroh, jumhur ulama mengatakan tidak ada batasan miqat zamaninya. Dengan
demikian, setiap saat, setiap hari, setiap bulan adalah waktu-waktu yang sah
untuk melaksanakan ibadah Umroh.

Dasar pendapat itu adalah bahwa Rasulullah SAW pernah melaksanakan Umroh dua kali, yaitu di bulan Syawal dan bulan Dzulqa’dah.

1.Umroh Bulan Ramadhan

Selain itu ada
banyak hadits yang menyebutkan bahwa tentang waktu-waktu Umroh yang tersebar di
sepanjang tahun. Misalnya beliau
SAW pernah melaksanakan Umroh di bulan Ramadhan. Bahkan beliau SAW menyebutkan bahwa Umroh di bulan
Ramadhan itu dari sisi keutamaan atau pahala, sebanding dengan pahala haji. 

“Umroh di bulan Ramadhan pahalanya seperti pahala berhaji.” (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Umroh di Musim Haji

Umroh juga boleh
dilakukan di dalam bulan yang seharusnya dilaksanakan ibadah haji. Rasulullah
SAW bahkan melakukan ibadah Umroh juga bersamaan dengan ibadah haji,
sebagaimana disebutkan pada hadits shahih berikut :

“Rasulullah SAW melaksanakan ibadah Umroh empat kali, semuanya di bulan dzulqa’dah, bersama dengan perjalanan hajinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

3.Perbanyak Umroh Kapan Saja

Bahkan beliau
menganjurkan untuk memperbanyak ibadah Umroh, karena antara satu Umroh dengan Umroh
lainnya, akan menghapus dosa.

”Antara satu Umroh dengan Umroh lainnya menjadi penghapus dosa.” (HR. Bukhari dan Muslim)

B. Miqat Makani Umroh

Sedangkan untuk mengerjakan ibadah Umroh bagi mereka yang sudah berada di kota Mekkah, maka mereka dapat mengambil miqat di beberapa tempat, antara lain Tan’im, Ju’ranah, dan Hudaibiyah.

1.Tan’im

Tan’im adalah
tempat untuk mengambil miqat yang jaraknya paling dekat dengan kota Mekkah,
kurang lebih sekitar 5 km. Bila seseorang sudah berada di dalam kota Mekkah dan
ingin mengerjakan ibadah Umroh, maka dia harus bergerak keluar dari kota Mekkah
terlebih dahulu untuk mengambil miqat, yang ditandai dengan berniat dan mulai
berihram di tempat itu.

Miqat di Tan’im
ini disebut juga dengan miqat ‘Aisyah’. Sebutan ini disematkan karena awal mula
yang menggunakan Tan’im  sebagai miqat
adalah istri Nabi SAW, Aisyah r.anha. Ketika Rasulullah bersama Aisyah selesai
melaksanakan rangkaian ibadah haji, Aisyah ingin melanjutkan untuk ibadah Umroh.

Lantas Rasulullah
SAW menyuruh Aisyah berangkat ke Tan’im untuk mengambil miqat dan memulai
ihramnya. Dari sinilah kemudian daerah dan masjid di Tan’im lebih populer
dengan nama masjid Aisyah.

Hingga sekarang tempat miqat terdekat di Tan’im ini juga sangat populer bagi jama’ah Indonesia. Mereka yang ingin mengulang-ulang Umroh, biasanya mengambil miqat dan ihram di Tan’im yang secara jarak terdekat.

2. Ju’ranah

Ju’ranah sering
juga dseibut dengan Ji’ranah, merupakan tempat miqat untuk mereka yang akan berUmroh,
letaknya kurang lebih 22 km dari kota Makkah. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra.
Dia berkata:

“Rasulullah SAW dan para sahabat melaksanakan Umroh
dari Ji’ranah….”

(H.R. Abu Daud)

Umroh Rasulullah
SAW dari Ju’ranah ini adalah sekembalinya Beliau SAW dan para sahabat dari
perang Hunain. Ju’ranah adalah nama seorang perempuan yang sehar-harinya
memelihara kebersihan di  Masjid
tersebut.

Di dekat Masjid
Ju’ranah ini terdapat sebuah sumur yang selalu mengeluarkan airnya, sehingga
masjid tersebut banyak di kunjungi orang. Sumur ini diberi nama Bi’ru Thafalah.

Untuk menghindarkan kemusyrikan dan pengkultusan bahwa sumur itu seakan-akan keramat, pemerintah Saudi Arabia membuat sebuah papan pengumuman di dekat sumur tersebut bahwa dia adalah air biasa sebagaimana air pada umumnya. Masjid Ju’ranah sebagai salah satu tempat miqat Umroh penduduk Mekkah.

3. Hudaibiyah

Tempat untuk
mengambil miqat Umroh yang lain adalah Hudaibiyah. Tempat ini berjarak kurang
lebih 25 km dari Masjidil Haram. Daerah itu sekarang dikenal dengan nama daerah
Al-Syumaisyi.

Dinamakan
Hudaibiyah karena berasal dari nama seorang laki-laki menggali sumur di tempat
tersebut, kemudian dinisbatkan daerah itu kepadanya dan diberi nama dengan nama
daerah Hudaibiyah begitu pula sumurnya. Di dekat sumur, terdapat pohon yang
cukup rindang, namanya pohon Hadba’.

Di tempat inilah
dan di bawah pohon telah terjadi bai’at, tepatnya pada tahun 7 H. Bai’at ini
disebut juga dengan bai’at al-Ridhwan yang dilakukan Rasulullah SAW di bawah
pohon.

Diriwayatkan bahwa
Rasulullah SAW mengundang orang-orang Islam yang bilangannya pada saat itu
kurang lebih 1,400 orang untuk berbuat bai’at kepada Rasulullah SAW di daerah
Hudaibiyah, dan bai’at ini terjadi di bawah pohon sebagai mana tertera dalam
Al-Qur’an :

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap
orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon”
(QS. Al-Fath, ayat 18)

Di daerah ini pula
dan di tahun yang sama telah terjadi perdamaian antara Rasulullah SAW dengan
orang-orang kafir Makkah selama 10 tahun.

Yang menulis
perjanjian perdamaian pada waktu itu adalah Imam Ali bin Abi Thalib ra. Setelah
perdamaian berjalan selama 2 tahun, orang-orang kafir Makkah melanggar
perjanjian tersebut. Perdamaian ini terkenal dengan nama perdamaian Hudaibiyah.

Di daerah itu telah dibangun lagi sebuah masjid yang diberi nama dengan masjid Ar-Ridhwan. Masjid kuno ini masih tetap bertahan dan dibangun sebelahnya sebuah masjid baru yang berdampingan dengan masjid yang lama.

C. Umroh Ramadhan

Salah satu waktu
yang paling utama untuk dilakukannya ibadah Umroh adalah bila dilakukan di
dalam bulan Ramadhan. Meski Rasulullah SAW sendiri tidak pernah melakukannya,
namun beliau menganjurkannya. Salah satu dalilnya adalah apa yang dikatakan
oleh Rasulullah SAW kepada seorang wanita dari kalangan Anshar,

“Apa yang mencegahmu dari haji bersama kami?”

Wanita itu
menjawab bahwa dahulu mereka memiliki seekor unta yang selalu digunakan oleh
suami dan anaknya, kemudian dia membiarkan unta tersebut untuk mengangkut air.
Maka, Rasulullah SAW bersabda kepada wanita itu :

“Bila datang bulan Ramadhan, laksanakanlah ibadah Umroh. Karena Umroh di dalam bulan Ramadhan setara dengan haji. Dalam riwayat lain : mengganti haji atau seperti berhaji bersamaku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

D. Umroh Berkali-kali

Umroh berkali-kali
ada dua macam. Pertama, seseorang berangkat mengerjakan ibadah Umroh dari tanah
air, bukan hanya sekali tetapi bisa berkali-kali dalam setahun. Kedua, Umroh
berkali-kali maksudnya adalah ketika seseorang sedang berada di Mekkah, baik
dalam rangka menunaikan ibadah haji atau Umroh, dia melakukan ibadah Umroh
berkali-kali, bahkan bisa duat atau tiga kali dalam sehari.

Lalu bagaimana
hukumnya ?

Dalam hal ini, ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Sebagiannya berpendapat bahwa Umroh sebaiknya hanya dilakukan sekali saja, tidak perlu berkali-kali. Namun, sebagian yang lain mengatakan tidak ada masalah dengan Umroh berkali-kali.

  1. Boleh

Dalam pendapat
Mazhab Asy-Syafi’iyah, tidak mengapa bila seseorang mengerjakan Umroh tidak
hanya sekali dalam sehari. Semakin banyak tentu semakin baik. Dan karena Umroh
lebih baik dari thawaf di sekeliling Ka’bah.

Mereka
menganggapnya sebagai amalan yang sunah hukumnya, dan bagi orang yang
melakukannya tidak dikenai dam. Pendapat ini merupakan pendapat yang
diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib, Ibnu Umar, dan Anas bin Malik.

Mereka mendasarkan pendapat tersebut pada amalan Aisyah r.anha yang pernah menunaikan ibadah Umroh dua kali dalam sebulan atas perintah Nabi SAW. Umroh yang pertama dilakukan bersamaan dengan Haji Qirannya dan Umroh kedua dilakukan setelah haji.

2. Makruh

Namun pendapat
sebaliknya datang dari Mazhab Al-Malikiyah. Mazhab ini cenderung berpendapat
bahwa Umroh itu yang dilakukan lebih dari sekali dalam setahun, hukumnya
makruh.1

Ibrahim An-Nakha’I
berkata bahwa Nabi SAW dan para sahabat tidak melakukan Umroh kecuali sekali
dalam setahun. Mereka tidak melakukannya dua kali dalam setahun. Menambah apa
yang tidak mereka lakukan adalah sesuatu yang tidak disukai.

Pendapat ini juga
didasarkan pada surat Rasulullah SAW yang ditujukan kepada Umar bin Hazm, yang
didalamnya disebutkan kalimat “Sesungguhnya
Umroh adalah haji kecil.”
Di sini, Rasulullah SAW menyebut ibadah Umroh
dengan istilah al-hajj al-asghar
(haji kecil), sementara dalam Al-Qur’an, ibadah haji diistilahkan dengan “al-hajj al-akbar” (haji besar).

Bila ibadah haji
atau haji besar disyariatkan hanya sekali dalam setahun, maka demikian pula
dengan ibadah Umroh atau haji kecil. Berdasarkan hal itu, maka Imam Malik
berpendapat bahwa hukum mengulang-ulang Umroh lebih dari sekali dalam setahun
adalah makruh.

Sedangkan Al-Hanafiyah
memakruhkan dengan nilai haram bila ibadah pada tanggal 10,11,12, dan 13 bulan
Dzulhijjah. Hal itu karena waktu-waktu itu dikhususkan hanya untuk ibadah haji
saja.

Artikel ini
disadur dari Buku Seri Fiqih Kehidupan Jilid 6 : Haji & Umroh, halaman
261-267. Disusun oleh Ustadz Ahmad Sarwat, Lc., MA

__________________________________________________________________________

1 Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu oleh Dr. Wahbah Az-Zuhaili jilid 3 hal. 451

By : Kabilah Tour Mudah, Aman dan Berkah

kabilah

KABILAH TOUR adalah Perusahaan yang telah memiliki legalitas PT (Perseroan Terbatas ) yang bergerak di bidang jasa Biro Perjalanan Wisata.Melayani promo paket umroh yang Mudah, Aman Dan Berkah hub: 022-5233562 / 081290007941, Jalan Leuwipanjang No.32B Kota Bandung 40234 kunjungi:http://www.kabilahtour.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published.