fbpx
3 views

Miqat Umroh

Sebagaimana ibadah haji yang memiliki miqat, ibadah Umroh yang terpisah dari haji pun memiliki miqat yang berbeda dengan miqat untuk haji.

A. Tidak Ada Miqat Zamani Buat Umroh

Bila dalam ibadah haji ada miqat zamani, yaitu sejak masuknya tanggal 1 Syawal, maka untuk ibadah Umroh, jumhur ulama mengatakan tidak ada batasan miqat zamaninya. Dengan demikian, setiap saat, setiap hari, setiap bulan adalah waktu-waktu yang sah untuk melaksanakan ibadah Umroh.

Dasar pendapat itu adalah bahwa Rasulullah SAW pernah melaksanakan Umroh dua kali, yaitu di bulan Syawal dan bulan Dzulqa’dah.

1.Umroh Bulan Ramadhan

Selain itu ada banyak hadits yang menyebutkan bahwa tentang waktu-waktu Umroh yang tersebar di sepanjang tahun. Misalnya beliau SAW pernah melaksanakan Umroh di bulan Ramadhan. Bahkan beliau SAW menyebutkan bahwa Umroh di bulan Ramadhan itu dari sisi keutamaan atau pahala, sebanding dengan pahala haji. 

“Umroh di bulan Ramadhan pahalanya seperti pahala berhaji.” (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Umroh di Musim Haji

Umroh juga boleh dilakukan di dalam bulan yang seharusnya dilaksanakan ibadah haji. Rasulullah SAW bahkan melakukan ibadah Umroh juga bersamaan dengan ibadah haji, sebagaimana disebutkan pada hadits shahih berikut :

“Rasulullah SAW melaksanakan ibadah Umroh empat kali, semuanya di bulan dzulqa’dah, bersama dengan perjalanan hajinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

3.Perbanyak Umroh Kapan Saja

Bahkan beliau menganjurkan untuk memperbanyak ibadah Umroh, karena antara satu Umroh dengan Umroh lainnya, akan menghapus dosa.

”Antara satu Umroh dengan Umroh lainnya menjadi penghapus dosa.” (HR. Bukhari dan Muslim)

B. Miqat Makani Umroh

Sedangkan untuk mengerjakan ibadah Umroh bagi mereka yang sudah berada di kota Mekkah, maka mereka dapat mengambil miqat di beberapa tempat, antara lain Tan’im, Ju’ranah, dan Hudaibiyah.

1.Tan’im

Tan’im adalah tempat untuk mengambil miqat yang jaraknya paling dekat dengan kota Mekkah, kurang lebih sekitar 5 km. Bila seseorang sudah berada di dalam kota Mekkah dan ingin mengerjakan ibadah Umroh, maka dia harus bergerak keluar dari kota Mekkah terlebih dahulu untuk mengambil miqat, yang ditandai dengan berniat dan mulai berihram di tempat itu.

Miqat di Tan’im ini disebut juga dengan miqat ‘Aisyah’. Sebutan ini disematkan karena awal mula yang menggunakan Tan’im  sebagai miqat adalah istri Nabi SAW, Aisyah r.anha. Ketika Rasulullah bersama Aisyah selesai melaksanakan rangkaian ibadah haji, Aisyah ingin melanjutkan untuk ibadah Umroh.

Lantas Rasulullah SAW menyuruh Aisyah berangkat ke Tan’im untuk mengambil miqat dan memulai ihramnya. Dari sinilah kemudian daerah dan masjid di Tan’im lebih populer dengan nama masjid Aisyah.

Hingga sekarang tempat miqat terdekat di Tan’im ini juga sangat populer bagi jama’ah Indonesia. Mereka yang ingin mengulang-ulang Umroh, biasanya mengambil miqat dan ihram di Tan’im yang secara jarak terdekat.

2. Ju’ranah

Ju’ranah sering juga dseibut dengan Ji’ranah, merupakan tempat miqat untuk mereka yang akan berUmroh, letaknya kurang lebih 22 km dari kota Makkah. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. Dia berkata:

“Rasulullah SAW dan para sahabat melaksanakan Umroh dari Ji’ranah….” (H.R. Abu Daud)

Umroh Rasulullah SAW dari Ju’ranah ini adalah sekembalinya Beliau SAW dan para sahabat dari perang Hunain. Ju’ranah adalah nama seorang perempuan yang sehar-harinya memelihara kebersihan di  Masjid tersebut.

Di dekat Masjid Ju’ranah ini terdapat sebuah sumur yang selalu mengeluarkan airnya, sehingga masjid tersebut banyak di kunjungi orang. Sumur ini diberi nama Bi’ru Thafalah.

Untuk menghindarkan kemusyrikan dan pengkultusan bahwa sumur itu seakan-akan keramat, pemerintah Saudi Arabia membuat sebuah papan pengumuman di dekat sumur tersebut bahwa dia adalah air biasa sebagaimana air pada umumnya. Masjid Ju’ranah sebagai salah satu tempat miqat Umroh penduduk Mekkah.

3. Hudaibiyah

Tempat untuk mengambil miqat Umroh yang lain adalah Hudaibiyah. Tempat ini berjarak kurang lebih 25 km dari Masjidil Haram. Daerah itu sekarang dikenal dengan nama daerah Al-Syumaisyi.

Dinamakan Hudaibiyah karena berasal dari nama seorang laki-laki menggali sumur di tempat tersebut, kemudian dinisbatkan daerah itu kepadanya dan diberi nama dengan nama daerah Hudaibiyah begitu pula sumurnya. Di dekat sumur, terdapat pohon yang cukup rindang, namanya pohon Hadba’.

Di tempat inilah dan di bawah pohon telah terjadi bai’at, tepatnya pada tahun 7 H. Bai’at ini disebut juga dengan bai’at al-Ridhwan yang dilakukan Rasulullah SAW di bawah pohon.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW mengundang orang-orang Islam yang bilangannya pada saat itu kurang lebih 1,400 orang untuk berbuat bai’at kepada Rasulullah SAW di daerah Hudaibiyah, dan bai’at ini terjadi di bawah pohon sebagai mana tertera dalam Al-Qur’an :

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon” (QS. Al-Fath, ayat 18)

Di daerah ini pula dan di tahun yang sama telah terjadi perdamaian antara Rasulullah SAW dengan orang-orang kafir Makkah selama 10 tahun.

Yang menulis perjanjian perdamaian pada waktu itu adalah Imam Ali bin Abi Thalib ra. Setelah perdamaian berjalan selama 2 tahun, orang-orang kafir Makkah melanggar perjanjian tersebut. Perdamaian ini terkenal dengan nama perdamaian Hudaibiyah.

Di daerah itu telah dibangun lagi sebuah masjid yang diberi nama dengan masjid Ar-Ridhwan. Masjid kuno ini masih tetap bertahan dan dibangun sebelahnya sebuah masjid baru yang berdampingan dengan masjid yang lama.

C. Umroh Ramadhan

Salah satu waktu yang paling utama untuk dilakukannya ibadah Umroh adalah bila dilakukan di dalam bulan Ramadhan. Meski Rasulullah SAW sendiri tidak pernah melakukannya, namun beliau menganjurkannya. Salah satu dalilnya adalah apa yang dikatakan oleh Rasulullah SAW kepada seorang wanita dari kalangan Anshar,

“Apa yang mencegahmu dari haji bersama kami?”

Wanita itu menjawab bahwa dahulu mereka memiliki seekor unta yang selalu digunakan oleh suami dan anaknya, kemudian dia membiarkan unta tersebut untuk mengangkut air. Maka, Rasulullah SAW bersabda kepada wanita itu :

“Bila datang bulan Ramadhan, laksanakanlah ibadah Umroh. Karena Umroh di dalam bulan Ramadhan setara dengan haji. Dalam riwayat lain : mengganti haji atau seperti berhaji bersamaku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

D. Umroh Berkali-kali

Umroh berkali-kali ada dua macam. Pertama, seseorang berangkat mengerjakan ibadah Umroh dari tanah air, bukan hanya sekali tetapi bisa berkali-kali dalam setahun. Kedua, Umroh berkali-kali maksudnya adalah ketika seseorang sedang berada di Mekkah, baik dalam rangka menunaikan ibadah haji atau Umroh, dia melakukan ibadah Umroh berkali-kali, bahkan bisa duat atau tiga kali dalam sehari.

Lalu bagaimana hukumnya ?

Dalam hal ini, ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Sebagiannya berpendapat bahwa Umroh sebaiknya hanya dilakukan sekali saja, tidak perlu berkali-kali. Namun, sebagian yang lain mengatakan tidak ada masalah dengan Umroh berkali-kali.

  1. Boleh

Dalam pendapat Mazhab Asy-Syafi’iyah, tidak mengapa bila seseorang mengerjakan Umroh tidak hanya sekali dalam sehari. Semakin banyak tentu semakin baik. Dan karena Umroh lebih baik dari thawaf di sekeliling Ka’bah.

Mereka menganggapnya sebagai amalan yang sunah hukumnya, dan bagi orang yang melakukannya tidak dikenai dam. Pendapat ini merupakan pendapat yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib, Ibnu Umar, dan Anas bin Malik.

Mereka mendasarkan pendapat tersebut pada amalan Aisyah r.anha yang pernah menunaikan ibadah Umroh dua kali dalam sebulan atas perintah Nabi SAW. Umroh yang pertama dilakukan bersamaan dengan Haji Qirannya dan Umroh kedua dilakukan setelah haji.

2. Makruh

Namun pendapat sebaliknya datang dari Mazhab Al-Malikiyah. Mazhab ini cenderung berpendapat bahwa Umroh itu yang dilakukan lebih dari sekali dalam setahun, hukumnya makruh.1

Ibrahim An-Nakha’I berkata bahwa Nabi SAW dan para sahabat tidak melakukan Umroh kecuali sekali dalam setahun. Mereka tidak melakukannya dua kali dalam setahun. Menambah apa yang tidak mereka lakukan adalah sesuatu yang tidak disukai.

Pendapat ini juga didasarkan pada surat Rasulullah SAW yang ditujukan kepada Umar bin Hazm, yang didalamnya disebutkan kalimat “Sesungguhnya Umroh adalah haji kecil.” Di sini, Rasulullah SAW menyebut ibadah Umroh dengan istilah al-hajj al-asghar (haji kecil), sementara dalam Al-Qur’an, ibadah haji diistilahkan dengan “al-hajj al-akbar” (haji besar).

Bila ibadah haji atau haji besar disyariatkan hanya sekali dalam setahun, maka demikian pula dengan ibadah Umroh atau haji kecil. Berdasarkan hal itu, maka Imam Malik berpendapat bahwa hukum mengulang-ulang Umroh lebih dari sekali dalam setahun adalah makruh.

Sedangkan Al-Hanafiyah memakruhkan dengan nilai haram bila ibadah pada tanggal 10,11,12, dan 13 bulan Dzulhijjah. Hal itu karena waktu-waktu itu dikhususkan hanya untuk ibadah haji saja.

Artikel ini disadur dari Buku Seri Fiqih Kehidupan Jilid 6 : Haji & Umroh, halaman 261-267. Disusun oleh Ustadz Ahmad Sarwat, Lc., MA

__________________________________________________________________________

1 Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu oleh Dr. Wahbah Az-Zuhaili jilid 3 hal. 451

By : Kabilah Tour Mudah, Aman dan Berkah

kabilah

KABILAH TOUR adalah Perusahaan yang telah memiliki legalitas PT (Perseroan Terbatas ) yang bergerak di bidang jasa Biro Perjalanan Wisata.Melayani promo paket umroh yang Mudah, Aman Dan Berkah hub: 022-5233562 / 081290007941, Jalan Leuwipanjang No.32B Kota Bandung 40234 kunjungi:http://www.kabilahtour.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published.