fbpx
2 views

Obat Penunda Haidh

A. Tawaf Terlarang Bagi Wanita Haidh

Wanita yang sedang mendapat haidh tidak dibolehkan untuk melakukan tawaf. Sementara salah satu dari kewajiban haji adalah melakukan tawaf Ifadhah.

1. Kasus Aisyah

Hal ini pernah terjadi pada diri ibunda mukminin Aisyah radhiyallahuanha. Beliau ikut pergi haji bersama Rasulullah SAW,namun beliau mendapat haidh. Sehingga merujuklah ibunda mukminin ini kepada Rasulullah SAW.

Petikan haditsnyan dari Aisyah radhiyallahuanha :

“kami keluar (dari Madinah), tidak ada yang kami tuju kecuali untuk berhaji. Maka ketika kami berada di tempat yang bernama Sarif, aku haidh. Rasulullah SAW masuk menemuiku yang ketika itu sedang menangis. Maka beliau bersabda :”Ada apa denganmu, apakah engkau ditimpa haidh?” Aku menjawab,”Ya.” Beliau bersabda :”Sesungguhnya haidh ini adalah perkara yang Allah tetapkan atas anak-anak perempuan keturunan Adam. Kerjakanlah sebagaimana layaknya orang berhaji. Akan tetapi, janganlah engkau melakukan thawaf di Baitullah.” (HR. Bukhari)

Dan fatwa beliau SAW adalah bahwa semua amalan ibadah haji boleh dilakukan oleh wanita yang sedang mendapatkan haidh kecuali tawaf.

Sedangkan amalan lainnya seperti wukuf di Arafah yang menjadi puncak acara haji, tidak mensyaratkan kesucian dari hadats besar. Sehingga wanita yang sedang haidh tetap boleh melakukan wukuf.

Demikian juga dengan ritual mabit di Muzdalifah dan Mina, tidak mensyaratkan suci dari haidh. Termasuk juga saat melontar jamarat dan lainnya. Semua tidak mensyaratkan kesucian dari haidh.

Namun khusus untuk ibadah tawaf, Rasulullah SAW meminta Aisyah untuk menunggu dulu hingga suci dari haidh. Setelah suci dan mandi janabah itu barulah dipersilahkan untuk melakukan tawaf dan sa’i.

2. Problem di Zaman Sekarang

Kalau solusi di masa nabi bagi para wanita yang sedang haidh adalah dengan cara menunggu hingga suci, rasanya sih mudah saja. Karena boleh jadi di masa itu urusan memperpanjang masa tinggal di Makkah merupakan hal biasa.

Namun hal itu akan menjadi sulit  bila dilakukan di masa sekarang ini. Selain jumlah jama’ah haji sudah sangat fantastis, juga kamar-kamar hotel semua sudah dipesan sejak setahun sebelumnya.

Sehingga urusan memperpanjang kunjungan di kota Makkah akan menjadi urusan yang sangat sulit. Karena terkait dengan jadwal rombongan jama’ah haji.

Dan tidak mungkin pula meninggalkan wanita yang sedang haidh sendirian di kota Makkah sementara rombongannya meninggalkannya begitu saja pulang ke tanah air. Sehingga kalau ketentuannya seorang wanita haidh harus menunggu di Makkah sampai suci, berarti rombongannya pun harus ikut menunggu juga.

Kalau salah satu wanita ikut rombongan yang jumlahnya 40 orang, maka yang harus memperpanjang masa tinggal di Makkah bukan satu orang tapi 40 orang. Kalau ada 10.000 wanita yang haidh berarti tinggal dikalikan 40 orang. Tidak terbayangkan berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk masalah perpanjangan hotel, biaya hidup, dan lainnya.

Dan pastinya, tiap rombongan selalu punya anggota yang wanita. Otomatis semua jama’ah haji harus siap-siap untuk menunggu suciny haidh salah satu anggotanya.

Dan artinya, seluruh jama’ah haji akan menetap kira-kira 2 minggu setelah tanggal 10 Dzulhijjah, dengan perkiraan bahwa seorang wanita yang seharusnya pada tanggal itu telah melakukan Tawaf Ifadhah malah mendapatkan haidh.

Dan karena lama maksimal haidh seorang wanita adalah 14 hari, maka setiap rombongan harus siap-siap memperpanjang masa tinggal di Makkah, 14 hari setelah jadwal Tawaf Ifadhah yang normal.

Semua ini tentu merupakan sebuah masalah besar yang harus dipecahkan secara syar’i da cerdas.

B. Obat Penunda Haidh dan Hukumnya

Solusi cerdas itu adalah pil penunda haidh, dimana bila pil itu diminum oleh seorang wanita, dia akan mengalami penundaan masa haidh.

Hingga kini, untuk memnuhi kebutuhan menunda siklus haidh, secara umum dapat digunakan dua cara, yaitu dengan pil kontrasepsi, atau pil penunda haidh. Keduanya memiliki pola kerja yang berbeda.

  1. Pil Kontrasepsi

Proses menunda haidh dengan pil kontrasepsi bekerja dengan cara menunda proses ovulasi (pematangan sel telur).

Biasanya pil ini baru bisa dikonsumsi setelah dokter menghitung siklus haidh untuk menentukan masa subur. Dan diminum beberapa saat sebelum masa subur berlangsung untuk mencegah hal tersebut terjadi. Biasanya setelah 21 hari mengonsumsi pil, barulah haidh akan berlangsung.

Dampak yang dialami setelahnya, haidh cenderung mengalami ketidakteraturan selama beberapa bulan. Hal ini berhubungan dengan hilangnya dampak hormon tambahan akibat pil kontrasepsi, dan kemudian drop karena konsumsi pil dihentikan.

C. Pil Penunda Haidh

Jenis pil ini bekerja lebih cepat dibandingkan pil kontrasepsi. Tanpa perlu menghitung masa subur, pil penunda haidh dapat segera bekerja sesaat setelah dikonsumsi.

Saat ini, penggunaan pil penunda haidh lebih disarankan oleh parar dokter, karena cenderung tidak menyebabkan dampak keseimbangan hormonal setelah dihentikan penggunaannya. Sekalipun demikian, secara umum, para ahli kesehatan reproduksi mengingatkan bahwa haidh adalah siklus alamiah, yang sebaiknya tidak terlalu sering dihambat. Penundaan yang dilakukan berulang dalam waktu relatif singkat, pada dasarnya tetap mempengaruhi kesehatan reproduksi.Pendapat Yang Membolehkan

Masalahnya, bagaimana hukumnya? Apakah para ulama membolehkannya? Dan adalah nash dari Rasulullah SAW atau para sahabat mengenai hal ini.

Ternyata memang para ulama berbeda pendapat tentang hukum kebolehan minum obat penunda atau pencegah haidh. Sebagian besar ulama membolehkan namun sebagian lainnya tidak membolehkan.

Di kalangan sahabat Nabi SAW ada Ibnu Umar radhiyallahu’anhu yang diriwayatkan bahwa beliau telah ditanya orang tentang hukum seorang wanita haidh yang meminum obat agar tidak mendapat haidh, lantaran agar dapat mengerjakan tawaf. Maka, beliau membolehkan hal tersebut.

Pendapat yang senada kita dapat dari kalangan ulama di mazhab-mazhab fiqih, di antaranya sebagai berikut:

  1. Mazhab Al-Hanabilah

Para ulama di kalangan Mazhab Al-Hanabilah membolehkan seorang wanita meminum obat agar haidhnya berhenti untuk selamanya. Dengan syarat, obat itu adalah obat yang halal dan tidak berbahaya bagi peminumnya.

Al-Qadhi menyatakan kebolehan wanita minum obat untuk menghentikan total haidhnya berdasarkan kebolehan para suami melakukan ‘azl terhadap wanita. ‘Azl adalah mencabut kemaluan saat terjadi ejakulasi dalam senggama agar mani tidak masuk ke dalam rahim.

Ibnu Qudamah dalam kitabnya Al-Mughni berpendapat yang sama, yakni bolehnya seorang wanita meminum obat agar menunda haidhnya.

Imam Ahmad bin Hanbal dalam nashnya versi riwayat Shalih dan Ibnu Manshur tentang wanita yang meminum obat hingga darah haidhnya berhenti selamanya: hukumnya tidak mengapa asalkan obat itu dikenal (aman).

  • Mazhab Al-Malikiyah

Ulama dari kalangan Mazhab Al-Malikiyah jug berpendapat serupa. Diantaranya adalah Al-Hathaab dalam kitabnya Mawahib al-Jalil.

  • Mazhab Asy-Syafi’iyah

Al-Ramli dari kalangan Mazhab Asy-Syafi’I dalam An-Nihyah juga cenderung untuk membolehkan.

  • Fatwa Masa Kini

Abdullah Abdul ‘Aziz bin Baaz dalam kitab Fatawa Tata’allaq bi Ahkam al-Hajji wa al-‘Umrah wa al-Ziyarah.

Seorang wanita boleh menggunakan obat pencegah haidh pada waktu haji karena khawatir akan kebiasaannya (haid) akan tetapi harus berkonsultasi kepada dokter khusus karena untuk menjaga keselamatan wanita. Demikian juga pada bulan Ramadhan apabila berkeinginan untuk berpuasa bersama-sama dengan masyarakat umum (orang banyak).

Ahmad bin Abdul Rozaq ad-Duwaisy dalam kitab Fatawa al-Lajnah ad-Daimah Lil-Buhuts al-‘Ilmiyah Wa al-Ifta’. Boleh bagi seorang wanita untuk mengonsumsi pil penunda haid agar dapat melaksanakan puasa di bulan Ramadhan. Anda tidak diharuskan mengqadha hari-hari puasa yang telah Anda lakukan bersama-sama yang lainnya dengan mengkonsumsi pil pencegah haidh.1

D. Pendapat Yang Mengharamkan

Sedangkan di antara ulama yang mengharamkan penggunaan pil penunda haidh adalah Syaikh Al-‘Utsaimin. Dalam fatwanya beliau mengatakan:

“menurut hemat saya dalam masalah ini agar para wanita tidak menggunakannya dan biarkan saja semua sesuai taqdir Allah azza wa jalla serta ketetapan-Nya kepada wanita. Karena sesungguhny Allah memberikan hikmat tersendiri dalam siklus bulanan wanita itu. Apabila siklus yang alami ini dicegah, maka tidak diragukan lagi akan terjadi hal-hal yang membahayakan tubuh wanita tersebut.”

Padahal Nabi SAW telah bersabda,”Janganlah kamu melakukan tindakan yang membahayakan dirimu dan orang lain.”

Denagn demikian, seandainya ada wanita yang ingin menggunakan pil penunda haidh agar sukses dan efisien dalam mengerjakan ibadah haji atau umrah, tidak bisa disalahkan. Karena setidaknya hal itu dibolehkan oleh banyak ulama, meski ada juga yang melarangnya.

Namun, yang membolehkan lebih banyak dan lebih kuat hujjahnya, bahkan memang tidak ada larangan pada dasarnya atas tindakan itu.

Artikel ini disadur dari Buku Seri Fiqih Kehidupan Jilid 6 : Haji & Umrah, halaman 311-315. Disusun oleh Ustadz Ahmad Sarwat, Lc., MA

__________________________________________________________________________

1 Majalah Al-Buhuts Al-Islamiyah, 22/62

By : Kabilah Tour Mudah, Aman & Berkah

kabilah

KABILAH TOUR adalah Perusahaan yang telah memiliki legalitas PT (Perseroan Terbatas ) yang bergerak di bidang jasa Biro Perjalanan Wisata.Melayani promo paket umroh yang Mudah, Aman Dan Berkah hub: 022-5233562 / 081290007941, Jalan Leuwipanjang No.32B Kota Bandung 40234 kunjungi:http://www.kabilahtour.co.id