Pengertian, Pensyariatan, dan Hukum Umrah

  1. Bahasa

Ibadah umrah
memang sekilas sangat mirip dengan ibadah haji, namun tetap saja umrah bukan
ibadah haji. Kalau dirinci lebih jauh, umrah adalah haji kecil, dimana sebagian
ritual haji dikerjakan di dalam ibadah umrah. Sehingga boleh dikatakan bahwa
ibadah umrah adalah ibadah haji yang dikurangi

Secara makna
bahasa, kata ‘umrah berarti az-ziyarah, yaitu berkunjung atau
mendatangi suatu tempat atau seseorang.1

  • Istilah

Sedangkan secara
istilah, kata umrah di dalam ilmu fiqih didefinisikan oleh jumhur ulama sebagai
:2

Tawaf di sekeliling Baitullah dan sa’i antara Shafa dan
Marwah dengan berihram.

Mendatangi Ka’bah untuk melaksanakan ritual ibadah yaitu
melakukan tawaf dan sa’i.
3

  • Perbedaan Umrah dengan Haji

  Umrah Haji
Waktu Setiap Saat Tanggal 9-13
Dzulhijjah
Tempat Miqat – Mekkah
(Masjidil Haram)
Miqat – Mekkah
(Masjidil Haram) – Arafah – Muzdalifah – Mina
Hukum Wajib : Hanafi
dan Maliki
Sunnah : Syafi’i
dan Hambali
Wajib Secara
Ijma’
Durasi 2-3 jam 4-5 hari
Praktik Tawaf dan Sa’i
di Masjidil Haram
– Wuquf di Arafah
– Mabid di Muzdalifah
– Melontar jumrah Aqabah di Mina
– Tawaf Ifadhah, Sa’i di Masjidil Haram
– Melontar Jumrah di Mina pada Hari Tasyrik
– Mabid di Mina pada Hari Tasyrik

  • Pensyariatan

Ibadah umrah
disyariatkan lewat ayat-ayat Al-Qur’an dan juga sunnah Nabawiyah. Diantaranya
sebagai berikut :

  1.  Al-Qur’an

“Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah
sebahagian dari syi’ar Allah. Maka, barangsiapa yang beribadah haji ke
Baitullah atau ber-‘umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara
keduanya.”

(QS. Al-Baqarah, ayat 158)

“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah
karena Allah.”

(QS. Al-Baqarah, ayat 196)

  • As-Sunnah

Sedangkan
hadits-hadits yang terkait dengan ibadah umrah cukup banyak, beberapa di antaranya
adalah hadits-hadits berikut ini :

“Dari satu umrah ke umrah yang lainnya menjadi
penghapus dosa.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

“Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahuanhuma
berkata bahwa Rasulullah SAW ditanya tentang hukum umrah, apakah wajib hukumnya?
Beliau SAW menjawab, “Tidak, namun melaksanakan umrah itu afdhal hukumnya.”
(HR. Tirmidzi dan Al-Baihaqi)

”Haji adalah jihad sedangkan umrah adalah
tathawwu’ (sunnah)”

(HR. Ibnu Majah)

“Para jama’ah haji dan umrah adalah tamu Allah.
Allah menyeru mereka lalu mereka pun menyambut seruan-Nya; mereka meminta
kepada-Nya lalu Dia pun memberinya.”
(HR. Ibnu Majah)

Dan masih banyak
lagi hadits-hadits yang menjadi dasar masyru’iyah ibadah umrah, tentunya tidak
mungkin semua ditulis disini.

  • Hukum

Para ulama berbeda
pendapat tentang hukum ibadah umrah, apakah hukumnya wajib ataukah sunnah

  1. Sunnah

Mazhab
Al-Hanafiyah dan Al-Malikiyah mengatakan bahwa mengerjakan ibadah umrah adalah
sunnah muakkadah sekali seumur hidup.

Dasar pandangan
mereka adalah beberapa hadits yang menyebutkan dengan tegas bahwa Allah SWT dan
Nabi-Nya tidak mewajibkan umrah.

“Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahuanhuma
berkata bahwa Rasulullah SAW ditanya tentang hukum umrah, apakah wajib
hukumnya? Beliau SAW menjawab, “Tidak, namun melaksanakan umrah itu afdhal
hukumnya.”

(HR. Tirmidzi dan Al-Baihaqi)

”Haji adalah jihad sedangkan umrah adalah
tathawwu’ (sunnah)”

(HR. Ibnu Majah)

  • Wajib

Mazhab
Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah memandang bahwa ibadah umrah hukumnya wajib
bagi tiap muslim yang sudah mampu mengerjakannya.

Dasar pendapat
mereka adalah umrah diwajibkan bersama-sama dengan ibadah haji di dalam satu
ayat yang sama, yaitu :

“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah
karena Allah.”

(QS. Al-Baqarah, ayat 196)

Selain itu juga
ada hadits yang menguatkan pendapat mereka bahwa umrah itu hukumnya wajib.
Hadits itu adalah riwayat Aisyah radhiyallahuanha yang menegaskan bahwa umrah
menjadi kewajiban, karena disamakan dengan jihad fi sabilillah yang hukumnya
wajib.

“Dari Aisyah radhiyallahuanha beliau bertanya
kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, apakah para wanita wajib berjihad ?”
Beliau SAW menjawab, “Ya, tapi jihadnya tanpa pembunuhan, yaitu haji dan
umrah.””
(HR. Ibnu Majah)

Meskipun kedia
mazhab ini mewajibkan umrah, namun bukan berarti bila seseorang tidak pernah
mengerjakan umrah seumur hidupnya lantas dianggap berdosa. Sebab kedudukan
umrah ini sama saja dengan haji, yang mensyaratkan banyak hal agar hukumnya
menjadi wajib, yaitu istitha’ah atau kemampuan.

Maksudnya, mereka
yang belum punya harta dan tidak punya syarat-syarat yang mencukupi, tidak
berdosa bila tidak berumrah, sebagaimana dalam masalah haji.

Dan kalau pun
seseorang sudah mampu berangkat haji, otomatis dia pasti akan melaksanakan
umrah juga dalam satu rangkaian perjalanan haji. Sehingga tidak perlu pergi dua
kali, satu untuk haji dan satu untuk umrah. Cukup pergi sekali saja, untuk
mengerjakan ibadah haji, yang otomatis juga pasti mengerjakan ibadah umrah.

Maka, mesti kita
ikut pendapat Mazhab Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah yang mewajibkan umrah,
namun dalam kenyataannya hal itu tidak akan memberatkan.

Artikel ini
disadur dari Buku Seri Fiqih Kehidupan Jilid 6 : Haji & Umrah, halaman
243-246. Disusun oleh Ustadz Ahmad Sarwat, Lc., MA

__________________________________________________________________________

1 Lisanul Arab

2 Hasyiyatu Ad-Dasuqi, jilid 2 hal. 2

3 Mughni Al-Muhtaj jilid 1 hal.460

By : Kabilah Tour Mudah, Aman dan Berkah

kabilah

KABILAH TOUR adalah Perusahaan yang telah memiliki legalitas PT (Perseroan Terbatas ) yang bergerak di bidang jasa Biro Perjalanan Wisata.Melayani promo paket umroh yang Mudah, Aman Dan Berkah hub: 022-5233562 / 081290007941, Jalan Leuwipanjang No.32B Kota Bandung 40234 kunjungi:http://www.kabilahtour.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published.