fbpx
3 views

Rukun Umroh

Rukun Umrah

Rukun umrah ada tiga perkara, yaitu berihram dari miqat, tawaf tujuh putaran di seputaran Ka’bah dan mengerjakan sa’I tujuh kali antara Shafa dan Marwah.

  1. Berihram dari Miqat

Berihram dalam istilah para ulama adalah masuk ke dalam suatu wilayah dimana keharaman-keharaman itu diberlakukan dalam ritual ibadah haji.

Di antara larangan-larangan itu misalnya mengadakan akad nikah, berhubungan suami istri, membunuh hewan, memotong kuku dan rambut, memakai wewangian atau parfum, mengenakan pakaian berjahit buat laki-laki, atau menutup wajah dan kedua tapak tangan bagi wanita dan sebagainya. Sebagaimana firman Allah SWT :

“Dan janganlah kamu mencukur kepalamu sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya.” (QS Al-Baqarah, ayat 196)

”Dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat selama kamu dalam keadaan ihram.” (QS Al-Maidah, ayat 96)

Maka, selama rangkaian ibadah umrah berlangsung sejak dari mengambil miqat hingga selesai mengerjakan ibadah sa’I, setiap jama’ah haji harus selalu dalam keadaan berihram. Ketentuannya, bila salah satu dari larangan berihram itu dilanggar, maka ada denda-denda tertentu seperti kewajiban menyembelih hewan kambing.

  1. Tawaf

Rukun yang kedua dalam ibadah umrah adalah melakukan tawaf. Tawaf adalah gerakan ibadah haji dengan cara berputar mengelilingi Ka’bah yang dimulai dari Hajar Aswad dan diakhiri di Hajar Aswad juga setelah tujuh putaran, dengan menjadikan bagian kanan tubuhnya menghadap ke Ka’bah.

  1. Sa’i

Jumhur ulama selain Mazhab Al-Hanafiyah sepakat memasukkan ibadah sa’i sebagai bagian dari rukun haji. Sedangkan Al-Hanafiyah menyebutkan bahwa sa’i bukan termasuk rukun dalam ibadah haji.

Secara istilah fiqih, ritual ibadah sa’i didefinisikan oleh para ulama sebagai :

Menempuh jarak yang terbentang antara Safa dan Marwah sebanyak tujuh kali pulang pergi setelah melaksanakan ibadah tawaf, dalam rangka manasik haji atau umrah.

Dasar dari ibadah sa’i adalah firman Allah SWT di dalam Al-Qur’an Al-Kariem :

“Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi’ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber’umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’I antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah, ayat 158)

Selain itu juga ada hadits Nabi SAW yang memerintahkan untuk melaksanakan ibadah sa’i dalam berhaji.

“Bahwa Nabi SAW melakukan ibadah sa’i pada ibadah haji beliau antara Shafa dan Marwah, dan beliau bersabda, “Lakukanlah ibadah sa’i, karena Allah telah mewajibkannya atas kalian.” (HR. Ad-Daruquthny)

Rukun sa’i adalah berjalan tujuh kali antara Shafa dan Marwah menurut jumhur ulama. Dasarnya adalah apa yang dikerjakan oleh Rasulullah SAW bahwa beliau melaksanakan sa’i tujuh kali. Dan juga didasarkan atas apa yang telah menjadi ijma’ di antara seluruh umat Islam.

Bila seseorang belum menjalankan ketujuh putaran itu, maka sa’i itu tidak sah. Dan bila dia telah meninggalkan tempat sa’i, maka dia harus kembali lagi mengerjakannya dari putaran yang pertama. Dan tidak boleh melakukan tahallul bila sa’i belum dikerjakan.

Sedangkan menurut Al-Hanafiyah, rukunnya hanya empat kali saja. Bila seseorang telah melewati empat putaran dan tidak meneruskan sa’inya hingga putara yang ketujuh, dia wajib membayar dam.

  1. Halq atau Taqshir

Istilah al-halqu wa at-taqshir maknanya adalah menggunduli rambut atau menggunting sebagian rambut.

Umumnya para ulama tidak memandang perbuatan ini sebagai rukun dalam ibadah umrah, kecuali hanya Mazhab Asy-Syafi’iyah saja yang menyendiri dalam pendapatnya.

  1. Jumhur : Wajib Haji Bukan Rukun

Jumhur ulama di antaranya Mazhab Al-Hanafiyah dan Al-Malikiyah memposisikan al-halq dan at-taqshir sebagai bagian dari kewajiban dalam manasik haji, namun bukan sebagai rukun haji.

  1. Asy-Syafi’iyah : Rukun Haji

Namun sebagian ulama lain tidak berpendapat demikian. Mazhab Asy-Syafi’iyah termasuk yang menolak al-halq dan at-taqshir kalau diposisikan sebagai salah satu dari kewajiban dalam ibadah haji. Dalam pendapat mazhab ini, kedudukan hukum al-halq dan at-taqshir adalah sebagai rukun haji.

Dasar ibadah ini adalah firman Allah SWT :

”Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, Insyaallah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. (QS Al-Fath, ayat 27)

Mimpi Nabi SAW dibenarkan oleh Allah SWT sebagai bagian dari wahyu dan risalah. Di dalam mimpi itu, beliau SAW melihat diri beliau dan para sahabat mencukur gundul kepala mereka dan sebagiannya menggunting tidak sampai habis. Dan semua itu dalam rangka ibadah haji di Baitullah Al-Haram.

Namun Mazhab Al-Hanabilah tidak menyebutkan bahwa menggunduli kepala atau mengurangi sebagian rambut itu sebagai bagian dari manasik haji.1

Kalau pun perbuatan itu dilakukan, hukumnya sekedar dibolehkan saja, setelah sebelumnya dilarang. Sebagaimana orang yang sudah selesai dari ihram umrah atau ihram haji boleh memakai parfum, atau boleh melepas pakaian ihram berganti dengan pakaian lain, atau juga sudah boleh memotong kuku, mencabut bulu, dan sebagainya.

Sehingga dalam pandangan mazhab ini, seseorang yang meninggalkan bercukur sudah dianggap sah dalam umrah atau hajinya.

Artikel ini disadur dari Buku Seri Fiqih Kehidupan Jilid 6 : Haji & Umrah, halaman 256-260. Disusun oleh Ustadz Ahmad Sarwat, Lc., MA

__________________________________________________________________________

1 Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 3 hal.435

 

By : Kabilah Tour Mudah, Aman & Berkah

 

kabilah

KABILAH TOUR adalah Perusahaan yang telah memiliki legalitas PT (Perseroan Terbatas ) yang bergerak di bidang jasa Biro Perjalanan Wisata.Melayani promo paket umroh yang Mudah, Aman Dan Berkah hub: 022-5233562 / 081290007941, Jalan Leuwipanjang No.32B Kota Bandung 40234 kunjungi:http://www.kabilahtour.co.id