Shalat di Pesawat

Selama perjalanan
haji dan umrah dengan menggunakan pesawat terbang, pasti ada beberapa waktu
shalat yang terlewat. Seluruh ulama sepakat bahwa shalat fardhu yang lima waktu
wajib dikerjakan dan tidak boleh ditinggalkan, kecuali bila sama sekali tidak
terpenuhi syarat-syarat yang membuat shalat itu sah.

Tapi, ketika seseorang berada di atas pesawat, ada beberapat problem terkait dengan pelaksanaan ibadah shalat yang harus dipecahkan. Problem-problem itu setidaknya ada empat pokok, yaitu :

1. Masalah Berthaharah

Masalah ini sudah dibahas panjang lebar dalam artikel sebelumnya, silahkan rujuk ke artikel tersebut.

2. Masalah Waktu Shalat

Problem kedua adalah masalah bagaimana cara menentukan jadwal waktu shalat. Boleh jadi posisi pesawat sedang berada di tengah lautan, atau di atas gunung dan hutan belantara. Dimana memang kita tidak memiliki jadwal waktu shalat untuk tempat-tempat seperti itu.

3. Masalah Gerakan Shalat dan Tempatnya

Yang jadi masalah dalam hal ini bagaimana tata cara shalat di atas pesawat yang ruangannya sangat terbatas. Pesawat berbeda dengan kapal laut yang punya mushalla luas sehingga dimungkinkan di atasnya untuk shalat berjamaah.

4. Masalah Arah Kiblat

Sebagian orang
berupaya memudahkan tata cara shalat di pesawat, yaitu dengan tetap duduk di
kursi, tanpa berdiri, tanpa ruku’, tanpa sujud dan jelas-jelas tidak menghadap
kiblat.

Seandainya yang dilakukan hanya shalat sunnah, semua itu memang ada contoh dari Rasulullah SAW. Namun, kita tidak menemukan contoh dari beliau SAW dalam hal shalat wajib lima waktu. Justru yang kita dapat dari hadits yang shahih, beliau turun dari unta dan kemudian mengerjakan shalat fardhu itu dengan sempurna, berdiri, menghadap kiblat, ruku’ dan sujud, semua persis seperti shalat biasa.

A. Masalah Berthaharah

Masalah ini sudah dibahas panjang lebar dalam artikel sebelumnya, silahkan rujuk ke artikel tersebut. Wudhu atau Tayammum di Pesawat

B. Menentukan Waktu Shalat

Shalat fardhu wajib dilakukan pada waktunya. Bila dikerjakan sebelum waktunya, maka shalat itu tidak sah. Demikian pula bila waktunya terlewat, maka hal itu melanggar ketentuan shalat.

1.Boleh Dijama’

Yang menguntungkan
adalah empat waktu shalat boleh dijama’ dengan masing-masing pasangannya.
Shalat Dzuhur boleh dijama’ dengan Ashar, baik dikerjakan di waktu Dzuhur atau
di waktu Ashar. Dan shalat Maghrib boleh dijama’ dengan Isya’, baik dikerjakan
di waktu Maghrib atau Isya’.

Adanya fasilitas
ini sangat menguntungkan buat jama’ah yang sedang berada di dalam pesawat
terbang. Sebab dapat meminimalisiri kesulitan-kesulitan, meski tetap wajib atas
para jama’ah untuk mengerjakan shalat.

Maka kemungkinannya kita cukup sekali saja mengerjakan shalat di pesawat, yaitu dengan cara menjama’ dua shalat dalam satu waktu.

2. Menetapkan Waktu Shalat Lewat Fenomena Alam

Seperti kita tahu
bersama, ketika seseorang berada di atas pesawat dalam penerbangan
internasional, maka waktu shalat bagi orang itu secara subjektif menjadi rancu.
Karena umumnya kita tidak tahu, sedang berada di atas kota apa kita saat sedang
terbang. Bahkan mungkin malah bukan di atas kota, tetapi di atas laut, hutan,
pegunungan, padang pasir dan sejenisnya, dimana memang tidak pernah dibuatkan
jadwal waktu shalatnya.

Jadi, kalau pun
kita tahu kita berada dia atas titik koordinat tertentu, masih ada masalah
abesar yaitu tidak ada jadwal shalat untuk titik koordinat tersebut. Maka yang
jadi pertanyaan, kapan kita mulai shalat ?

Jawabannya
sebenarnya sederhana. Di atas pesawat yang terbang tinggi di langit itu kita
justru dengan mudah bisa mengenali waktu shalat dengan melihat langsung ke arah
luar pesawat, yaitu memperhatikan fenomena alam. Fenomena alam yang dimaksud
tidak lain adalah gerak semu matahari terhadap posisi kita di bumi, serta
efek-efek yang dihasilkan seperti bayangan, fajar, syuruq, dan ghurub.

Dan pada dasarnya, jadwal waktu shalat yang kita pakai sehari-hari didasarkan dari fenomena alam. Maka di atas pesawat itu kita justru lebih mudah melihat fenomena alam itu, karena kita betul-betul 100% berada di tengah-tengah alam.

3. Waktu Dzuhur dan Ashar

Untuk shalat
Dzuhur dan Ashar yang memang boleh dijama’ itu, kita bisa melihat ke luar
jendela. Selama matahari sudah lewat dari atas kepala kita dan belum tenggelam
di ufuk barat, kita masih bisa menjama’ kedua shalat itu. Untuk yakinnya, mari
kita jama’ ta’khir saja.

Kenapa ?

Karena jama’ ta’khir itu kita lakukan di waktu Ashar dan waktu Ashar bisa kita kenali dengan melihat ke luar jendela pesawat. Selama matahari sudah condong ke arah Barat namun belum tenggelam, maka itulah waktu Ashar.

4. Waktu Maghrib dan Isya’

Untuk shalat Maghrib dan Isya, agar kita tidak terlalu ragu, sebaiknya kita shalat jama’ ta’khir di waktu Isya. Jadi, setelah kita menyaksikan matahari betul-betul tenggelam di ufuk barat, kita tunggu kira-kira 1-2 jam. Saat kita amat yakin bahwa waktu Isya sudah masuk, maka kita shalat Maghrib dan Isya’ dengan dijama’ pada waktu Isya’.

5. Waktu Shubuh

Bagaimana dengan
shalat shubuh ?

Shalat shubuh itu
waktunya sejak terbit fajar hingga matahari terbit. Dan kalau kita berada di
angkasa, mudah sekali mengenalinya.

Cukup kita
menengok keluar jendela, ketika gelap malam mulai hilang dan langit menunjukkan
tanda-tanda terang namun matahari belum terbit, maka itulah waktu shubuh.
Shalatlah shubuh pada waktu itu dan jangan sampai terlanjur matahari
menampakkan diri.

Jadi, di atas
pesawat yang terbang di angkasa, kita dengan mudah bisa menetapkan waktu
shalat, bahkan tanpa harus melihat jam atau bertanya kepada awak pesawat.

Kalau dalam rombongan jama’ah haji, ketua kloter adalah penanggung-jawab urusan semua ini. Dia haruslah sosok orang yang berilmu dan tahu bagaimana berpegang teguh kepada waktu-waktu shalat dan segala ketentuannya.

C. Menentukan Arah Kiblat di Pesawat

Pemecahan tentang bagaimana mendapatkan arah kiblat yang lebih akurat di dalam pesawat menjadi penting mengingat bahwa shalat fardhu harus dilakukan dengan arah kiblat yang tepat. Shalat fardhu tidak sama dengan shalat sunnah, yang boleh dilakukan dengan menghadap ke arah mana saja kita menghadap.

1.Keharusan Menghadap Kiblat

Kalau kita
telusuri berbagai referensi tentang bagaimana tata cara shalat Rasulullah SAW,
kita akan menemukan bahwa beliau SAW diriwayatkan pernah melakukan shalat di
atas kendaraan.

“Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahuanhu bahwa
Nabi SAW shalat di atas kendaraannya menuju ke arah Timur. Namun ketika beliau
mau shalat wajib, beliau turun dan shalat menghadap kiblat.”
(HR. Bukhari)

“Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahuanhu bahwa
Rasulullah SAW shalat di atas kendaraannya, menghadap kemana pun kendaraannya
itu menghadap. Namun bila shalat yang fardhu, beliau turun dan shalat menghadap
kiblat.”
(HR. Bukhari)

Namun meski
demikian contoh yang dikerjakan oleh Rasulullah SAW, para ulama
menggaris-bawahi masalah yang amat penting dari kedua hadits di atas, bahwa
Rasulullah SAW shalat di atas punggung unta hanya ketika melakukan shalat
sunnah saja.

Sedangkan untuk shalat fardhu 5 waktu, beliau kerjakan dengan turun dari untanya, menjejak kaki ke atas tanah, dan tentunya tetap dengan menghadap ke arah kiblat. Tidak menghadap ke arah mana saja untanya menghadap.

2. Kiblat Pesawat Haji Umrah

Pemecahan tentang
bagaimana mendapatkan arah kiblat yang lebih akurat di dalam pesawat akan
menjadi mudah manakala pesawat itu adalah pesawat pengangkut jama’ah haji atau
umrah. Khususnya penerbangan itu langsung (direct
flight
) menuju ke Jeddah atau Madinah. Karena kalau kita hitung dari
Jakarta misalnya, arah Jeddah dan Madinah nyaris sama saja dengan arah Mekkah
atau Ka’bah.

Sehingga dengan
mudah kita bisa asumsikan bahwa arah tujuan pesawat tidak lain adalah arah
kiblat, dan sebaliknya bila pesawat itu sedang terbang menuju ke tanah air dari
tanah suci, maka arah belakang pesawat otomatis adalah arah kiblat.

Walaupun memang tidak bisa dipungkiri bahwa tidak selamanya pesawat mengarah ke satu titik dengan garis lurus, kadang harus sedikit bergeser menghindari awan, angin atau badai, namun hal itu secara umum tidak merusak arah kiblat.

3. Kiblat Pesawat Lain

Namun kadang ada
juga penerbangan yang sifatnya tidak langsung, tetapi transit di kota-kota
tertentu. Kalau kota itu masih dalam garis lurus mengarah ke Mekkah, rasanya
tidak terlalu menjadi masalah.

Namun kadang kota
yang disinggahi itu jauh melenceng dari arah Mekkah. Misalnya seorang berangkat
umrah tetapi transit di kairo, Jordan, Yaman, Istanbul, dan sebagainya. Tentu
arah kota-kota meski sama-sam masih di wilayah Timur Tengah, tetap saja agak
jauh menyimpang dari arah kiblat. Dan hal ini tentu menimbulkan sedikit
masalah.

Apabila kita
bepergian bukan menuju Mekkah, misalnya ke negara-negara lain, dimana arah
pesawat memang relatif tidak searah dengan arah kiblat atau membelakanginya,
maka memang ada sedikit masalah dalam menentukan arah kiblat.

Namun, masalah ini
bukan tanpa solusi. Apalagi di zaman maju sekarang ini, nyaris semua pesawat
terbang dilengkapi dengan Global Positioning System (GPS).

Di beberapa
pesawat berbadan lebar, biasanya dipasang layar besar LCD di tengah kabin, dan
salah satunya menampilkan posisi pesawat di atas peta dunia. Bahkan beberapa
maskapai penerbangan yang baik menyediakan layar LCD di kursi masing-masing dan
salah satu fungsinya bisa sebagai GPS.

Asalkan kita tidak
terlalu awam dengan peta dunia, maka dengan mudah kita bisa menentukan mana
arah kiblat kalau diukur dari posisi pesawat. Maka ke arah sanalah kita
menghadapkan badan saat berdiri melaksanakan shalat.

Dan sangat mudah
untuk menemukan garis imajiner itu dengan pesawat modern, karena pasti
dilengkapi dengan alat semacam Global Positioning System (GPS) dan sejenisnya.

GPS ini akan
memberitahukan dengan pasti posisi pesawt terhadap titik-titik koordinat
tertentu di muka bumi, bahkan juga bisa memastikan kecepatan pesawat,
ketinggian (altitude), perkiraan
waktu yang akan ditempuh untuk mencapai tujuan dan sebagainya.

Maka dengan mudah kita bisa membuat perkiraan akurat, ke arah manakah seharusnya kita shalat di dalam pesawat.

D. Gerakan Shalat di Pesawat

Bagaimanakah tata cara shalat di atas kendaraan? Adakah contoh dari Rasulullah SAW dalam masalah ini?

1.Shalat Fardhu Harus Berdiri, Ruku’ dan Sujud

Para ulama sepakat
bahwa untuk shalat wajib lima waktu, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits
di atas, bahwa Rasulullah SAW tidak mengerjakannya di atas kendaraan. Bahkan
dua hadits Jabir menyebutkan dengan tegas bahwa beliau SAW turun dari kendaraan
dan shalat di atas tanah menghadap ke kiblat.

Selain itu ada
hadits Nabi SAW yang lain dimana beliau memerintahkan Ja’far bin Abu Thalib
radhiyallahuanhu yang menumpang kapal laut ketika berhijrah ke Habasyah untuk
shalat wajib sambil berdiri.

“Bahwa Nabi SAW ketika mengutus Ja’far bin Abi
Thalib radhiyallahuanhu ke Habasyah, memerintahkan untuk shalat di atas kapal
laut dengan berdiri, kecuali bila takut tenggelam.”
(HR. Al-Haitsami dan Al-Bazzar)

Sehingga para
ulama mengatakan bahwa shalat wajib tidak boleh dikerjakan di atas kendaraan,
bila tidak menghadap secara pasti ke arah kiblat.

Di sisi lain,
shalat fardhu itu rukunnya adalah berdiri sempurna. Berbeda dengan shalat
sunnah yang boleh dikerjakan cukup dengan duduk baik karena udzur atau tanpa
udzur.

Namun berdiri dan
menghadap kiblat ternyata bisa dengan mudah dikerjakan di atas pesawat terbang,
asalkan jenisnya bukan helikopter atau pesawat tempur.

Tentu tempat itu
bukan kursi tempat duduk penumpang. Sebab kalau di kursi penumpang, tentu sulit
untuk melakukan gerakan shalat yang normal, seperti berdiri, ruku’, dan sujud.

Dan juga tidak
mungkin kita menghadap kiblat dengan cara tetap duduk di kursi pesawat, apabila
pesawat itu memang tidak menuju Mekkah.

Maka tempat untuk mengerjakan shalat yang benar di dalam pesawat adalah keluar dari tempat duduk dan mencari lantai yang kosong, minimal bisa berdiri, ruku’, dan sujud.

2. Tempat Shalat Di Pesawat

Di dalam pesawat
terbang komersial, selalu ada tempat yang agak luas untuk kita bisa melakukan
shalat dengan sempurna dilengkapi ruku’ dan sujud.

Tempat itu adalah
pada bagian pintu masuk atau keluar. Tempat itu tidak pernah diisi dengan
kursi, karena merupakan jalan para penumpang masuk atau keluar ketika pesawat
berada di darat. Pada saat pesawat sedang terbang di angkasa, tentunya tempat
itu tidak berfungsi sebagai jalan keluar masuk. Di tempat itulah kita bisa
melakukan shalat dengan sempurna.

Konon menurut teman yang pernah naik maskapai Saudi Airlines, perusahaan itu secara khusus mengosongkan beberapa kursi khusus untuk yang mau mengerjakan shalat. Tentu ini lebih sempurna, karena jadi tidak akan mengganggu aktivitas di dalam pesawat. Dan bagi yang shalat di tempat itu juga tidak akan terganggu dengan lalu lalang orang.

3. Kewajiban Kementerian Agama RI

Dan seharusnya
pesawat yang disewa oleh Kementerian Agama Republik Indonesia khusus untuk
mengangkut jama’ah haji mutlak harus menyediakan tempat shalat ini. Caranya
dengan mengosongkan beberapa kursi di beberapa lokasi pesawat.

Sebab pesawat itu
disewa dengan menggunakan uang para jama’ah. Kalau sampai tidak disediakan
keperluan jama’ah untuk melakukan shalat di atas pesawat, maka ada hak-hak
jama’ah yang dizalimi. Apalagi semua ini terkait dengan kewajiban kepada Allah
SWT yang paling utama, yaitu shalat fardhu lima waktu.

Jangan sampai tujuan berhaji difasilitasi dengan fasilitas yang membuat jama’ah haji tidak sah shalatnya, akibat kelalaian atau keawaman para petugas di Kementerian ini.

4. Kewajiban Maskapai

Dan kewajiban
menyediakan tempat khusus shalat untuk jama;ah ini juga bukan hanya menjadi
kewajiban pihak Kementerian Agama RI saja, tetapi juga menjadi kewajiban pihak
maskapai penerbangan.

Maskapai-maskapai
itu sudah menangguk untung cukup besar dari meluapnya jumlah penumpang yang
bertujuan untuk beribadah haji dan umrah. Maka sudah selayaknya para jama’ah
itu mendapatkan fasilitas untuk shalat dengan benar di atas pesawat.

Artikel
ini disadur dari Buku Seri Fiqih Kehidupan Jilid 6 : Haji & Umrah, halaman
297-304. Disusun oleh Ustadz Ahmad Sarwat, Lc., MA

By : Kabilah Tour Mudah, Aman & Berkah

kabilah

KABILAH TOUR adalah Perusahaan yang telah memiliki legalitas PT (Perseroan Terbatas ) yang bergerak di bidang jasa Biro Perjalanan Wisata.Melayani promo paket umroh yang Mudah, Aman Dan Berkah hub: 022-5233562 / 081290007941, Jalan Leuwipanjang No.32B Kota Bandung 40234 kunjungi:http://www.kabilahtour.co.id