Syarat Umrah

Syarat umrah
terkait dengan dua hal, yaitu syarat sah dan syarat wajib.

Syarat sah adalah
hal-hal apa saja yang harus terpenuhi agar ibadah umrah yang dilakukan menjadi
sah hukumnya. Sedangkan syarat wajib adalah menyangkut hal-hal apa saja yang
apabila telah terpenuhi pada diri seseorang, maka umrah itu hukumnya wajib
atasnya untuk dikerjakan.

Dan kalau kita
amati, boleh dibilang bahwa pada dasarnya apa yang menjadi syarat dalam umrah,
juga menjadi syarat dalam ibadah haji.

Syarat haji adalah Islam, aqil, baligh, merdeka, dan mampu. Selain itu, juga ada syarat tambahan khusus buat wanita, yaitu ada izin dari suami atau wali, serta bukan dalam keadaan iddah.

1.Beragama Islam

Beragama Islam
adalah syarat sah ibadah umrah. Seorang yang statusnya bukan muslim, maka
walaupun dia mengerjakan semua bentuk ritual umrah, tentu tidak sah ibadahnya
dan apa yang dikerjakannya itu tidak akan diterima Allah SWT sebagai bentuk
kebaikan.

Di dalam Al-Qur’an
ditegaskan bahwa amal-amal yang dilakukan oleh orang yang statusnya bukan
muslim adalah amal-amal yang terhapus dengan sendirinya.

“…..barangsiapa yang kafir sesudah beriman, maka
hapuslah amalannya…..”
(QS Al-Maidah ayat 5)

“Dan orang-orang yang kafir, amal-amal mereka adalah
laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang
yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu
apa pun. Dan di dapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan
kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat
perhitungan-Nya.”
(QS An-Nur ayat 39)

Kedua ayat di atas secara jelas menyebutkan bahwa kekafiran akan menghapus amalan seseorang, begitu pula orang yang kafir amalannya tak akan pernah diterima oleh Allah SWT.

2. Berakal

Syarat kedua adalah orang yang mengerjakan ibadah umrah ini harus orang yang berakal. Maksudnya orang itu waras, normal, tidak gila, atau hilang ingatan. Berakal menjadi syarat wajib dan juga syarat sah dalam ibadah umrah.

3. Baligh

Syarat baligh ini
merupakan syarat wajib dan bukan syarat sah. Maksudnya, anak kecil yang belum
baligh tidak dituntut untuk mengerjakan ibadah umrah, meski dia punya harta
yang cukup untuk membiayai perjalanan ibadah umrah ke Mekkah.

Dasarnya adalah
sabda Rasulullah SAW tentang tidak diwajibkannya beban taklif kepada anak kecil
yang belum baligh berikut ini :

“Pena (kewajiban) diangkat (ditiadakan) dari
tiga orang, dari orang gila sampai dia sembuh, dari orang yang tidur sampai dia
bangun, dan dari anak kecil sampai dia dewasa (baligh).”
(HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Akan tetapi
apabila seorang anak yang belum baligh tapi sudah mumayyiz berangkat ke tanah
suci lalu mengerjakan semua ritual umrah, maka hukumnya sah dalam pandangan
syariah.

Namun dalam pandangan ijma’ ulama, ibadah umrah yang dikerjakannya dianggap umrah sunnah dan bukan umrah wajib. Konsekuensinya, manakala nanti dia sudah baligh, dia tetap masih punya kewajiban untuk melaksanakan lagi umrah yang hukumnya wajib.

4. Merdeka

Syarat yang
keempat buat ibadah umrah adalah status orang yang mengerjakannya adalah orang
yang merdeka, bukan hamba sahaya.

Merdeka adalah syarat wajib umrah dan bukan syarat sah. Hal itu berarti seorang budak tentu tidak diwajibkan untuk mengerjakan ibadah umrah. Namun, bila tuannya mengajaknya untuk menunaikan ibadah umrah, dan dia menjalankan semua syarat dan rukun serta wajib umrah, hukum umrah yang dilakukannya sah menurut hukum agama.

5. Mampu

Syarat yang kelima
adalah istitha’ah atau kemampuan. Dan syarat ini persis sekali dengan syarat
ibadah haji.

“Mengerjakan ibadah haji adalah kewajiban
manusia terhadap Allah, yaitu orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke
Baitullah.”

(QS. Ali Imran, ayat 97)

Ketika Rasulullah
SAW ditanya tentang makna ‘sabila’ dalam ayat di atas, beliau menjelaskan :

“Seseorang datang kepada Nabi SAW dan bertanya,
“Ya Rasulullah, hal-hal apa saja yang mewajibkan haji ?”. Beliau menjawab,
“Punya bekal dan punya tunggangan.”
(HR. Tirmidzi)

“Seseorang bertanya, “Ya Rasulullah, apa yang
dimaksud dengan sabil (mampu pergi haji) ?”. Beliau menjawab, “Punya bekal dan
tunggangan.”

(HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi)

Para ulama
menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan kemampuan itu terkait pada beberapa hal
seperti kesehatan, kecukupan harta serta keamanan dalam perjalanan.

Khusus buat wanita, syariat istitha’ah (mampu) masih ada tambahan lagi, yaitu adanya mahram atau izin dari suami, serta wanita itu tidak dalam keadaan masa iddah yang melarangnya keluar rumah.

6.Wanita Harus Ada Mahram

Umumnya para ulama
mensyaratkan bagi wanita untuk punya mahram yang mendampingi selama perjalanan
umrah dan juga haji.

Dasar atas syarat
ini adalah beberapa hadits Rasulullah SAW berikut ini :

“Dari Ibnu Abbas radhiyallahuanhu dari Nabi
SAW, beliau bersabda: “Janganlah sekali-kali seorang lelaki berduaan dengan
perempua kecuali dengan ditemani mahramnya.” Lalu, seorang laki-laki bangkit
seraya berkata, “Wahai Rasulullah, istriku berangkat hendak menunaikan haji
sementara aku diwajibkan untuk mengikuti perang ini dan ini.” Beliau bersabda:
“Kalau begitu, kembali dan tunaikanlah haji bersama istrimu.””
(HR. Bukhari)

“Dari Nafi’ dari Ibnu Umar radhiyallahuanhu
dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Janganlah seorang wanita bepergian selama tiga
hari kecuali bersama mahramnya.””
(HR. Ahmad)

Juga ada hadits
lain :

“Janganlah seorang wanita pergi haji kecuali
bersama suaminya.”

(HR. Ad-Daruqutni)

Namun kesertaan
suami atau mahram ini tidak dijadikan syarat oleh sebagian ulama, diantaranya
Mazhab Al-Malikiyah dan Asy-Syafi’iyah. Sehingga menurut mereka bisa saja
seorang wanita mengadakan perjalanan haji berhari-hari bahkan berminggu-minggu,
meski tanpa kesertaan mahram.

Mazhab
Asy-Syafi’iyah menyebutkan asalkan seorang wanita pergi haji bersama rombongan
wanita yang tsiqah (dipercaya), misalnya teman-teman perjalanan sesama wanita
yang terpercaya, maka mereka boleh menunaikan ibadah haji, bahkan hukumnya
tetap wajib menunaikan ibadah haji. Syaratnya, para wanita itu bukan hanya satu
orang melainkan beberapa wanita.

Al-Malikiyah juga
mengatakan bahwa seorang wanita wajib berangkat haji asalkan ditemani oleh para
wanita yang terpercaya, atau para laki-laki yang terpercaya, atau campuran dari
rombongan laki-laki dan perempuan.

Sebab dalam
pandangan kedua mazhab ini, ‘illat-nya bukan adanya mahram atau tidak, tetapi
‘illat-ny adalah masalah keamanan. Adapun adanya suami atau mahram, hanya salah
satu cara untuk memastikan keamanan saja. Tetapi, meski tanpa suami atau
mahram, asalkan perjalanan itu dipastikan aman, maka sudah cukup syarat yang
mewajibkan haji bagi para wanita.

Dasar dari
kebolehan wanita pergi haji tanpa mahram asalkan keadaan aman, adalah hadits
berikut ini :

“Dari Adiy bin Hatim berkata: ‘Ketika aku
sedang bersama Nabi SAW tiba-tiba ada seorang laki-laki mendatangi beliua
mengeluhkan kefakirannya, kemudian ada lagi seorang laki-laki yang mendatangi
beliau mengeluhkan para perampok jalanan.”. maka beliau berkata: “Wahai Adiy,
apakah kamu pernah melihat negeri Al Hirah ?”. Aku jawab: “Aku belum pernah
melihatnya namun aku pernah mendengar beritanya”. Beliau berkata: “Seandainya
kamu diberi umur panjang, kamu pasti akan melihat seorang wanita yang
mengendarai kendaraan berjalan dari Al Hirah hingga melakukan tawaf di Ka’bah
tanpa takut kepada siapapun kecuali kepada Allah.”
(Hr. Bukhari)

Hadits ini
mengisahkan penjelasan Rasulullah SAW bahwa suatu saat di kemudian hari nanti,
keadaan perjalanan haji akan menjadi sangat aman. Begitu amannya sehingga
digambarkan bahwa akan ada seorang wanita yang melakukan perjalanan haji yang
teramat jauh sendirian, tidak ditemani mahram, namun dia tidak takut kepada
apapun.

Maksudnya, saat
itu keadaan sudah sangat aman, tidak ada perampok, begal, penjahat, dan
sejenisnya, yang menghantui perjalanan haji. Kalau pun wanita itu punya rasa
takut, rasa takut itu hanya kepada Allah SWT saja.

Dan ternyata masa
yang diceritakan beliau SAW tidak lama kemudian terjadi. Adi bin Hatim
mengisahkan bahwa di masa akhir hidupnya, beliau memang benar-benar bisa
menyaksikan apa yang pernah disampaikan oleh Rasulullah SAW.

Selain menggunakan
dalil hadits di atas, mereka juga mendasarkan pendapat mereka di atas praktik
yang dilakukan oleh para istri Nabi, ummahatul mukminin. Sepeninggal Rasulullah
SAW, mereka mengadakan perjalanan haji dari Madinah ke Mekkah. Dan kita tahu
persis bahwa tidak ada mahram yang mendampingi mereka, juga tidak ada suami.
Mereka berjalan sepanjang 300-400 km bersama dengan rombongan laki-laki dan
perempuan.

Namun, perlu dicatat bahwa kebolehan wanita bepergian tanpa mahram menurut Mazhab Asy-Syafi’iyah dan Al-Malikiyah hanya pada kasus haji yang wajib saja. Sedangkan haji yang sunnah, yaitu haji kedua atau ketiga dan seterusnya, tidak lagi diberi keringanan. Apalagi untuk perjalanan selain haji.

7. Wanita Tidak Dalam Masa Iddah

Syarat lainnya
yang khusus diberlakukan buat wanita yang akan pergi haji adalah terbebasnya
dari masa iddah.

Masa iddah yang
berlaku buat tiap wanita berbeda-beda durasinya, tergantung penyebabnya.
Seorang wanita yang dicerai oleh suaminya, wajib melaksanakan iddah selama 3
kali massa suci dari hadas, atau 3 kali masa haidh.

“Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan
diri (menunggu) tiga kali quru’.
” (QS. Al-Baqarah, ayat 228).

Sedangkan wanita
yang suaminya meninggal dunia, Allah SWT menetapkan di dalam Al-Qur’an Al-Karim
bahwa masa iddahnya adalah 4 bulan 10 hari.

“Orang-orang yang meninggal di dunia di antara
kalian dengan meninggalkan istri-istri, maka hendaklah para istri itu
menangguhkan dirinya (ber’iddah) selama empat bulan sepuluh hari.”
(QS. Al-Baqarah, ayat 234).

Artikel ini disadur dari Buku Seri Fiqih Kehidupan Jilid 6 : Haji & Umrah, halaman 251-256. Disusun oleh Ustadz Ahmad Sarwat, Lc., MA

By : Kabilah Tour Mudah, Aman & Berkah

kabilah

KABILAH TOUR adalah Perusahaan yang telah memiliki legalitas PT (Perseroan Terbatas ) yang bergerak di bidang jasa Biro Perjalanan Wisata.Melayani promo paket umroh yang Mudah, Aman Dan Berkah hub: 022-5233562 / 081290007941, Jalan Leuwipanjang No.32B Kota Bandung 40234 kunjungi:http://www.kabilahtour.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published.