Tempat-Tempat Penting selama Haji dan Umrah Part 3

Madinah : Masjid An-Nabawi

Madinah adalah
kota suci kedua umat Islam. Di tempat inilah panutan umat Islam, Nabi Muhammad
SAW dimakamkan di Masjid Nabawi.

Tempat ini
sebenarnya tidak masuk ke dalam ritual ibadah haji, namun jama’ah haji dari
seluruh dunia biasanya menyempatkan diri berkunjung ke kota yang letaknya
kurang lebih 330 km (450 km melalui transportasi darat) Utara Makkah ini untuk
berziarah dan melaksanakan shalat di masjidnya Nabi.

Ketika tiba di
Yatsrib yang kemudian dinamakan Madinah, Rasulullah SAW kemudian mendirikan
masjid sebagai proyek pertama.

Jadi, jelas sekali
walaupun masjid nabawi ini termasuk masjid besar dan fenomenal dalam sejarah,
tetapi urutannya bukan masjid yang pertama kali dibangun di masa nabi.
Sebelumnya ada masjid Quba’, bahkan ada masjid Ammar bin Yasir dan di masa
Mekkah, ada masjid Abu Bakar ridwanullahi alaihim.

Masjid Nabawi ini
didirikan di atas tanah yang awalnya adalah tempat berhenti unta Rasulullah SAW
saat tiba di Madinah. Karena para sahabat Anshar berebutan untk menjadikan
rumah mereka sebagai tempat singgah Rasulullah SAW, maka diundilah dengan cara
melepaskan unta beliua yang bernama Qashwa berjalan sendirian tanpa dibela. Dan
disepakati dimanapun unta itu berhenti dan duduk, disitulah Rasulullah SAW akan
bertempat tinggal.

Beliau bersabda:

“Bebaskan jalan unta, karena unta itu telah
diperintah”

Unta itu lantas
berhenti di sebidang tanah milik kakak-beradik yatim, Sahal dan Suhail bin Amr.
Kemudian tanah itu dibebaskan seharga 20 dinar. Sebagai perbandingan, di masa
itu Rasulullah SAW pernah meminta dibelikan seekor kambing dan harga pasaran
kambing 1 dinar per ekor. Jadi kira-kira 1 dinar itu antara 1-1.5 juta pada
hari ini. Kalau 20 dinar berarti kira-kira 20-30 juta.

Sebenarnya tanah
itu tidak kosong, tetapi ada kuburan milik orang kafir dia masa lalu yang
kemudian dipindahkan, juga ada bekas pohon-pohon kurma dan gharqad yang
kemudian ditebang dan dibersihkan. Pohon gharqad adalah pohon khas Yahudi.

Awalnya, masjid
ini berukuran sekitar 50m x 50m2, dengan tinggi atap sekitar 3,5
meter dimana Rasulullah SAW turut membangunnya dengan tangannya sendiri,
bersama-sama dnegan para sahabat dan kaum muslimin. Tembok di keempat sisi
masjid ini terbuat dari batu bata dan tanah, sedangkan atapnya dari daun kurma
dengan tiang-tiang penopangnya dari batang kurma. Sebagian atapnya dibiarkan
terbuka begitu saja. Selama sembilan tahun pertama, masjid ini tanpa penerangan
di malam hari. Hanya di waktu Isya, diadakan sedikit penerangan dengan membakar
jerami.

Adapun rumah
kediaman untuk Rasulullah SAW dibangun melekat pada salah satu sisi masjid.
Ukurannya tidak seberapa besar dan tidak lebih mewah dari keadaan masjidnya,
hanya tentu saja lebih tertutup.

Masjid Nabawi juga
dilengkapi dengan bagian yang digunakan sebagai tempat orang-orang fakir miskin
yang tidak memiliki rumah. Belakangan, orang-orang ini dikenal sebagai
ahlussufah atau para penghuni teras masjid.

  1. Keutamaan
    Masjid Nabawi

Masjid Nabawi
adalah salah satu masjid yang memiliki banyak keistimewaan, antara lain dari
segi pahala shalat yang mana satu kali shalat di dalamnya setara dengan seribu
kali shalat di masjid lain. Rasulullah SAW bersabda,

“Satu kali shalat di masjidku ini, lebih besar
pahalanya dari seribu kali shalat di masjid yang lain, kecuali di Masjidil
Haram. Dan satu kali shalat di Masjidil Haram lebih utama dari seratus ribu
kali shalat di masjid lainnya.”
(Riwayat Ahmad, dengan sanad yang sah)

Sebagai muslim,
kita juga sangat dianjurkan untuk mengunjungi masjid nabawi ini, karena
Rasulullah SAW pernah bersabda,

“Dari Sa’id bin Musiyab dari Abu Hurairah,
bahwa Nabi SAW bersabda, “Tidak perlu disiapkan kendaraan, kecuali untuk
mengunjungi tiga buah masjid: Masjidil Haram, masjidku ini (Masjid Nabawi), dan
Masjidil Aqsha.”

(HR. Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud)

Selain itu, di
Masjid Nabawi ini terdapat situs yang amat dimuliakan dan punya keutamaan,
yaitu Raudhah.

Do’a-do’a yang
dipanjatkan dari Raudhah ini akan dikabulkan oleh Allah SWT. Raudhah terletak
di antara mimbar dengan makam (dahulu rumah) Rasulullah SAW,

“Dari Abu Hurairah radhiyallahuanhu bahwa Nabi
SAW bersabda,”Tempat yang terletak di antara rumahku dengan mimbarku merupakan
suatu taman di antara taman-taman surga, sedang mimbarku itu terletak di atas
kolamku.”
(HR. Bukhari)

Ada pun hadits
yang menyebutkan bahwa siapa yang shalat 40 waktu di Masjid Nabawi akan
terbebas dari siksa api neraka, menurut sebagian besar ulama hadits, termasuk
hadits yang lemah dari segi isnad.

“Dari Anas bin Malik bahwa Nabi SAW
bersabda,”Siapa melakukan shalat di mesjidku sebanyak empat puluh kali tanpa
luput satu kali shalat pun juga, maka akan dicatat kebebasannya dari neraka,
kebebasan dari siksa, dan terhindarlah ia dari kemunafikan.”
(HR. Ahmad dan Thabrani)

Berdasarkan
hadits-hadits ini, maka kota Madinah dan terutama Masjid Nabawi selalu ramai
dikunjungi umat Muslim yang tengah melaksanakan ibadah haji atau umrah sebagai
amal sunnah.

  • Perluasan
    Masjid An-Nabawi

Sejak berdiri di
masa Nabi SAW hingga masa dua khalifah sesudahnya, masjid nabawi masih tetap
seperti itu dari segi bangunan dan luas.

Renovasi yang
pertama dilakukan oleh Umar bin Khattab di tahun 17 H, dan renovasi kedua
dilakukan oleh Khalifah Utsman bin Affan di tahun 29 H.

Di zaman modern,
Raja Abdul Aziz dari Kerajaan Saudi Arabia meluaskan masjid ini menjadi 6,024 m2
di tahun 1372 H. perluasan ini kemudian dilanjutkan oleh penerusnya, Raja Fahd
di tahun 1414 H, sehingga luas bangunan masjidnya hampir mencapai 100,000 m2,
pelataran masjid yang dapat digunakan untuk shalat seluas 135,000 m2.

Masjid Nabawi saat
ini dapat menampung kira-kira 535,000 jemaah untuk shalat bersama. Sebagian
kalangan menyebutkan bahwa luas masjid Nabawi hari ini setara dengan luas kota
Madinah di masa Rasulullah SAW.

  • Makam
    Rasulullah SAW

Makam Rasulullah
SAW terletak di sebelah Timur Masjid Nabawi. Di tempat ini dahulu terdapat dua
rumah, yaitu rumah Rasulullah SAW bersama Aisyah dan rumah Ali dengan Fatimah.

Sejak Rasulullah
SAW wafat pada tahun 11 H (632 M), rumah Rasulullah SAW terbagi dua. Bagian
arah kiblat (Selatan) untuk makam Rasulullah SAW dan bagian Utara untuk tempat
tinggal Aisyah.

Sejak tahun 678 H
(1279 M) di atasnya dipasang Kubah Hijau (Green Dome). Dan sampai sekarang
Kubah Hijau tersebut tetap ada. Jadi, tepat di bawah Kubah Hijau itulah jasad
Rasulullah SAW dimakamkan.

Di situ juga
dimakamkan kedua sahabat, Abu Bakar (Khalifah Pertama) dan Umar (Khalifah
Kedua) yang dimakamkan di bawa kubah, berdampingan dengan makam Rasulullah SAW.

  • Raudhah

Makna Raudhah
aslinya adalah taman. Namun yang dimaksud dengan Raudhah disini adalah ruang
diantara mimbar dan kamar Rasulullah di dalam masjid Nabawi. Sebagaimana
Rasulullah bersabda:

”Diantara rumah dan mimbarku adalah sebagian
taman surga.”

Lokasi Raudhah
merupakan bagian dari shaf laki-laki, dan hanya terbuka untuk perempuan di
jam-jam tertentu, yaitu saat Dhuha dan setelah shalat Dzuhur.

Lokasi Raudhah
sebenarnya kecil sekali, kira-kira hanya berukuran 22×15 meter persegi, Cuma
muat menampung beberapa puluh jama’ah. Namun lokasi itu diyakini merupakan
tempat uang mustajab untuk berdo’a.

  • Seputar Madinah
  • Jabal
    Uhud

Letaknya kurang
lebih 5 km dari pusat kota Madinah. Di bukit inilah terjadi perang dahsyat
antara kaum muslimin melawan kaum musyrikin Mekkah. Dalam pertempuran tersebut,
gugur 70 orang syuhada di antaranya Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Nabi
Muhammad SAW.

Kecintaan
Rasulullah SAW pada para syuhada Uhud, membuat beliau selalu menziarahinya
setiap tahun. Untuk itu, Jabal Uhuf menjadi salah satu tempat penting untuk
diziarahi.

  • Makam
    Baqi’

Baqi’ adalah tanah
kuburan untuk penduduk sejak zaman jahiliyah sampai sekarang. Jamaah haji yang
meninggal di Madinah dimakamkan di Baqi’, letaknya di sebelah Timur dari Masjid
Nabawi.

Disinilah makam
Utsman bin Affan ra., para istri Nabi, putra dan putrinya, dan para sahabat
dimakamkan. Ada banyak perbedaaan makam seperti di tanah suci ini dengan makam
yang ada di Indonesia, terutama dalam hal peletakan batu nisan.

  • Masjid
    Qiblatain

Pada masa
permulaan Islam, kaum muslimin melakukan shalat dengan menghadap kiblat ke arah
Baitul Maqdis di Yerussalem, Palestina.

Pada tahun ke-2 H
bulan Rajab pada saat Nabi Muhammad SAW melakukan shalat Dzuhur di masjid ini,
tiba-tiba turun wahyu, surat Al-Baqarah ayat 144 yang memerintahkan agar kiblat
shalat diubah ke arah Ka’bah, Masjidil Haram, Mekkah.

Dengan terjadinya
peristiwa tersebut, maka akhirnya Masjid ini diberi nama Masjid Qiblatain yang
berarti masjid berkiblat dua.

Artikel ini disadur dari Buku Seri Fiqih Kehidupan Jilid 6 : Haji & Umrah, halaman 279-284. Disusun oleh Ustadz Ahmad Sarwat, Lc., MA

By : Kabilah Tour Mudah, Aman dan Berkah

kabilah

KABILAH TOUR adalah Perusahaan yang telah memiliki legalitas PT (Perseroan Terbatas ) yang bergerak di bidang jasa Biro Perjalanan Wisata.Melayani promo paket umroh yang Mudah, Aman Dan Berkah hub: 022-5233562 / 081290007941, Jalan Leuwipanjang No.32B Kota Bandung 40234 kunjungi:http://www.kabilahtour.co.id