Umrah Rasulullah SAW

Berbeda dengan
ibadah haji yang hanya sekali seumur hidup beliau lakukan, Rasulullah SAW
tercatat pernah sampai empat kali mengadakan perjalanan untuk melakukan ibadah
umrah. Tiga diantaranya dilakukan pada bulan Dzulqa’dah tanpa berhaji, dan
umrah yang keempat beliau lakukan bersamaan dengan ibadah haji di tahun
kesepuluh Hijriyah.

Hal itu sebagaiman
disebutkan pada hadits shahih berikut:

“Rasulullah SAW melaksanakan ibadah umrah empat kali,
semuanya di bulan Dzulqa’dah, bersama dengan perjalanan hajinya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Dari keempat umrah
yang beliau lakukan, satu kali gagal karena terhalang faktor keamanan. Jadi,
sebenarnya yang benar-benar terjadi beliau umrah hanya tiga kali saja.

Berikut ini kita rinci secara lebih mendalam masing-masing umrah yang beliau SAW lakukan.

1.Umrah Pertama

  • Tahun Keenam Hijriyah

Umrah beliau SAW
yang pertama terjadi di tahun keenam hijriyah. Sebagian ulama menyebutkan bahwa
pada tahun itu juga telah turun wahyu yang mewajibkan ibadah haji.

“mengerjakan ibadah haji adalah kewajiban manusia
terhadap Allah, yaitu orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.
Siapa mengingkari, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dari semesta alam.”
(QS. Ali Imran ayat 97)

Meski pun sudah
ada perintah untuk mengerjakan ibadah haji, namun Rasulullah SAW tidak
mengerjakannya. Justru saat itu, beliau malah berangkat ke Mekkah dengan niat
untuk mengerjakan umrah.

Namun sebagian
ulama menyanggah pendapat bahwa ayat ini turun pada tahun keenam hijriyah.

Kisahnya, pada
suatu pagi tatkala para sahabat sedang berkumpul di masjid, tiba-tiba Nabi
memberitahukan kepada mereka bahwa ia telah mendapat ilham dalam mimpi hakiki,
bahwa Insyaallah mereka akan memasuki Mesjid Suci dengan aman tenteram, dengan
kepala dicukur atau digunting tanpa akan merasa takut.

Hal itu disebutkan
di dalam Al-Qur’an:

“Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya,
tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya bahwa sesungguhnya kamu pasti akan
memasuki Masjidil Haram, Insyaallah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut
kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah
mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu
kemenangan yang dekat.”
(QS. Al Fath ayat 27)

Berita tentang
mimpi beliau SAW itu kemudian serentak tersebar ke seluruh penjuru Madinah.
Rasulullah SAW kemudian mengumumkan kepada orang ramai supaya pergi menunaikan
ibadah haji dalam bulan Dzulhiijah yang suci.

Beliau juga
mengirim utusan kepada kabilah-kabilah yang bukan dari pihak muslimin,
dianjurkannya mereka supaya ikut bersama-sama pergi berangkat ke Baitullah,
dengan aman, tanpa ada pertempuran.

Rombongan umrah ini berangkat dari Madinah menuju Mekkah dengan jumlah antara seribu empat ratus hingga seribu lima ratus orang peserta, pada bulan Dzulqa’dah sebagai salah satu bulan suci, dengan semua mengenakan pakaiana ihram, sambil menarik hewan ternak yang akan mereka sembelih di Mina, tanpa membawa senjata.

  • Gagal Umrah

Namun rombongan
dicegat di daerah Hudaibiyah beberapa kilometer sebelum memasuki Mekkah. Para
pemuka Quraisy tidak mengizinkan jama’ah itu memasuki kota Mekkah, dengan
alasan mereka masih dalam status berperang. Bahkan terdengar isu bahwa para
utusan yang dikirim oleh Rasulullah SAW untuk bernegosiasi telah dibunuh.

Maka, situasi
semakin tidak menentu. Tujuan mereka bukan untuk berperang, tapi semata-mata
mau menjalankan ibadah haji. Tidak ada persiapan apa pun yang terkait dengan
perang, beliau SAW dan para sahabat datang hanya berpakaian lembaran kain
ihram, sama sekali tidak membawa senjata, bekal, apalagi persiapan perang.

Namun, pihak Quraisy justru ingin memanfaatkan momen ini, dan berniat untuk menghabisi semua umat Islam dalam sekali libas. Mumpung semua tidak bersenjata dan mumpung semuanya ada, membantai mereka di momen seperti ini dalam pikiran mereka, akan segera menyelesaikan persoalan.

  • Bai’at Ridhwan

Ancaman dari orang
yang sedang kalap boleh jadi bukan hanya berhenti pada gertakan. Segala
kemungkinan terburuk bisa saja terjadi. Untuk mengantisipasi situasi yang
genting ini, serta menguatkan tekad para sahabat, maka Rasulullah SAW meminta
masing-masing berbai’at kepada beliau SAW. Maka, terjadilah Bai’at Ridhwan yang
dilangsungkan di bawah sebuah pohon. Peristiwa itu dicatat dengan turunnya
wahyu untuk mengabadikannya.

“Sungguh Allah telah ridha kepada orang-orang yang
beriman ketika mereka berbai’at kepadamu di bawah pohon, maka dia tahu apa yang
ada di dalam hati-hati mereka dan Allah menurunkan rasa tenang kepada mereka
dan memberi mereka balasan berupa kemenangan yang dekat.”
(QS. Al-Fath ayat 19)

Akhirnya setelah bai’at berlangsung, didapat kesepakatan dengan orang-orang Quraisy untuk berdamai selama masa waktu 10 tahun.

  • Perjanjian Hudaibiyah

Di dalam sejarah,
perjanjian ini dikenal dengan Perjanjian Hudaibiyah, mengacu kepada titik
tempat dimana perjanjian itu disepakati.

Meski umrah saat itu gagal, ternyata malah menjadi pembuka pintu-pintu kemenangan di masa berikutnya.

2.Umrah Kedua

  • Tahun Ketujuh Hijriyah

Umrah yang kedua,
terjadi setahun kemudian, tahun ke tujuh hijriyah. Umrah ini dikenal dengan
sebutan umrah qadha’, karena menggantikan umrah sebelumnya yang gagal.

Umrah yang kedua
ini terjadi ketika umat Islam telah melaksanakan perjanjian damai dengan pemuka
Mekkah untuk rentang waktu 10 tahun. Selama masa itu, kedua belah pihak terikat
perjanjian untuk tidak boleh saling berperang, saling membunuh, dan saling
mengkhianati.

Kedua belah pihak
sepakat membolehkan umat Islam dari Madinah masuk dengan aman ke Mekkah dan
menjalankan ritual agama yang sudah lazim di kalangan bangsa Arab, dan menjadi
hak seluruh umat manusia untuk diterima dengan aman di kota Mekkah.

  • Dua Ribu Jama’ah

Sejarah mencatat
bahwa jumlah sahabat yang ikut dalam umrah qadha’ ini tidak kurang dari dua
ribu sahabat. Mereka tidak lain adalah jama’ah yang pada tahun lalu ikut umrah
yang gagal, sehingga menjadi kewajiban bagi mereka untuk mengulanginya. Dan
dinamakan dengan mengqadha’ atau Umrah Qadha’.

Namun ada sebagian
dari jama’ah umrah sebelumnya yang tidak ikut dalam Umrah Qadha’ ini, yaitu
mereka yang wafat atau mati syahid di medan Perang Khaibar.

Dalam umrah kali
ini, Rasulullah SAW dan para sahabat melengkapi diri dengan senjata, untuk
berjaga-jaga sekiranya pihak Quraisy berkhianat. Rasulullah SAW juga
menempatkan dua ratus penunggang kuda di barisan depan untuk mengawal jama’ah
umrah.

  • Talbiyah Tauhid

Menarik untuk
dicatat bahwa ketika dua ribu jama’ah umrah memasuki pintu gerbang kota Mekkah,
kumandang suara talbiyah yang
hakikatnya mentauhidkan Allah tidak terputus. Buat kita di zaman sekarang ini,
lantunan talbiyah ini mungkin
terdengar biasa saja. Namun, buat penduduk Mekkah yang kerjanya menyembah 360
berhala di seputaran Ka’bah, kumandang talbiyah
ini jadi sangat kontras. Bagaimana tidak, coba perhatikan lafadz talbiyah itu.

Aku dengar panggilan-Mu ya Allah, Aku dengar
panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya pujian, nikmat, dan
kerajaan hanya untuk-Mu.

Lafadz itu menegaskan bahwa tidak ada sembahan selain Allah saja. Padahal titik masalah yang menjadi cikal bakal permusuhan dan peperangan antara umat Islam dan penduduk Mekkah adalah masalah menyekutukan Allah.

3. Umrah Ketiga

  • Tahun Kedelapan Hijriyah

Umrah yang ketiga
terjadi di tahun ke delapan hijriyah, yaitu bertepatan dengan peristiwa
dibebaskannya kota Mekkah (fathu-makkah).

Pada saat
peristiwa ini Rasulullah SAW datang ke Mekkah sambil melakukan umrah, dengan
sebelumnya meruntuhkan berhala-berhala yang berada di seputar Ka’bah.

Tercatat sekali
saja umrah di masa damai, tidak sampai duta tahun berjalan, tiba-tiba orang
Mekkah dan sekutunya tidak tahan untuk mencederai perjanjian itu. Maka, segera
saja Rasulullah SAW menyiapkan pasukan perang yang sangat dahsyat, tidak kurang
dari 10,000 pasukan akhirnya terbentuk sepanjang perjalanan, di bawah pimpinan
Khalid bin Walid yang baru saja menyatakan keislamannya dan membelot dari pihak
kafir Mekkah kepada Nabi Muhammad SAW.

  • Pengkhianatan Perjanjian Hudaibiyah

Peristiwa ini
berawal dari terjadinya pengkhianatan atas perjanjian damai Hudaibiyah, yang
dilancarkan oleh pihak Bani Bakar, sekutu kafir Quraisy, kepada Khuza’ah,
sekutu pihak muslimin. Setidaknya ada 20 orang yang jadi korban pembunuhan,
dimana sekutu kafir Quraisy Mekkah harus bertanggung-jawab.

Perjanjian
Hudaibiyah yang seharusnya berlaku selama sepuluh tahun, ternyata baru dua
tahun sudah dikhianati. Maka dengan demikian, putuslah perjanjian damai dan
perang dapat dimulai kembali.

  • Mekkah Dibebaskan

Saat itu,
Rasulullah SAW berhasil menaklukkan kota Mekkah dengan pasukan yang teramat
besar untuk ukuran kota Mekkah. Tidak kurang dari 10.000 pasukan mengepung
lembah kota Mekkah dari empat penjuru mata angin, sambil menabuh genderang
perang, dan lantunan takbir yang membahana.

Otomatis Mekkah
dan penduduknya menyerah tanpa syarat. Tidak ada lagi yang bisa mereka jadikan
sebagai alat pertahanan, sebab di seluruh bukit kota Mekkah, 10.000 pasukan itu
menyalakan api unggun. Suasananya berbalik 180 derajat dari 2 tahun sebelumnya,
ketika pasukan Mekkah mengepung 1500-an sahabat di Hudaibiyah.

Namun Rasulullah SAW bukan seorang pendendam.
Misi suci yang dibawanya bukan untuk menjadi pemenang apalagi pembantai. Misi
sucinya sekedar mengajak kepada iman kepada Allah dan berserah diri kepada-Nya.
Manakala manusia sudah mau menerima ajakannya, sudah selesai tugasnya, baik
mereka beriman atau tidak beriman.

Sikap agung dan
mulia inilah yang kemudian membuat nyaris hampir semuanya pada akhirnya masuk
Islam. Peristiwa itu dicatat di dalam Al-Qur’an Al-Kariem dalam surat An-Nashr.

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.
Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong. Maka,
bertasbihlah dengan meuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya
Dia adalah Maha Penerima Taubat.
(QS. An-Nashr,
ayat 1-3)

Dalam kesempatan
itu, Rasulullah SAW memasuki kota Mekkah dengan berpakaian ihram, lalu beliau
bertawaf di sekeliling Ka’bah, sebagai rukun ibadah umrah dan menyelesaikannya
dengan mengerjakan sa’i antara Shafa dan Marwah.

Namun, peristiwa ini bukan ibadah haji. Ibadah haji baru beliau lakukan pada tahun kesepuluh, dua tahun kemudian. Ibadah yang beliau lakukan hanyalah sebuah ibadah umrah, yang kalau diurutkan adalah umrah yang ketiga.

4. Umrah Keempat

  • Tahun Kesepuluh Hijriyah

Sedangkan umrah
yang keempat atau yang terakhir, adalah umrah yang beliau lakukan bersamaan
dengan pelaksanaan ibadah haji. Peristiwa itu terjadi di tahun kesepuluh
hijriyah, atau tahun terakhir masa hidup Rasulullah SAW.

Umrah ini
dilakukan bersamaan dengan ibadah haji. Sebagian kalangan menyebutkan bahwa
Rasulullah SAW berhaji dengan cara tamattu’, sebagian lagi berhaji dengan
Qiran, dan ada juga yang berpendapat bahwa beliau berhaji dengan cara Ifrad.

  • Haji Perpisahan

Diriwayatkan saat
itu Rasulullah SAW melakukan haji dan berangkat dari kota Madinah
Al-Munawwarah. Salah satu riwayat menyebutkan bahwa orang-orang yang mendengar
khutbah di padang Arafah saat itu tidak kurang dari 124.000 sahabat.

Pada saat itu
turun ayat yang menyatakan bahwa agama Islam telah turun secara sempurna,
kenikmatan Allah SWT juga sudah paripurna, serta dinyatakan bahwa agama yang
diridhai Allah SWT hanyalah agama Islam.

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu,
dan teah Kucukupkan kepadamu ni’matKu, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama
bagimu.”
(QS. Al-Maidah, ayat 3)

Tidak lama setelah
peristiwa Haji Wada’ ini, Rasulullah SAW kemudian dipanggil kembali ke sisi
Allah SWT dalam usia 63 tahun menurut perhitungan tahun qamariyah, atau 61
tahun menurut tahun syamsiyah.

Seolah-olah
peristiwa ibadah haji ini menjadi momentum terakhir pertemuan beliau SAW dengan
umatnya. Maka, peristiwa ini di kemudian hari dijuluki Haji Wada’, artinya haji
perpisahan.

Haji perpisahan
bukan bermakna haji yang terakhir, karena beliau SAW memang hanya sekali saja
melakukan ibadah haji dalam seumur hidupnya. Maka, haji beliau itu adalah haji
pertama, haji terakhir, dan haji satu-satunya. Beliau tidak pernah
memperbaharui ibadah haji seperti yang banyak dilakukan orang.

Haji perpisahan
adalah sebuah moementum perpisahan antara beliau SAW dengan para sahabatnya,
yang kejadiannya pada saat berlangsungnya ibadah haji di tahun kesepuluh sejak
beliau hijrah dari Mekkah, atau tahun keduapuluhtiga sejak beliau diangkat
resmi menjadi utusan Allah.

TAHUN UMRAH KETERANGAN
6 H Pertama Gagal dan kembali ke Madinah
7 H Kedua Diizinkan selama tiga hari
8 H Ketiga Bersamaan dengan Fathu Mekkah
9 H Tidak mengadakan umrah
10 H Keempat Bersamaan dengan Haji Wada’

Artikel ini telah mengalami penyesuaian dan disadur dari Buku Seri Fiqih Kehidupan Jilid 6 : Haji & Umrah, halaman 235-242. Disusun oleh Ustadz Ahmad Sarwat, Lc., MA

By : Kabilah Tour Mudah, Aman & Berkah

kabilah

KABILAH TOUR adalah Perusahaan yang telah memiliki legalitas PT (Perseroan Terbatas ) yang bergerak di bidang jasa Biro Perjalanan Wisata.Melayani promo paket umroh yang Mudah, Aman Dan Berkah hub: 022-5233562 / 081290007941, Jalan Leuwipanjang No.32B Kota Bandung 40234 kunjungi:http://www.kabilahtour.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published.