Wisata Ziarah Menurut Al-Qur’an

Ada dua aspek yang
diharapkan dapat dibahas dalam masalah ini: pertama,
dasar legitimasi mengenai kedudukan wisata ziarah menurut pandangan Islam; dan kedua, wisata ziarah yang dimungkinkan
sebagai media dakwah dan syi’ar agama.

Untuk itu, baiklah
terlebih dahulu kita akan menoleh kepada Al-Qur’an dan hadits guna mendapatkan pandangannya
tentang wisata.

Pandangan Al-Qur’an tentang Wisata

Alam raya dan
segala isinya, demikian juga teks-teks redaksi Al-Qur’an, dinamai oleh Allah
SWT sebagai “ayat-ayat Allah”. Sementara ulama, dalam rangka membedakannya,
menamai yang pertama sebagai ayat
kawniyyah
dan yang kedua sebagai ayat
qur’aniyyah
.

Secara harfiah,
“ayat” berarti “tanda” dalam arti rambu-rambu perjalanan menuju Allah SWT, atau
bukti-bukti keesaan dan kekuasaan Allah SWT. “Tanda” tersebut tidak dapat
difungsikan dengan baik sebagai “tanda” kecuali apabila didengar dan atau
dipandang, baik dengan mata hati maupun dengan mata kepala. Karena itu, dalam
Al-Qur’an ditemukan sekian banyak perintah Allah yang berkaitan dengan
pemfungsian tanda-tanda tersebut. Khusus yang menyangkut pandangan, tidak
kurang dari tujuh ayat yang mengaitkan langsung perintah memandang itu dengan
perjalanan, seperti misalnya, ayat Berjalanlah
di bumi dan lihatlah…..
Bahkan al-saihun
(wisatawan) yang melakukan perjalanan dalam rangka memperoleh ‘ibrat (pelajaran dan pengajaran),
dipuji oleh Al-Qur’an berbarengan dengan pujiannya kepada orang-orang yang
bertaubat, mengabdi, memuji Allah, ruku’ dan sujud, memerintahkan kepada
kebaikan dan mencegah kemungkaran serta memelihara ketetapan-ketetapan Allah
(QS 9:112).

Kata al-saihun terambil dari kata siyahah yang secara populer diartikan wisata. Kata ini mengandung arti penyebaran. Karena itu, dari kata
tersebut dibentuk kata sahat yang
berarti lapangan yang luas.1 Sementara ulama ingin membatasi
pengertian kata tersebut, bahkan mengartikannya dalam ayat di atas dengan
pengertian metafor seperti “puasa”.2 tetapi, apa yang mereka lakukan
itu, dinilai tidak mempunyai dasar yang kuat.

Muhammad
Jamaluddin Al-Qasimiy (1866-1914) menguraikan dalam tafsirnya bahwa arti siyahah adalah perjalanan wisata; karena
menurutnya cukup banyak bukti dan indikator dari ayat Al-Qur’an yang mendukung
arti tersebut. Pakar Al-Qur’an tersebut menjelaskan sebagai berikut: “Saya
telah menemukan sekian banyak pakar yang berpendapat bahwa Kitab Suci
memerintahkan manusia agar mengorbankan sebagian dari (masa) hidupnya untuk
melakukan wisata dan perjalanan, agar ia dapat menemukan
peninggalan-peninggalan lama, mengetahui kabar berita umat-umat terdahulu, agar
semua itu dapat menjadi pelajaran dan ‘ibrat,
yang dengannya dapat diketuk dengan keras otak-otak yang beku.”3

Perlu
digarisbawahi bahwa pendapat di atas menekankan perlunya wisata walaupun dalam
bentuk pengorbanan. Ini berarti bahwa perjalanan yang tidak mengandung
pengorbanan lebih dianjurkan lagi, dan bahwa tujuan wisata antara lain adalah
untuk memperluas wawasan, atau apa yang diistilahkan oleh Al-Qasimiy, “diketuk
dengan keras otak-otak yang membeku”. Memang sah saja, jika kata saih di atas diterjemahkan dengan
“wisatawan”; karena kata itu juga berarti “air yang terus-menerus mengalir di
tempat yang luas dan tidak pernah membeku”.

Muhammad Rasyid
Ridha (1865-1935) menulis: “Kelompok sufi mengkhususkan arti al-saihun yang dipuji itu adalah mereka
yang melakukan perjalanan di muka bumi dalam rangka mendidik kehendak dan
memperhalus jiwa mereka”.4

Mufasir terkenal,
Fakhrudin Al-Raziy (1149-1209), menulis: “perjalanan wisata mempunyai dampak
yang sangat besar dalam rangka menyempurnakan jiwa manusia. Karena, dengan
perjalanan itu, ia mungkin memperoleh kesulitan dan kesukaran dan ketika itu ia
mendidik jiwanya untuk bersabar. Mungkin juga ia menemui orang-orang terkemuka,
sehingga ia dapat memperoleh dari mereka hal-hal yang tidak dimilikinya. Selain
itu, ia juga dapat menyaksikan aneka ragam perbedaan ciptaan Allah. Walhasil,
perjalanan wisata mempunyai dampak yang kuat dalam kehidupan beragama
seseorang.”5

Wanita dan Wisata

Jangan diduga
bahwa perjalanan yang dianjurkan itu hanya terbatas pada kaum pria. Al-Qu’ran
menjadikan pula salah satu ciri wanita yang baik, bahkan yang wajar jadi
pendamping Nabi SAW adalah mereka yang melakukan perjalanan wisata, kalau dalam
surah At-Taubah, Al-Qur’an menyebutkan wisatawan pria (al-saihun), maka secara khusus dalam ayat 5 surat At-Tahrim
dipergunakan istilah saihat, yakni
wisatawan wanita.

Dalam hal ini,
menarik sekali apa yang ditulis oleh Al-Qasimiy bahwa mereka yang membatasi
wisata bagi pria, “seakan-akan menganggap bahwa udara terbuka dikhususkan untuk
selain wanita, atau seakan-akan mereka tidak diciptakan kecuali untuk dikurung
di dalam rumah.”6

Selanjutnya,
Al-Qasimiy menulis pula bahwa Rasul sendiri seringkali mengundi siapakah di
antara istri beliau yang akan bepergian bersama beliau. Hal itu menunjukkan
bahwa wisata bagi kaum hawa adalah sesuatu yang dibenarkan agama.

Tujuan Wisata yang Dibenarkan Agama

Perjalanan mubah (yang tidak mengakibatkan dosa)
dibenarkan oleh agama. Bahkan mereka yang melakukannya mendapat keringanan
dalam bidang kewajiban agama, seperti kebolehan menunda puasanya, atau
menggabung dan mempersingkat raka’at shalatnya. Tetapi yang terpuji, dari satu
perjalanan, adalah yang sifatnya seperti apa yang ditegaskan dalam salah satu
ayat yang memerintahkan melakukan perjalanan, yaitu: “Maka apakah mereka (tidak sadar) sehingga (seharusnya) mereka berjalan
di muka bumi lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami,
atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena
sesungguhnya yang buta bukan mata, tetapi yang buta adalah hati yang ada di
dalam dada.”
(QS, 22:46)

Di samping itu,
dari wisata, Al-Qur’an juga mengharapkan agar manusia memperoleh manfaat dari
sejarah pribadi atau bangsa-bangsa (QS, 40:21) serta mengenal alam ini dengan
segala keindahan dan seninya sebagaimana diisyaratka oleh firman Allah dalam
surah Al-‘Ankabut ayat 20: “Katakanlah
Hai Muhammad! Berjalanlah di bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah memulai
penciptaan.”

Tidak kurang
pentingnya dalam rangka perjalanan itu, adalah adanya peluang yang terbuka
untuk memperoleh rezeki Tuhan, sebagaimana diisyaratkan oleh banyak ayat
Al-Qur’an, antara lain dalam surah Al-Muzzammil ayat 20.

Wisata Ziarah

Setelah
menguraikan pandangan Islam tentang wisata secara umum, kini kita beralih untuk
membahas wisata ziarah secara khusus.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan
bahwa ziarah adalah “kunjungan ke tempat-tempat yang dianggap keramat (atau
mulia, makam, dan sebagainya).”7 Memang, kata “ziarah” oleh
Al-Qur’an dikaitkan dengan kuburan, yaitu dalam ayat pertama surah At-Takatsur.
Kalau di atas telah digambarkan pandangan Al-Qur’an tentang wisata secara umum,
maka pada hakikatnya gambaran tersebut dapat mencakup juga wisata ziarah.

Negeri Islam,
secara umum, dikenal sebagai “negeri makam”. Di mana-mana, seperti di Timur
Tengah (Mesir, Irak, Syria, Turki, Iran, dan sebagainya – kecuali Saudi
Arabia), terlihat makam dengan kubah-kubahnya menjulang ke atas. Di Maroko dan
Tunis juga terdapat kuburan (makam-makam) yang diziarahi.

Dalam hadis
dinyatakan bahwa suatu ketika pernah Nabi SAW melarang umat Islam berkunjung ke
kuburan. Agaknya hal ini disebabkan karena Nabi SAW khawatir mereka
mengultuskan kuburan, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan
Nasrani. Tetapi, setelah kaum Muslim menghayati arti tauhid dan larangan
syirik, kekhawatiran tersebut menjadi sirna, dan ketika itu Nabi SAW
memperbolehkan bahkan menganjurkan ziarah kubur. “Ziarahilah kubur, karena hal tersebut dapat mengingatkan kalian kepada
akhirat.”
(Hadis Riwayat Ibnu Majah).

Memang,
menyaksikan kuburan akan dapat melembutkan hati dan menyadarkan manusia tentang
akhir perjalanan hidupnya di dunia ini. Pada hakikatnya, tidak ada perbedaan
pendapat ulama tentang kebolehan berziarah kubur. Larangan yang dinyatakan oleh
sementara ulama – khususnya pada makam-makam yang dikeramatkan – hanya karena
adanya kekhawatiran yang disebutkan di atas.

Untuk mendudukkan
persoalan di atas, ada baiknya pula kita merujuk kepada Al-Qur’an yang antara
lain memuji orang-orang yang memuliakan syiar-syiar
Allah
(QS, 22:32). Apakah yang dimaksud dengan istilah tersebut? Kata syiar berarti tanda. Jadi, syiar-syiar agama adalah “tanda-tanda agama Allah”.

Al-Qurthubiy,
dalam tafsirnya, menjelaskan bahwa “Syiar-syiar Allah adalah tempat-tempat dan
tanda-tanda ibadah-Nya”.8

Unta yang
dikurbankan pada musim haji, Shafa dan Marwah tempat melakukan sa’I, Muzdalifah, dan masih banyak lagi
yang lain, merupakan syiar-syiar (tanda-tanda) agama Allah. “Apabila unta yang
karena sudah ditentukan untuk disembelih di sisi Baitullah, menjadi bagian dari
syiar-syiar Allah, dan karenanya harus diagungkan dan dihormati, mengapa para
nabi, ulama, ilmuwan, syuhada, dan para pejuang yang sejak hari-hari pertama
dalam kehidupannya telah ‘mengalungkan’ niat penghambaan kepada Allah dan
berkhidmat kepada agama-Nya, tidak dikatakan sebagai bagian dari syiar-syiar
Allah dan tidak berhak untuk diagungkan dan dihormati sesuai dengan derajat
mereka pada hidup dan matinya? Jika Ka’bah, Shafa, Marwah, Mina, dan Arafah
yang semuanya adalah benda-benda mati dan tidak lebih dari batu dan lumpur,
dikarenakan kaitannya dengan agama Allah, merupakan bagian dari syiar-syiar
Allah dan semuanya harus diagungkan dan dihormati sesuai dengan kondisinya,
maka mengapa para wali yang merupakan penyebar agama Allah tidak dikaitkan
sebagai bagian dari syiar-syiar-Nya?”9

Masjid-masjid dan
tempat bersejarah yang wajar untuk dihormati dapat merupakan bagian dari
syiar-syiar Allah, bahkan secara populer perayaan-perayaan keagamaan yang kita
laksanakan dapat menjadi bagian dari syiar-syiar Allah. Kalau demikian, selama
penghormatan tersebut masih dalam batas yang wajar, serta tidak mengantar
krpada syirik (mempersekutukan Tuhan), maka wisata yang ebrtujuan ziarah itu,
dapat dibenarkan.

Menurut hemat
penulis, jangankan berziarah ke makam mulia, berkunjung ke tempat tokoh-tokoh
kedurhakaan pun tidak terlarang, bahkan dianjurkan jika kunjungan tersebut
dapat membawa dampak positif dalam jiwa pengunjungnya. Benar bahwa ada ulama
yang melarang hal terakhir ini, berdasarkan firman Allah dalam surah At-Taubah
ayat 84: “Janganlah sekali-kali shalat
jenazah terhadap salah seorang di antara mereka dan jangan pula kamu berdiri di
kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka
mati dalam keadaan fasiq.”

Yang menjadi fokus
bahasan kita adalah “jangan berdiri di kuburnya”. Apakah larangan ini merupakan
larangan berdiri secara mutlak ataukah berdiri dengan maksud-maksud tertentu?
Rasyid Ridha menulis dalam Tafsir-nya: “Arti ‘jangan berdiri’ adalah jangan
berdiri di kuburannya pada saat yang bersangkutan dikuburkan untuk
mendo’akannya dengan doa al-tasbit10
sebagaimana berdo’a dan berdiri terhadap orang-orang mukmin.”11
Selanjutnya, Ridha menulis: “Kami tidak mengetahui sesuatu dari Al-Sunnah
tentang arti ‘berdiri’ selain dari arti tersebut.”12

Dalam riwayat
Bukhari, Nabi SAW pernah berdiri ketika jenazah seorang Yahudi berlalu di
hadapan beliau. Fir’aun yang diselamatkan oleh Allah badannya dinyatakan oleh
Al-Qur’an sebagai bertujuan “agar menjadi ayat bagi yang datang kemudian” (QS,
10:92). Dalam hal ini, kembali kita berkata bahwa “tanda” tersebut tidak dapat
berfungsi dengan baik kecuali bila dilihat dengan pandangan mata dan pandangan
hati. Penyelamatan badan tersebut, tentu antara lain, tujuannya adalah agar
dilihat dengan pandangan mata. Apakah memandangnya harus dengan duduk?

Dakwah dan Wisata Ziarah

Makam-makam yang
biasa diziarahi adalah makam orang-orang yang semasa hidupnya membawa misi
kebenaran dan kesejateraan untuk masyarakat dan atau kemanusiaan. Makam-makam
itu adalah:

  1. Para nabi, yang menyampaikan pesan-pesan Tuhan dan yang berjuang untuk
    mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju terang benderang.
  2. Para ulama (ilmuwan) yang memperkenalkan ayat-ayat Tuhan, baik kawniyyah, maupun Qur’aniyyah, khususnya mereka yang dalam kehidupan kesehariannya
    telah memberikan teladan yang baik.
  3. Para pahlawan (syuhada) yang
    telah mengurbankan jiwa dan raganya dalam rangka memperjuangkan kemerdekaan,
    keadilan, dan kebebasan.

Adapun wisata ke
masjid-masjid, secara tegas, Al-Qur’an menyatakan bahwa memakmurkan masjid
merupakan salah satu ciri orang yang beriman (QS, 9:18). Kata “memakmurkan”
yang digunakan oleh ayat yang ditunjuk itu, tidak terbatas pengertiannya pada membangun, memelihara, dan shalat, tetapi mencakup pula berkunjung ke masjid-masjid.13

Benar bahwa
terdapat suatu hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, dan lain-lainnya
yang menyatakan: “Tidak diikat bekal
kecuali untuk mengunjungi tiga masjid, yaitu Masjid Al-Haram, masjidku (di
Madinah), dan Masjid Al-Aqsha.”
Tetapi, hadis ini bermaksud menekankan
keutamaan ketiga masjid tersebut, bukan berarti melarang berkunjung ke
masjid-masjid yang lain. “Nabi SAW
sendiri, bersama sekian banyak sahabat, setiap hari Sabtu berkunjung ke Masjid
Quba’ di Madinah,”
demikian ditemukan dalam riwayat Bukhari.

Dalam hal ini,
Imam Al-Ghazali menulis dalam Ihya’ ‘Ulum
Al-Din, “
Bagian kedua bepergian adalah bepergian untuk ibadat, seperti
untuk jihad di jalan Allah, haji, ziarah makam para nabi, sahabat dan tabi’in
serta para wali. Setiap orang yang ziarah kepadanya semasa hidup mereka
mendapat berkah, begitu pula setelah kematian mereka. Mengikat bekal bepergian
untuk tujuan tersebut tidak terlarang, serta tidak bertentangan dengan hadits
yang melarang bepergian ke selain tiga masjid yang disebut dalam hadis
tersebut.”14

Dalam rangka
menjadikan ziarah ke makam-makam dan tempat-tempat tersebut mempunyai nilai
dakwah, maka butir-butir berikut harus dapat menjadi perhatian utama:

  1. Hendaknya ziarah tersebut, tidak mengantarkan kepada hal-hal yang
    bertentangan dengan budaya dan agama, apalagi mengakibatkan pengkultusan
    pemilik makam yang mengarah kepada syirik.
  2. Hendaknya dapat ditumbuhkan rasa kagum dan hormat terhadap jasa-jasa
    pemilik makam, atau pemrakarsa bangunan bersejarah. Hal ini tentunya baru dapat
    terlaksana apabila dalam melaksanakan ziarah tersebut, para pengunjung dapat
    mengetahui peranan mereka ketika hidup. Suasana yang menyertai kunjungan pun
    harus dibuat sedemikian rupa, sehingga membantu terciptanya rasa hormat
    tersebut.
  3. Hendaknya dijelaskan pokok-pokok ajaran dan pandangan-pandangan keagamaan
    yang diyakini oleh pemilik makam, dan atau nilai-nilai perjuangan mereka,
    sehingga melahirkan wawasan keagamaan serta kebangsaan yang luas.

Salah satu
konsekuensi dari penerapan butir-butir di atas adalah keharusan hadirnya para
pemandu yang bertugas bukan sekedar menjelaskan seluk-beluk sejarah, keadaan,
dan sifat-sifat objek wisata yang dikunjungi, tetapi juga menggugah hati para
wisatawan. Dengan begitu, mereka tentu akan dapat menarik pelajaran yang pada
gilirannya mengantarkan kepada kesadaran akan arti hidup ini.

Artikel ini sudah mengalami penyesuaian
konten dan
disadur
dari Buk
u “Membumikan”
Al-Qur’an : Fungsi dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat, halaman 3
50-356. Disusun oleh Prof. Dr. Muhammad Quraish
Shihab, MA

__________________________________________________________________________

1 Al-Raghib Al-Asfahani, Mu’jam Al-Mufradat fi Gharif Al-Qur’an, Dar
Al-Fikr, Beirut, t.t. h. 253.

2 Ibid.,
lihat juga Al-Qurthubi, Ahkam Al-Qur’an,
Dar Al-Katib Al-Arabiy, Kairo, 1967, Jilid VIII, h. 269.

3 Jamaluddin Al-Qasimiy, Mahasin At-Ta’wil, Al-Halabiy, Kairo,
1958, Jilid VIII, h. 3.276.

4 Muhammad Rasyid Ridha, Tafsir Al-Manar, Percetakan Al-Manar,
Kairo, Cet. II, 1953, Jilid XI, h. 53.

5 Lihat Al-Qasimiy, loc cit.

6 Al-Qasimiy, op cit., Jilid XCI, h. 5.865.

7 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai
Pustaka, Cet. I, 1988, h. 1.018.

8 Al-Qurthubi, op cit., Jilid II, h. 180.

9 Syaikh Ja’far Subhaniy, Al-Wahabiyah fi Al-Mizan, diterjemahkan
ke dalam Bahasa Indonesia oleh Zahir dengan judul Tawassul, Tabarruk, Ziarah Kubur, Keramat Wali, Pustaka Al-Hidayah,
Jakarta, 1989, h.11.

10 Al-tasbit
adalah “ketabahan dan kemantapan dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan di
alam akhirat.”

11 Muhammad Rasyid Ridha, op cit., Jilid X, h. 360.

12 Ibid.

13 Lihat Al-Raghib Al-Asfahani, op cit., h. 360.

14 Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum Al-Din, Dar Al-Ma’rifah, Beirut, t.t. Jilid II, h. 247.

By : Kabilah Tour Mudah, Aman & Berkah

kabilah

KABILAH TOUR adalah Perusahaan yang telah memiliki legalitas PT (Perseroan Terbatas ) yang bergerak di bidang jasa Biro Perjalanan Wisata.Melayani promo paket umroh yang Mudah, Aman Dan Berkah hub: 022-5233562 / 081290007941, Jalan Leuwipanjang No.32B Kota Bandung 40234 kunjungi:http://www.kabilahtour.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published.