fbpx
2 views

Wisata Ziarah Menurut Al-Qur’an

Ada dua aspek yang diharapkan dapat dibahas dalam masalah ini: pertama, dasar legitimasi mengenai kedudukan wisata ziarah menurut pandangan Islam; dan kedua, wisata ziarah yang dimungkinkan sebagai media dakwah dan syi’ar agama.

Untuk itu, baiklah terlebih dahulu kita akan menoleh kepada Al-Qur’an dan hadits guna mendapatkan pandangannya tentang wisata.

Pandangan Al-Qur’an tentang Wisata

Alam raya dan segala isinya, demikian juga teks-teks redaksi Al-Qur’an, dinamai oleh Allah SWT sebagai “ayat-ayat Allah”. Sementara ulama, dalam rangka membedakannya, menamai yang pertama sebagai ayat kawniyyah dan yang kedua sebagai ayat qur’aniyyah.

Secara harfiah, “ayat” berarti “tanda” dalam arti rambu-rambu perjalanan menuju Allah SWT, atau bukti-bukti keesaan dan kekuasaan Allah SWT. “Tanda” tersebut tidak dapat difungsikan dengan baik sebagai “tanda” kecuali apabila didengar dan atau dipandang, baik dengan mata hati maupun dengan mata kepala. Karena itu, dalam Al-Qur’an ditemukan sekian banyak perintah Allah yang berkaitan dengan pemfungsian tanda-tanda tersebut. Khusus yang menyangkut pandangan, tidak kurang dari tujuh ayat yang mengaitkan langsung perintah memandang itu dengan perjalanan, seperti misalnya, ayat Berjalanlah di bumi dan lihatlah….. Bahkan al-saihun (wisatawan) yang melakukan perjalanan dalam rangka memperoleh ‘ibrat (pelajaran dan pengajaran), dipuji oleh Al-Qur’an berbarengan dengan pujiannya kepada orang-orang yang bertaubat, mengabdi, memuji Allah, ruku’ dan sujud, memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran serta memelihara ketetapan-ketetapan Allah (QS 9:112).

Kata al-saihun terambil dari kata siyahah yang secara populer diartikan wisata. Kata ini mengandung arti penyebaran. Karena itu, dari kata tersebut dibentuk kata sahat yang berarti lapangan yang luas.1 Sementara ulama ingin membatasi pengertian kata tersebut, bahkan mengartikannya dalam ayat di atas dengan pengertian metafor seperti “puasa”.2 tetapi, apa yang mereka lakukan itu, dinilai tidak mempunyai dasar yang kuat.

Muhammad Jamaluddin Al-Qasimiy (1866-1914) menguraikan dalam tafsirnya bahwa arti siyahah adalah perjalanan wisata; karena menurutnya cukup banyak bukti dan indikator dari ayat Al-Qur’an yang mendukung arti tersebut. Pakar Al-Qur’an tersebut menjelaskan sebagai berikut: “Saya telah menemukan sekian banyak pakar yang berpendapat bahwa Kitab Suci memerintahkan manusia agar mengorbankan sebagian dari (masa) hidupnya untuk melakukan wisata dan perjalanan, agar ia dapat menemukan peninggalan-peninggalan lama, mengetahui kabar berita umat-umat terdahulu, agar semua itu dapat menjadi pelajaran dan ‘ibrat, yang dengannya dapat diketuk dengan keras otak-otak yang beku.”3

Perlu digarisbawahi bahwa pendapat di atas menekankan perlunya wisata walaupun dalam bentuk pengorbanan. Ini berarti bahwa perjalanan yang tidak mengandung pengorbanan lebih dianjurkan lagi, dan bahwa tujuan wisata antara lain adalah untuk memperluas wawasan, atau apa yang diistilahkan oleh Al-Qasimiy, “diketuk dengan keras otak-otak yang membeku”. Memang sah saja, jika kata saih di atas diterjemahkan dengan “wisatawan”; karena kata itu juga berarti “air yang terus-menerus mengalir di tempat yang luas dan tidak pernah membeku”.

Muhammad Rasyid Ridha (1865-1935) menulis: “Kelompok sufi mengkhususkan arti al-saihun yang dipuji itu adalah mereka yang melakukan perjalanan di muka bumi dalam rangka mendidik kehendak dan memperhalus jiwa mereka”.4

Mufasir terkenal, Fakhrudin Al-Raziy (1149-1209), menulis: “perjalanan wisata mempunyai dampak yang sangat besar dalam rangka menyempurnakan jiwa manusia. Karena, dengan perjalanan itu, ia mungkin memperoleh kesulitan dan kesukaran dan ketika itu ia mendidik jiwanya untuk bersabar. Mungkin juga ia menemui orang-orang terkemuka, sehingga ia dapat memperoleh dari mereka hal-hal yang tidak dimilikinya. Selain itu, ia juga dapat menyaksikan aneka ragam perbedaan ciptaan Allah. Walhasil, perjalanan wisata mempunyai dampak yang kuat dalam kehidupan beragama seseorang.”5

Wanita dan Wisata

Jangan diduga bahwa perjalanan yang dianjurkan itu hanya terbatas pada kaum pria. Al-Qu’ran menjadikan pula salah satu ciri wanita yang baik, bahkan yang wajar jadi pendamping Nabi SAW adalah mereka yang melakukan perjalanan wisata, kalau dalam surah At-Taubah, Al-Qur’an menyebutkan wisatawan pria (al-saihun), maka secara khusus dalam ayat 5 surat At-Tahrim dipergunakan istilah saihat, yakni wisatawan wanita.

Dalam hal ini, menarik sekali apa yang ditulis oleh Al-Qasimiy bahwa mereka yang membatasi wisata bagi pria, “seakan-akan menganggap bahwa udara terbuka dikhususkan untuk selain wanita, atau seakan-akan mereka tidak diciptakan kecuali untuk dikurung di dalam rumah.”6

Selanjutnya, Al-Qasimiy menulis pula bahwa Rasul sendiri seringkali mengundi siapakah di antara istri beliau yang akan bepergian bersama beliau. Hal itu menunjukkan bahwa wisata bagi kaum hawa adalah sesuatu yang dibenarkan agama.

Tujuan Wisata yang Dibenarkan Agama

Perjalanan mubah (yang tidak mengakibatkan dosa) dibenarkan oleh agama. Bahkan mereka yang melakukannya mendapat keringanan dalam bidang kewajiban agama, seperti kebolehan menunda puasanya, atau menggabung dan mempersingkat raka’at shalatnya. Tetapi yang terpuji, dari satu perjalanan, adalah yang sifatnya seperti apa yang ditegaskan dalam salah satu ayat yang memerintahkan melakukan perjalanan, yaitu: “Maka apakah mereka (tidak sadar) sehingga (seharusnya) mereka berjalan di muka bumi lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami, atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya yang buta bukan mata, tetapi yang buta adalah hati yang ada di dalam dada.” (QS, 22:46)

Di samping itu, dari wisata, Al-Qur’an juga mengharapkan agar manusia memperoleh manfaat dari sejarah pribadi atau bangsa-bangsa (QS, 40:21) serta mengenal alam ini dengan segala keindahan dan seninya sebagaimana diisyaratka oleh firman Allah dalam surah Al-‘Ankabut ayat 20: “Katakanlah Hai Muhammad! Berjalanlah di bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah memulai penciptaan.”

Tidak kurang pentingnya dalam rangka perjalanan itu, adalah adanya peluang yang terbuka untuk memperoleh rezeki Tuhan, sebagaimana diisyaratkan oleh banyak ayat Al-Qur’an, antara lain dalam surah Al-Muzzammil ayat 20.

Wisata Ziarah

Setelah menguraikan pandangan Islam tentang wisata secara umum, kini kita beralih untuk membahas wisata ziarah secara khusus.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa ziarah adalah “kunjungan ke tempat-tempat yang dianggap keramat (atau mulia, makam, dan sebagainya).”7 Memang, kata “ziarah” oleh Al-Qur’an dikaitkan dengan kuburan, yaitu dalam ayat pertama surah At-Takatsur. Kalau di atas telah digambarkan pandangan Al-Qur’an tentang wisata secara umum, maka pada hakikatnya gambaran tersebut dapat mencakup juga wisata ziarah.

Negeri Islam, secara umum, dikenal sebagai “negeri makam”. Di mana-mana, seperti di Timur Tengah (Mesir, Irak, Syria, Turki, Iran, dan sebagainya – kecuali Saudi Arabia), terlihat makam dengan kubah-kubahnya menjulang ke atas. Di Maroko dan Tunis juga terdapat kuburan (makam-makam) yang diziarahi.

Dalam hadis dinyatakan bahwa suatu ketika pernah Nabi SAW melarang umat Islam berkunjung ke kuburan. Agaknya hal ini disebabkan karena Nabi SAW khawatir mereka mengultuskan kuburan, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani. Tetapi, setelah kaum Muslim menghayati arti tauhid dan larangan syirik, kekhawatiran tersebut menjadi sirna, dan ketika itu Nabi SAW memperbolehkan bahkan menganjurkan ziarah kubur. “Ziarahilah kubur, karena hal tersebut dapat mengingatkan kalian kepada akhirat.” (Hadis Riwayat Ibnu Majah).

Memang, menyaksikan kuburan akan dapat melembutkan hati dan menyadarkan manusia tentang akhir perjalanan hidupnya di dunia ini. Pada hakikatnya, tidak ada perbedaan pendapat ulama tentang kebolehan berziarah kubur. Larangan yang dinyatakan oleh sementara ulama – khususnya pada makam-makam yang dikeramatkan – hanya karena adanya kekhawatiran yang disebutkan di atas.

Untuk mendudukkan persoalan di atas, ada baiknya pula kita merujuk kepada Al-Qur’an yang antara lain memuji orang-orang yang memuliakan syiar-syiar Allah (QS, 22:32). Apakah yang dimaksud dengan istilah tersebut? Kata syiar berarti tanda. Jadi, syiar-syiar agama adalah “tanda-tanda agama Allah”.

Al-Qurthubiy, dalam tafsirnya, menjelaskan bahwa “Syiar-syiar Allah adalah tempat-tempat dan tanda-tanda ibadah-Nya”.8

Unta yang dikurbankan pada musim haji, Shafa dan Marwah tempat melakukan sa’I, Muzdalifah, dan masih banyak lagi yang lain, merupakan syiar-syiar (tanda-tanda) agama Allah. “Apabila unta yang karena sudah ditentukan untuk disembelih di sisi Baitullah, menjadi bagian dari syiar-syiar Allah, dan karenanya harus diagungkan dan dihormati, mengapa para nabi, ulama, ilmuwan, syuhada, dan para pejuang yang sejak hari-hari pertama dalam kehidupannya telah ‘mengalungkan’ niat penghambaan kepada Allah dan berkhidmat kepada agama-Nya, tidak dikatakan sebagai bagian dari syiar-syiar Allah dan tidak berhak untuk diagungkan dan dihormati sesuai dengan derajat mereka pada hidup dan matinya? Jika Ka’bah, Shafa, Marwah, Mina, dan Arafah yang semuanya adalah benda-benda mati dan tidak lebih dari batu dan lumpur, dikarenakan kaitannya dengan agama Allah, merupakan bagian dari syiar-syiar Allah dan semuanya harus diagungkan dan dihormati sesuai dengan kondisinya, maka mengapa para wali yang merupakan penyebar agama Allah tidak dikaitkan sebagai bagian dari syiar-syiar-Nya?”9

Masjid-masjid dan tempat bersejarah yang wajar untuk dihormati dapat merupakan bagian dari syiar-syiar Allah, bahkan secara populer perayaan-perayaan keagamaan yang kita laksanakan dapat menjadi bagian dari syiar-syiar Allah. Kalau demikian, selama penghormatan tersebut masih dalam batas yang wajar, serta tidak mengantar krpada syirik (mempersekutukan Tuhan), maka wisata yang ebrtujuan ziarah itu, dapat dibenarkan.

Menurut hemat penulis, jangankan berziarah ke makam mulia, berkunjung ke tempat tokoh-tokoh kedurhakaan pun tidak terlarang, bahkan dianjurkan jika kunjungan tersebut dapat membawa dampak positif dalam jiwa pengunjungnya. Benar bahwa ada ulama yang melarang hal terakhir ini, berdasarkan firman Allah dalam surah At-Taubah ayat 84: “Janganlah sekali-kali shalat jenazah terhadap salah seorang di antara mereka dan jangan pula kamu berdiri di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasiq.”

Yang menjadi fokus bahasan kita adalah “jangan berdiri di kuburnya”. Apakah larangan ini merupakan larangan berdiri secara mutlak ataukah berdiri dengan maksud-maksud tertentu? Rasyid Ridha menulis dalam Tafsir-nya: “Arti ‘jangan berdiri’ adalah jangan berdiri di kuburannya pada saat yang bersangkutan dikuburkan untuk mendo’akannya dengan doa al-tasbit10 sebagaimana berdo’a dan berdiri terhadap orang-orang mukmin.”11 Selanjutnya, Ridha menulis: “Kami tidak mengetahui sesuatu dari Al-Sunnah tentang arti ‘berdiri’ selain dari arti tersebut.”12

Dalam riwayat Bukhari, Nabi SAW pernah berdiri ketika jenazah seorang Yahudi berlalu di hadapan beliau. Fir’aun yang diselamatkan oleh Allah badannya dinyatakan oleh Al-Qur’an sebagai bertujuan “agar menjadi ayat bagi yang datang kemudian” (QS, 10:92). Dalam hal ini, kembali kita berkata bahwa “tanda” tersebut tidak dapat berfungsi dengan baik kecuali bila dilihat dengan pandangan mata dan pandangan hati. Penyelamatan badan tersebut, tentu antara lain, tujuannya adalah agar dilihat dengan pandangan mata. Apakah memandangnya harus dengan duduk?

Dakwah dan Wisata Ziarah

Makam-makam yang biasa diziarahi adalah makam orang-orang yang semasa hidupnya membawa misi kebenaran dan kesejateraan untuk masyarakat dan atau kemanusiaan. Makam-makam itu adalah:

  1. Para nabi, yang menyampaikan pesan-pesan Tuhan dan yang berjuang untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju terang benderang.
  2. Para ulama (ilmuwan) yang memperkenalkan ayat-ayat Tuhan, baik kawniyyah, maupun Qur’aniyyah, khususnya mereka yang dalam kehidupan kesehariannya telah memberikan teladan yang baik.
  3. Para pahlawan (syuhada) yang telah mengurbankan jiwa dan raganya dalam rangka memperjuangkan kemerdekaan, keadilan, dan kebebasan.

Adapun wisata ke masjid-masjid, secara tegas, Al-Qur’an menyatakan bahwa memakmurkan masjid merupakan salah satu ciri orang yang beriman (QS, 9:18). Kata “memakmurkan” yang digunakan oleh ayat yang ditunjuk itu, tidak terbatas pengertiannya pada membangun, memelihara, dan shalat, tetapi mencakup pula berkunjung ke masjid-masjid.13

Benar bahwa terdapat suatu hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, dan lain-lainnya yang menyatakan: “Tidak diikat bekal kecuali untuk mengunjungi tiga masjid, yaitu Masjid Al-Haram, masjidku (di Madinah), dan Masjid Al-Aqsha.” Tetapi, hadis ini bermaksud menekankan keutamaan ketiga masjid tersebut, bukan berarti melarang berkunjung ke masjid-masjid yang lain. “Nabi SAW sendiri, bersama sekian banyak sahabat, setiap hari Sabtu berkunjung ke Masjid Quba’ di Madinah,” demikian ditemukan dalam riwayat Bukhari.

Dalam hal ini, Imam Al-Ghazali menulis dalam Ihya’ ‘Ulum Al-Din, “Bagian kedua bepergian adalah bepergian untuk ibadat, seperti untuk jihad di jalan Allah, haji, ziarah makam para nabi, sahabat dan tabi’in serta para wali. Setiap orang yang ziarah kepadanya semasa hidup mereka mendapat berkah, begitu pula setelah kematian mereka. Mengikat bekal bepergian untuk tujuan tersebut tidak terlarang, serta tidak bertentangan dengan hadits yang melarang bepergian ke selain tiga masjid yang disebut dalam hadis tersebut.”14

Dalam rangka menjadikan ziarah ke makam-makam dan tempat-tempat tersebut mempunyai nilai dakwah, maka butir-butir berikut harus dapat menjadi perhatian utama:

  1. Hendaknya ziarah tersebut, tidak mengantarkan kepada hal-hal yang bertentangan dengan budaya dan agama, apalagi mengakibatkan pengkultusan pemilik makam yang mengarah kepada syirik.
  2. Hendaknya dapat ditumbuhkan rasa kagum dan hormat terhadap jasa-jasa pemilik makam, atau pemrakarsa bangunan bersejarah. Hal ini tentunya baru dapat terlaksana apabila dalam melaksanakan ziarah tersebut, para pengunjung dapat mengetahui peranan mereka ketika hidup. Suasana yang menyertai kunjungan pun harus dibuat sedemikian rupa, sehingga membantu terciptanya rasa hormat tersebut.
  3. Hendaknya dijelaskan pokok-pokok ajaran dan pandangan-pandangan keagamaan yang diyakini oleh pemilik makam, dan atau nilai-nilai perjuangan mereka, sehingga melahirkan wawasan keagamaan serta kebangsaan yang luas.

Salah satu konsekuensi dari penerapan butir-butir di atas adalah keharusan hadirnya para pemandu yang bertugas bukan sekedar menjelaskan seluk-beluk sejarah, keadaan, dan sifat-sifat objek wisata yang dikunjungi, tetapi juga menggugah hati para wisatawan. Dengan begitu, mereka tentu akan dapat menarik pelajaran yang pada gilirannya mengantarkan kepada kesadaran akan arti hidup ini.

Artikel ini sudah mengalami penyesuaian konten dan disadur dari Buku “Membumikan” Al-Qur’an : Fungsi dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat, halaman 350-356. Disusun oleh Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, MA

__________________________________________________________________________

1 Al-Raghib Al-Asfahani, Mu’jam Al-Mufradat fi Gharif Al-Qur’an, Dar Al-Fikr, Beirut, t.t. h. 253.

2 Ibid., lihat juga Al-Qurthubi, Ahkam Al-Qur’an, Dar Al-Katib Al-Arabiy, Kairo, 1967, Jilid VIII, h. 269.

3 Jamaluddin Al-Qasimiy, Mahasin At-Ta’wil, Al-Halabiy, Kairo, 1958, Jilid VIII, h. 3.276.

4 Muhammad Rasyid Ridha, Tafsir Al-Manar, Percetakan Al-Manar, Kairo, Cet. II, 1953, Jilid XI, h. 53.

5 Lihat Al-Qasimiy, loc cit.

6 Al-Qasimiy, op cit., Jilid XCI, h. 5.865.

7 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Cet. I, 1988, h. 1.018.

8 Al-Qurthubi, op cit., Jilid II, h. 180.

9 Syaikh Ja’far Subhaniy, Al-Wahabiyah fi Al-Mizan, diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Zahir dengan judul Tawassul, Tabarruk, Ziarah Kubur, Keramat Wali, Pustaka Al-Hidayah, Jakarta, 1989, h.11.

10 Al-tasbit adalah “ketabahan dan kemantapan dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan di alam akhirat.”

11 Muhammad Rasyid Ridha, op cit., Jilid X, h. 360.

12 Ibid.

13 Lihat Al-Raghib Al-Asfahani, op cit., h. 360.

14 Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum Al-Din, Dar Al-Ma’rifah, Beirut, t.t. Jilid II, h. 247.

By : Kabilah Tour Mudah, Aman & Berkah

kabilah

KABILAH TOUR adalah Perusahaan yang telah memiliki legalitas PT (Perseroan Terbatas ) yang bergerak di bidang jasa Biro Perjalanan Wisata.Melayani promo paket umroh yang Mudah, Aman Dan Berkah hub: 022-5233562 / 081290007941, Jalan Leuwipanjang No.32B Kota Bandung 40234 kunjungi:http://www.kabilahtour.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published.